<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aan Choto 阿安國德 &#187; Tokoh</title>
	<atom:link href="http://aanchoto.com/category/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aanchoto.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 16:18:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Daniel Balsam, Pembasmi Spam di Internet</title>
		<link>http://aanchoto.com/2011/02/daniel-balsam-pembasmi-spam-di-internet/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2011/02/daniel-balsam-pembasmi-spam-di-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 09:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=1075</guid>
		<description><![CDATA[Siapa juga yang suka dengan spam? Banyak orang di dunia yang geram dengan spam namun hanya segelintir yang mau menghabiskan waktunya untuk menjadi pembasmi spam. Seperti kebanyakan orang kantoran lainnya, Daniel Balsam pun membenci spam. Tidak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih memencet tombol &#8216;delete&#8217; untuk menghapus spam. Balsam lebih memilih untuk menuntut para penyebar&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-1076" title="Daniel Balsam" src="http://aanchoto.com/wp-content/uploads/2011/02/Daniel-Balsam.jpg" alt="" width="250" height="205" />Siapa juga yang suka dengan spam? Banyak orang di dunia yang geram dengan spam namun hanya segelintir yang mau menghabiskan waktunya untuk menjadi pembasmi spam.</p>
<p>Seperti kebanyakan orang kantoran lainnya, Daniel Balsam pun membenci spam. Tidak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih memencet tombol &#8216;delete&#8217; untuk menghapus spam. Balsam lebih memilih untuk menuntut para penyebar spam itu melalui jalur hukum.</p>
<p>Delapan tahun yang lalu, Balsam hanyalah seorang pekerja di bidang pemasaran. Saat menjalani profesi sebagai marketer, Balsam menerima banyak email yang tidak jelas asalnya, tidak jelas isi konten dan judul email yang kebanyakan adalah email promosi, serta yang paling penting adalah dia tidak menginginkan email-email ini sama sekali.<span id="more-1075"></span></p>
<p>Emosi terhadap spam membuat ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, bersekolah hukum, dan membuat sebuah situs bertajuk Danhatesspam.com. Dengan bekal itu semua ia pun menjalani hidup sebagai &#8216;pembasmi spam&#8217;, menuntut semua perusahaan yang membanjiri &#8216;kotak inbox&#8217; surat elektroniknya dengan berbagai email tak penting. Kebanyakan spam email yang masuk berisi promosi dan penawaran terkait obat-obatan berharga murah, seks gratisan, dan paket liburan.</p>
<p>&#8220;Saya seperti seorang pembasmi spam, yang menghabiskan waktu hidup saya untuk membersihkan &#8216;sampah&#8217; di internet,&#8221; ujar Balsam, seperti dikutip melalui Straits Times, Selasa (28/12/2010).</p>
<p>Hingga kini gugatan terkait email spam telah banyak yang dilayangkan oleh Balsam. Tuntutan hukum itu termasuk puluhan gugatan yang masuk sebelum ia lulus sekolah hukum pada 2008. Ia yakin jika email-email spam tersebut telah melanggar hukum antispam.</p>
<p>Meski telah banyak memenangkan kasus spam, banyak analis yang menganggap jika upaya Balsam ini bagaikan &#8216;hujan di tengah laut&#8217;. Pasalnya menurut data yang dikemukakan Cisco System Inc, diperkirakan ada sekira 200 miliar spam email yang beredar setiap harinya. Angka ini sama dengan sekira 90 persen email yang beredar di dunia maya per harinya.</p>
<p>Namun gugatan yang dilayangkan Balsam cukup mampu menghidupi dirinya sendiri selama beberapa tahun belakangan. Bahkan ia berhasil mendapatkan keuntungan sekira USD1 juta atas kemenangannya dalam gugatan kepada beberapa perusahaan yang dituduhnya telah mengirim emai spam ilegal.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2011/02/daniel-balsam-pembasmi-spam-di-internet/&via=aanchoto&text=Daniel Balsam, Pembasmi Spam di Internet&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2011/02/daniel-balsam-pembasmi-spam-di-internet/&via=aanchoto&text=Daniel Balsam, Pembasmi Spam di Internet&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2011/02/daniel-balsam-pembasmi-spam-di-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syeikh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/09/syeikh-sulaiman-arrasuli-inyiak-canduang/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/09/syeikh-sulaiman-arrasuli-inyiak-canduang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 13:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi, lahir di Candung, sekitar 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, 1287 H./1871 M., wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H./1 Agustus 1970 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan madzhab Syafi’i. Tak jarang pula, Beliau dipanggil dengan sebutan “Inyik Candung”. Sulaiman merupakan anak pertama&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aanchoto.com/wp-content/uploads/2010/09/syeikh-sulaiman-arrasuli.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-697" title="syeikh-sulaiman-arrasuli" src="http://aanchoto.com/wp-content/uploads/2010/09/syeikh-sulaiman-arrasuli.jpg" alt="" width="165" height="202" /></a>Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi, lahir di Candung, sekitar 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, 1287 H./1871 M., wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H./1 Agustus 1970 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan madzhab Syafi’i. Tak jarang pula, Beliau dipanggil dengan sebutan “Inyik Candung”. Sulaiman merupakan anak pertama (sulung) dari 2 orang bersaudara. Saudara beliau bernama Lajumin Habib. Ayah beliau ulama besar Minangkabau di masa itu, yaitu Angku Mudo Muhammad Rasul dan ibu beliau bernama Siti Buliah. Beliau adalah tokoh ulama dan pejuang kelahiran 10 Desember 1871 M, bertepatan dengan 1297 H. Tempat kelahiran beliau di daerah Pakan Kamih, Canduang, lebih kurang 11 Km dari Bukittinggi arah ke Payakumbuh<span id="more-694"></span></p>
<p>Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, yang lebih dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syeikh Sulaiman, sejak kecil memperoleh pendidikan awal, terutama dalam bidang pelajaran agama, dari ayahnya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, Sulaiman ar-Rasuli pernah belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada masa itu Masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau dalam bentuk halaqah sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan.</p>
<p><strong>Syekh Sulaiman ar-Rasuliy di Masa Kecil</strong></p>
<p>Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, yang lebih dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syeikh Sulaiman, sejak kecil memperoleh pendidikan awal, terutama dalam bidang pelajaran agama, dari ayahnya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, Sulaiman ar-Rasuli pernah belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada masa itu Masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau dalam bentuk halaqah sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan.</p>
<p>Telah memiliki karakter leadership (kepemimpinan) dan konstruktor (jiwa pembangun). Bersahabat, bermasyarakat dengan sesama masyarakat yang semasa dengannya. Tegas, sopan, dan memiliki moral yang tinggi dan luhur .</p>
<p><strong>Syekh Sulaiman ar-Rasuli di Masa Pendidikan</strong></p>
<p>Pendidikan Dasar Agama Islam dengan belajar membaca al-Qur’an dengan Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi (Kakek Syekh ‘Arifin) pada tahun 1881 M/ 1307 H di Batu Hampar, Payakumbuh.</p>
<p>Pendidikan Ilmu alat dalam menela’ah al-Qur’an, yaitu ilmu nahwu dan ilmu sharaf kepada Syekh Abdushshamad al-Samiak (Tuanku Sami’) di Biaro tahun 1883-1884 M/ 1309-1310 H. Belajar ilmu fiqh dan pemahaman ilmu faraid dengan Tuanku Kolok (Kakek dari orang tua perempuan Prof. Dr. Mahmud Yunus) di Sungayang pada tahun 1885-1886 M/ 1310-1311 H.Kembali belajar dengan Tuanku Sami’ yang baru kembali dari Makkah pada tahun 1886 M/ 1311 H.</p>
<p>Pada tahun yang sama, merupakan awal perkenalannya dengan Yang Mulia Angku Haji Abbas Khadi Landrat Ford de Cock yang pada tahun 1926 membantu proses pembangunan MTI Candung. Selama tujuh tahun, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli belajar di Halaban dengan Syeikh Abdullah Halaban pada tahun 1890-1896 M/ 1315-1321 H, untuk mendalami berbagai disiplin ilmu, yaitu:</p>
<p>Ilmu-ilmu tata bahasa Arab (Ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Balaghah, Ushul Fiqh), Fiqh, Tafsir, Tashauf, dan Tauhid</p>
<p>Pada masa ini, beliau telah menjabat sebagai guru tuo (tutor) yang mewakili sang Syeikh pada saat-saat tertentu. Pada tahun 1896 M/ 1321 H akhir, beliau kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa beberapa orang murid-murid dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari dengan ulama-ulama besar yang telah menimba ilmu pengetahuan di kota suci Makkah. Tahun 1903-1907 M/ 1328-1332 H), beliau berangkat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima</p>
<p>Pernikahan; Ibadah Haji; dan Pengembaraan untuk Mencari dan Mendalami Ilmu Agama Islam (1903-1907 M/ 1328-1332 H)</p>
<p>1 tahun sebelum keberangkatannya ke Makkah, ia telah dijemput jadi menantu sehingga waktu keberangkatannya, meninggalkan istri dengan seorang anak perempuan, yaitu Ruqayyah. Perjalanan Hajinya di bimbing oleh H. Abdurrahman Padang Gantiang dengan melalui jalur laut di Penang.</p>
<p><strong>Pendidikannya di Makkah al-Mukarramah</strong></p>
<p>Mendalami ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya sewaktu di Indonesia dengan para ulama yang disebutkan di atas.</p>
<p>Guru-gurunya adalah:</p>
<p>1.      Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi</p>
<p>2.      Syeikh Mukhtar Azharad al-Shufy</p>
<p>3.      Syeikh Said Ahmad Syatha al-Maky</p>
<p>4.      Syeikh Utsman al-Sirwaqy</p>
<p>5.      Syeikh Muhammad Sa’id Mufty al-Syafi’i</p>
<p>6.      Tokoh-tokoh Ulama yang semasa belajar dengannya di Makkah</p>
<p>7.      Syeikh Abdullah Karim Amarullah</p>
<p>8.      Syeikh Muhammad Jamil Jambek</p>
<p>9.      Syeikh Muhammad Jamil Jaho</p>
<p>10.  Syeikh Abbas Abdullah Ladang Laweh</p>
<p>11.  dll</p>
<p><strong>Kembali ke Kampung Halaman</strong></p>
<p>Permintaan Ibunya, mengharuskannya kembali ke Indonesia. Mendirikan “Surau Baru” sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama pengembaraannya.</p>
<p>Berawalnya masa perjuangan dari segala aspek kehidupan masyarakat, sehingga mulailah ia hidup di dalam berbagai fenomena sosial.</p>
<p><strong>Syeikh Sulaiman ar-Rasuli di Tinjau dari Aspek Pendidikan</strong></p>
<p>Mendirikan Surau Baru, Pakan Kamih, pada tahun 1908 dengan menggunakan sistem halaqah sampai tahun 1927. Mendirikan lembaga pendidikan klasikal di Canduang pada tahun 1928, dan masih eksis sampai sekarang melalui lembaga pendidikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung</p>
<p>Pendidikan Perspektif Syekh Sulaiman ar-Rasuli</p>
<p>Pendidikan adalah suatu proses memanusiakan manusia. Pendidikan sepanjang hayat (long life education). Pendidikan merupakan alat untuk memperoleh keridhaan Allah swt, sehingga materi pendidikan lebih menitik beratkan pada pengkajian agama Islam yang bersumber dari kitab klasik</p>
<p><strong>Karakter Madrasah Tarbiyah Islamiyah dibangun oleh Syeikh Sulaiman ar-Rasuli</strong></p>
<p>1.      Menganut Faham Ahlussunnah wal Jama’ah (dalam kajian Akidah)</p>
<p>2.      Menganut Mazhab Syafi’i (dalam kajian Fiqh)</p>
<p>3.      Mempertahankan pola Halaqah dalam pendalaman kitab kuning disamping pola klasikal dalam PBM secara umum</p>
<p>4.      Memberdayakan Tradisi Mudzakarah (Mempunyai Kebiasaan Kritis, Dialogis, Berfikir Moderat)</p>
<p><strong>Syeikh Sulaiman ar-Rasuli sebagai Tokoh Sosial Keagamaan dan Kemasyarakatan</strong></p>
<p>Tokoh adat Minangkabau yang merekonstruksi dan menetapkan bunyi pepatah:</p>
<p>“Syara’ mangato, adat mamakai; Minangkabau batubuah adat, bajiwa syara’; Pangulu-pangulu salaku juru batu, dan alim ulama salaku kamudi; Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah”</p>
<p>(Bukittinggi, 4-6 Mei 1952; Kongres Ulama, Niniak mamak, dan Cadiak pandai)</p>
<p>Belum diketahui berapa banyak karya tulis yang dibuat oleh Syekh Sulaiman Arrasuli, namun yang baru diketahui ada 9, antara lain :</p>
<p>1.        Dau’u as-Siraj al-Isra wal Mi’raj (Kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah)</p>
<p>2.        Samarat Al-Ihsan fi waldah sayyid al-Ihsan (Cerita tentang nabi-nabi)</p>
<p>3.        Daw’u Al Qulub fi Qissah Yusuf wa Ya’qub (Kisah nabi Yusuf dan Ya’qub)</p>
<p>4.        Risalah Al-Aqwal al-Wasitah fi az-Zikri wa ar-Rabitah (Tasawuf)</p>
<p>5.        Al-Qaul al-Bayan fi Tafsir Al-Quran (Ilmu Tafsir)</p>
<p>6.        Al Jawahir al-Kalamiyah (Usuluddin)</p>
<p>7.        Sabil as-Salamah fi Wirdi Sayyid al-Ummah (Kumpulan doa-doa)</p>
<p>8.        Kisah Muhammad Arif</p>
<p>9.        Perdamaian Agama dan Adat</p>
<p>Penulis buku tentang kajian adat alam Minangkabau, yaitu:</p>
<p>1.        Pedoman Hidup di Minangkabau</p>
<p>2.        Asal dan Pendirian Pangulu</p>
<p>3.        Pertalian Adat dan Syara’</p>
<p>4.        Pedoman Pangulu</p>
<p>Buku-buku ini berisikan tentang tatanan sosial kemasyarakatan Minangkabau</p>
<p>Beberapa penghargaan yang diterima beliau, antara lain :</p>
<p>1.        Bintang Perak Wilhelmina dari Kerajaan Belanda pada tahun 1931</p>
<p>2.        Bintang Sakura dari Kerajaan Jepang pada tahun 1943</p>
<p>3.        Perintis Kemerdekaan dari pemerintah Republik Indonesia (RI) pada tahun 1966</p>
<p>4.        Penghargaan dari NU pada 3 Februari 2008 sebagai salah seorang dari 4 Pemikir Islam di Indonesia, dalam rangka Milad NU ke 82 yang dihadiri oleh Wakil Presiden RI</p>
<p><strong>Kiprahnya Ditinjau dari Aspek Sosial Politik</strong></p>
<p>Ketua Sidang Konstituante pertama pada Pemilu tahun 1955 di Bandung.</p>
<p>1.        Penggagas berdirinya Mahkamah Syari’ah dan sekaligus terpilih sebagai KETUA di wilayah Sumatera Tengah. (1947)</p>
<p>2.        Pencetus berdirinya Majelis Tinggi Islam Minangkabau (1944 )</p>
<p>3.        Pendiri Ittihad al-Ulama (1921-1928 )</p>
<p>4.        Pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (1928 )</p>
<p><strong>Dinamika Pemikirannya dalam bidang ilmu akidah</strong></p>
<p>1.        Mengonsep tatanan akidah yang benar bagi seluruh elemen masyarakat dengan menulis buku “al-Aqwalu al-Mardhiyah” perspektif “ahl al-sunnah wa al-jama’ah”</p>
<p>2.        Membantah kerancuan yang dituduhkan oleh H. Jalal al-Din (salah seorang tokoh yang berpengaruh) tentang kesesatan thariqat al-Naqsabandiyah dengan menulis buku “Tabligh al-amanah”</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/09/syeikh-sulaiman-arrasuli-inyiak-canduang/&via=aanchoto&text=Syeikh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/09/syeikh-sulaiman-arrasuli-inyiak-canduang/&via=aanchoto&text=Syeikh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/09/syeikh-sulaiman-arrasuli-inyiak-canduang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/09/al-khazin-ahli-matematika-dan-astronomi-islam/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/09/al-khazin-ahli-matematika-dan-astronomi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 07:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Matematika]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Dari wilayah Marv, Khurasan, Iran, lahir seorang ahli matematika terkemuka di dunia Islam. Dia bernama Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Muhammad Al-Husayn Al-Khurasani Al Khazin. Keahliannya dalam menyajikan rumus dan metode perhitungan untuk menguraikan soal-soal rumit begitu dikagumi dan dijadikan rujukan hingga berabad-abad kemudian. Tidak diketahui secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Akan tetapi, para sejarawan&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-681" title="Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam" src="http://aanchoto.com/wp-content/uploads/2010/09/Al-Khazin-Ahli-Matematika-dan-Astronomi-Islam.jpg" alt="" width="252" height="182" />Dari wilayah Marv, Khurasan, Iran, lahir seorang ahli matematika  terkemuka di dunia Islam. Dia bernama Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Muhammad  Al-Husayn Al-Khurasani Al Khazin. Keahliannya dalam menyajikan rumus dan  metode perhitungan untuk menguraikan soal-soal rumit begitu dikagumi  dan dijadikan rujukan hingga berabad-abad kemudian.</p>
<p>Tidak  diketahui secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Akan tetapi, para  sejarawan memperkirakan Al-Khazin meninggal dunia antara 961 dan 971  Masehi. Selain dikenal sebagai ahli matematika, semasa hidup ia juga  seorang fisikawan dan astronom yang disegani.<span id="more-680"></span><br />
Merujuk pada  sejumlah catatan sejarah, Al-Khazin merupakan satu dari sekian banyak  ilmuwan yang telah lama dilupakan. Namanya baru mencuat kembali pada  masa-masa belakangan ini. Di dunia Barat, Al-Khazin dikenal sebagai  Alkhazen. Ejaan dalam bahasa Eropa menyebabkan ketidakjelasan identitas  antara dia dan Hasan bin Ibnu Haitsam.</p>
<p>Hal inilah yang merupakan  salah satu penyebab nama Al-Khazin sedikit tenggelam. Al-Khazin  merupakan ilmuwan zuhud. Dia menjalani hidup sederhana dalam hal  makanan, pakaian, dan sebagainya. Ia sering menolak hadiah para penguasa  dan pegawai kerajaan agar tidak terlena oleh kesenangan materi.</p>
<p>Beberapa  guru tenar menghiasi rekam jejak Al-Khazin saat masih menimba ilmu.  Salah satu gurunya bernama Abu Al-Fadh bin Al-Amid, seorang menteri pada  masa Buwayhi di Rayy. Al-Khazin menuangkan pemikirannya dalam sejumlah  risalah bidang matematika dan telah memperkaya khazanah keilmuan di  dunia Islam.</p>
<p>Sebut saja, misalnya Kitab al-Masail al-Adadiyya  yang di dalamnya tercantum karya Ibnu Majah, yaitu al-Fihrist edisi  Kairo, Mesir. Karyanya yang paling terkenal adalah Matalib Juziyya mayl  alMuyul al-Juziyya wa al-Matali fi al-Kuraal Mustakima. Seluruh  kemampuan intelektualnya dia curahkan pada karya ini.</p>
<p>Termasuk  perhitungan rumus teorema sinus untuk segitiga. Seperti tercantum dalam  buku al-Fihrist edisi Kairo, AlKhazin pernah memberikan komentar ilmiah  terhadap buku Element yang ditulis ilmuwan Yunani, Euclides, termasuk  bukti-bukti yang diuraikannya menyangkut kekurangan serta kelemahan  pemikiran Euclides.</p>
<p>Kontribusi luar biasa Al-Khazin mencakup  peragaan rumus untuk mengetahui permukaan segitiga sebagai fungsi  sisisisinya. Ia mengambil metode penghitungan setiap sisi kerucut.  Dengan itu, dirinya berhasil memecahkan bentuk persamaan x3 + a2b = cx2.  Di ranah matematika, persamaan itu sangat terkenal.</p>
<p>Ini  merupakan sebuah soal matematika rumit yang diajukan oleh Archimedes  dalam bukunya The Sphere and the Cylinder. Sayangnya, seperti disebutkan  pada buku Seri Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah, sekian banyak teks dan  risalah ilmiah Al-Khazin tak banyak tersisa pada masa kini.</p>
<p>Hanya  beberapa saja yang masih tersimpan, di antaranya komentarnya terhadap  buku ke10 dari Nasr Mansur dalam Rasail Abi Nasr ila al-Biruni. Jejak  keilmuan Al-Khazin juga dapat ditelusuri dalam lingkup astronomi. Dia  mengukir prestasi gemilang melalui karyakaryanya. Salah satu yang  berpengaruh adalah buku berjudul Zij as Safa&#8217;ih.</p>
<p>Al-Khazin  mempersembahkan karya itu untuk salah satu gurunya, Ibnu Al Amid. Ia  juga membahas tentang peralatan astronomi untuk mengukur ketebalan udara  dan gas (sejenis aerometer). Saat nilai ketebalan bergantung pada suhu  udara, alat ini merupakan langkah penting dalam mengukur suhu udara dan  membuka jalan terciptanya termometer.</p>
<p>Manuskrip karya Al-Khazin  tersebut tersimpan di Berlin, Jerman, namun hilang ketika berkecamuk  Perang Dunia II. Oleh astronom terkemuka, Al-Qifti, karya itu dianggap  sebagai subyek terbaik dan sangat menarik untuk dipelajari. Buku Zij as  Safa&#8217;ih menuai banyak pujian dari para ilmuwan.</p>
<p>Menurut  Al-Biruni, beragam mekanisme teknis instrumen astronomi berhasil diurai  dan dijelaskan dengan baik oleh Al-Khazin. Tokoh ternama ini pun kagum  atas sikap kritis Al-Khazin saat mengomentari pemikiran Abu Ma&#8217;syar  dalam hal yang sama. Tokoh lain yang menyampaikan komentarnya adalah Abu  Al-Jud Muhammad Al-Layth.</p>
<p>Ia menyatakan, pendapat Al-Khazin  mengenai cara menghitung rumus chord dari sudut satu derajat. Dalam Zij  disebutkan, soal itu bisa dihitung apabila chord dibagi menjadi tiga  sudut. Sementara itu, Abu Nash Mansur memberikan koreksi atas sejumlah  kekurangan yang terdapat pada karya Al-Khazin itu.</p>
<p>Penetapan  inklanasi ekliptika tak luput dari perhatian Al-Khazin. Persoalan  astronomi ini sudah mengemuka sejak zaman Archimedes. Para ilmuwan  Muslim seperti Al-Mahani, meninggal pada 884 Masehi, yang pertama  mengangkat kembali tema ini. Oleh AlKhazin, hal itu kembali dipelajari  dan dia berhasil menjabarkannya dengan baik.</p>
<p>Menurut Al-Khazin,  pembagian bola dengan sebuah bidang datar dalam satu rasio ditentukan  dengan menyelesaikan persamaan pangkat tiga. Demikian ilmuwan ini  menyelesaikan soal astronomi tadi yang segera mendapatkan pujian dari  astronom-astronom lainnya.</p>
<p>Terdapat beberapa aspek penting yang  dikupas oleh Al-Khazin dalam buku astronomi yang ia tulis. Dalam Zij, ia  menunjukkan penetapan titik derajat tengah atau cakrawala yang  kemiringannya tidak diketahui sebelumnya. Ia juga mampu menghitung sudut  matahari melalui penentuan garis bujur.</p>
<p>Sumbangsih lain adalah  menyangkut penentuan azimut atau ukuran sudut arah kiblat dengan memakai  peralatan tertentu. Al-Khazin berhasil mengenalkan metode hitung  segitiga sferis. Komentar-komentarnya cukup mendalam terhadap karya  astronomi lain, misalnya, ia pernah menulis sebuah komentar atas  Almagest karya Ptolemeus.</p>
<p>Subjek yang ia bahas adalah tentang  sudut kemiringan ekliptik. Sebelumnya, rumus itu dikenalkan Banu Musa  pada 868 Masehu di Baghdad, Irak. Ia juga mencermati hasil pengamatan  AlMawarudzi, Ali bin Isa Al-Harrani, dan Sanad bin Ali. Hal ini terkait  dengan penentuan musim semi dan musim panas. Sementara itu, melalui  tulisannya yang berjudul Sirr al-Alamin, Al-Khazin mengembangkan lebih  jauh gagasan-gagasan dari Ptolemeus yang terdapat pada buku Planetary.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/09/al-khazin-ahli-matematika-dan-astronomi-islam/&via=aanchoto&text=Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/09/al-khazin-ahli-matematika-dan-astronomi-islam/&via=aanchoto&text=Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/09/al-khazin-ahli-matematika-dan-astronomi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mike Lazaridis, Sang Pendiri Research In Motion</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/07/mike-lazaridis-sang-pendiri-research-in-motion/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/07/mike-lazaridis-sang-pendiri-research-in-motion/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 12:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[BlackBerry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Dunia kini tengah dijangkiti demam telepon pintar alias smartphone. Produk ini menjadi primadona barn bisnis telekomunikasi, menggeser peran telepon seluler yang dianggap sudah ketinggalan zaman. Kini, siapa yang tak kenal BlackBerry atau iPhone, dua produk smartphone yang tengah bersaing untuk merebut hati para konsumennya. Namun, tak banyak yang mengetahui perusahaan yang memprodusi BlackBerry, yaitu Research&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-506 alignright" title="Mike Lazaridis" src="http://aanchoto.com/wp-content/uploads/2010/07/Mike-Lazaridis.jpeg" alt="" width="209" height="158" />Dunia kini tengah dijangkiti demam telepon pintar alias smartphone. Produk ini menjadi primadona barn bisnis telekomunikasi, menggeser peran telepon seluler yang dianggap sudah ketinggalan zaman. Kini, siapa yang tak kenal BlackBerry atau iPhone, dua produk smartphone yang tengah bersaing untuk merebut hati para konsumennya.</p>
<p>Namun, tak banyak yang mengetahui perusahaan yang memprodusi BlackBerry, yaitu Research In Motion Limited (RIM). Apalagi, mengenal orang yang menciptakan sekaligus pendiri RIM, Mike Lazaridis. Padahal, dari tangan warga negara Kanada inilah produk tersebut lahir dan mengubah gaya hidup manusia di tengah zaman globalisasi ini.<span id="more-504"></span></p>
<p>Anak dari Turki ini dapat merealisasikan mimpi guru SMA-nya bahwa suatu hari nanti fungsi elektronik, komputer, dan wireless akan menjadi satu. Lewat temuannya, Mike Lazaridis berhasil menggabungkan teknologi yang unik dan gaya hidup menjadi satu: BlackBerry.</p>
<p>BlackBerry adalah perangkat telepon genggam nirkabel (tanpa kabel) yang memihki kemampuan telepon seluler sekaligus memiliki fasilitas e-mail, SMS, faksimili, dan penjelajah internet. Berbekal sistem dan teknologi servernya yang unik, pengguna BlackBerry dapat selalu terhubung dengan jaringan internet. Sehingga, penggunanya bisa berkomunikasi sekaligus menerima atau mengirim data di manapun.</p>
<p>Rasanya tak berlebihan pula menyandingkan nama Lazaridis dengan pemilik Microsoft, Bill Gates, dan pemilik jaringan sosial Facebook, Mark Zuckerberg. Sebab, tangan dingin mereka mampu melahirkan produk barn dalam waktu relatif singkat dan menjadi ikon gaya hidup manusia.</p>
<p><strong>Sejarah</strong></p>
<p>Sebenarnya, nama lengkapnya adalah Mihalis Lazaridis. Dia bukan asli Kanada. Pada 14 Maret 1961, pria yang akrab disapa Mike ini lahir di Istanbul, Turki. Kedua orangtuanya berasal dari Yunani. Pada usia lima tahun, orang tuanya membawa Mike pindah ke Kanada. Kepindahannya itu berkat program Istanbul Program, yang digelar sejak 1955. Yaitu, keseempatan bagi etnis minoritas Yunani di Istanbul untuk pindah dan menetap di Windsor, daerah di dekat Kota Ontario, Kanada.</p>
<p>Tahun 1966, Mike dan keluarganya memulai kehidupan baru di Windsor. Sejak berusia belia, Mike sudah rajin membaca dan dikenal sebagai kutu buku. Aktivitasnya di sekolah dihabiskannya di ruangan perpustakaan. Tak mengherankan jika di usia 12 tahun, dia dianugerahi penghargaan Windsor Public Library. Pasalnya, dia telah melahap semua buku ilmu pengetahuan di perpustakaan tersebut.</p>
<p>Menginjak bangku sekolah menengah atas (SMA), minat Mike beralih ke alat dan barang elektronik. Minat tersebut menemukan penyalurannya. Guru-guru Mike di SMA adalah orang-orang pintar yang selalu bisa menjawab rasa keingintahuannya.</p>
<p>Mereka sudah membayangklan bahwa suatu saat nanti fungsi perangkat elektronik seperti telepon genggam, komputer, dan wireless bergabung jadi satu dalarn sebuah produk teknologi dalam setiap wawancara, Mike selalu mengatakan bahwa gurugurunya di SMA merupakan motivator terbaiknya.</p>
<p>Tahun 1979, Mike melanjutkan pendidikannya di University of Waterloo. Dia mengambil jurusan Electrical Engineering, dengan fokus pada ilmu komputer. Sembari kuliah, dia sudah terjun ke bidang wirausaha yang terkait dengan ilmu teknologi yang dipelajarinya.</p>
<p>Fokus utamanya adalah teknologi nirkabel. Interaksinya dengan dosen-dosen dan aktivitas di laboratorium memberikan inspirasi baginya untuk menggabungkan teknologi komputer dengan jaringan nirkabel.</p>
<p>Aktivitasnya semakin padat dan bakat usahanya kian terasah setelah mendapat kontrak senilai 500.000 dollar AS dari General Motors (GM). Tugasnya adalah membangun displai kontrol jaringan komputer di raksasa otomotif itu.</p>
<p>Dari dana kontrak dengan GM itu, ditambah pinjaman 15.000 dollar dari orangtuanya, Lazaridis yang masih mahasiswa mendirikan RIM. Dia keluar dari universitas dua bulan sebelum lulus.</p>
<p>RIM bergerak di bidang teknologi barcode untuk film. Lambat laun, RIM merambah ke wireless dan tahun 1999 memperkenalkan BlackBerry.</p>
<p>Walau akhirnya drop out dari universitas, berkat dedikasinya, pada Oktober 2001 dia meraih penghargaan Doctor of Engineering dari University of Waterloo. Pada Juni 2003 ia bahkan ditunjuk menjadi chancellor kedelapan universitas itu.</p>
<p>BlackBerry unik karena punya sistem sendiri dalam mengelola e-mail, terutama teknologi server yang tak dimiliki perusahaan lain. Di saat produsen telepon genggam lainnya puas dengan memanfaatkan sistem yang sudah ada, Lazaridis berpikir lain. ”Kami sangat hati-hati dalam mengembangkan perangkat ini. BlackBerry punya sistem yang unik, inilah yang membuat layanan kami akan unggul di mata konsumen,” katanya.</p>
<p>Dia yakin, ke depannya kebutuhan akan transmisi data makin tinggi dan wireless akan menjadi solusi. ”Kami menggabungkan fungsi perangkat bergerak dengan fungsi komputer,” katanya.</p>
<p>Apakah BlackBerry akan menggantikan komputer desktop atau laptop? Apakah BlackBerry juga punya ambisi mengambil alih sistem telekomunikasi GSM yang populer saat ini?</p>
<p>”Tidak, kami juga terlibat dalam pengembangan teknologi lain,” katanya. Teknologi GSM, misalnya, jaringannya masih bisa kita manfaatkan dengan berbagai pengembangan riset.</p>
<p>Di balik ambisi membuat BlackBerry mewabah, Lazaridis tetap lari ke dunia riset, mengembangkan berbagai kemungkinan teknologi yang tersedia. Jadi, tak harus menjadi dominan dan membunuh yang lain jika ingin sukses.</p>
<p><strong>Asal mula Penamaan RIM</strong></p>
<p>Pihak Research In Motion (RIM), pembuat dan pemilik merek dagang BlackBerry, meminta bantuan Lexicon Branding. Lexicon merupakan lembaga konsultasi merek dagang. RIM meminta pihak Lexicon untuk menamai alat terbaru mereka, yaitu gadget e-mail nirkabel yang diciptakan pertama kali pada 1999. Menurut hasil penilitian Lexicon, RIM diminta untuk membuang jauh-jauh istilah ”e-mail”. Hal ini dikarenakan ternyata istilah tersebut bisa meningkatkan tekanan darah atau stres. Kemudian mereka berusaha mencari nama yang bisa membawa nuansa kebahagiaan dan perasaan damai.</p>
<p>Setelah melihat prototipe BlackBerry pertama, dengan tombol-tombol kecil yang menyerupai biji-bijian, tim Lexicon mulai mengeksplorasi nama-nama seperti strawberry, melon, dan bermacam sayuran lain. Hingga pada akhirnya mereka sepakat dengan satu nama, yaitu ”BlackBerry”. Satu nama yang membawa kebahagiaan sekaligus mewakili warna hitam dari alat tersebut. Jadi BlackBerry mungkin artinya si hitam dengan tombol menyerupai biji-bijian yang membawa kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pentingnya riset</strong></p>
<p>Dengan kondisi global yang lesu, tahun 2009 RIM telah mengirim 26 juta BlackBerry ke sejumlah negara. Januari 2009, BlackBerry sudah membuat perangkat BlackBerry ke-50 juta. ”Pendapatan RIM tahun fiskal 2009 naik 84 persen dari 6 miliar dollar AS menjadi 11 miliar dollar AS,” ujarnya.</p>
<p>Tahun 2009, BlackBerry mendapat penghargaan GSMA Chairman’s Award untuk kategori pionir bidang wireless. Di tengah stagnannya penemuan baru, bisa dibilang Lazaridis mendominasi sebagai inventor pada dekade ini.</p>
<p>Lazaridis menyadari, kesuksesan RIM merupakan dampak dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dia yakin ilmu pengetahuan yang didorong universitas bisa diharapkan membawa perubahan.</p>
<p>Dukungannya terhadap dunia penelitian tak tanggung-tanggung. Pada Oktober 2000 dia mendirikan Perimeter Institute for Theoretical Physics dengan dana 100 juta dollar AS yang diambil dari kantong pribadinya.</p>
<p>April 2004, bersama istrinya dia mendonasikan 33,3 juta dollar AS untuk Institute for Quantum Computing di University of Waterloo. Mei 2005, dia memberi tambahan lagi 17,2 juta dollar AS untuk membangun gedung Institute for Quantum Computing dan Waterloo Institute for Nanotechnology.</p>
<p>Lazaridis tak hanya penemu BlackBerry. Sekitar 50 hak paten miliknya berkisar pada wireless dan sistem display industri. DigiSync, pembaca barcode untuk industri film, ternyata juga di bawah hak paten dia, yang membuatnya mendapatkan penghargaan Emmy dan Academy Award tahun 1999.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/mike-lazaridis-sang-pendiri-research-in-motion/&via=aanchoto&text=Mike Lazaridis, Sang Pendiri Research In Motion&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/mike-lazaridis-sang-pendiri-research-in-motion/&via=aanchoto&text=Mike Lazaridis, Sang Pendiri Research In Motion&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/07/mike-lazaridis-sang-pendiri-research-in-motion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi</title>
		<link>http://aanchoto.com/2009/10/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2009/10/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 02:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Ahmad Khatib adalah seorang ulama terkenal asal Minangkabau, kelahiran Koto Tuo Balai Gurah, Kecamatan IV Angkat Candung, Kabupaten Agam. Beliau memulai dan mengakhiri kariernya sebagai ulama di Makkah Al Mukarramah, dan terkenal dengan panggilan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Kata “Al-Minangkabawy” menunjukkan bahwa beliau berasal dari Ranah Alam Minangkabau. Begitu meninggalkan Ranah Minang, beliau langsung&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syeikh Ahmad Khatib adalah seorang ulama terkenal asal Minangkabau, kelahiran Koto Tuo Balai Gurah, Kecamatan IV Angkat Candung, Kabupaten Agam. Beliau memulai dan mengakhiri kariernya sebagai ulama di Makkah Al Mukarramah, dan terkenal dengan panggilan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Kata “Al-Minangkabawy” menunjukkan bahwa beliau berasal dari Ranah Alam Minangkabau.</p>
<p>Begitu meninggalkan Ranah Minang, beliau langsung berangkat menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu, sehingga akhirnya beliau menjadi guru, ulama dan syeikh yang terkenal di tanah suci tersebut, dengan pusat kegiatannya Masjidil Haram.<span id="more-328"></span></p>
<p>Semenjak berangkat pertama, tidak pernah pulang ke Minangkabau, sampai beliau berpulang ke alam baqa di kota tersebut. Beliau juga menikah dan berketurunan disana. Isteri, anak-anak dan cucu-cucunya adalah semua orang Arab.<br />
Ahmad Khatib adalah anak dari Khatib Nagari  yang berasal dari Koto Gadang, hasil perkawinannya dengan “Limbak Urai”  yang berasal dari KotoTuo Balai Gurah. Beliau bersaudara sebanyak lima orang yaitu beliau sendiri, H. Aisyah, H. Mahmud, H. Hafsah dan H. Safiah, sedang dari ibu tirinya Kalsum di Koto Gadang, beliau mempunyai saudara yang bernama “Khailan Samsu”. Dari pihak Bapak, beliau mempunyai hubungan dengan Inyiak H. Agus Salim (saudara sepupu) dan dari pihak ibu, Seikh Ahmad Khatib  bersaudara ibu dengan H. Thaher Jalaluddin seorang Ulama Falak yang terkenal di tanah Melayu (Malaysia sekarang)</p>
<p>Melihat silsilah keturunan beliau bersambung  ke atas, tampaknya beliau juga punya hubungan dengan Tuanku Nan Tuo, seorang guru dari pejuang dan Ulama-ulama Paderi.</p>
<p>1           Ahmad Khatib kecantol dengan seorang puteri Mekkah, yaitu anak dari Saleh Kurdi, pemillik Toko Kitab di Babus Salam, dekat Masjidil Haram Saleh Kurdi dengan kesopanan, kerajinan dan kealiman Ahmad Khatib, yang diperhatikannya setiap hari, sewaktu keluar-masuk Masjidil Haram melewati Toko Kitabnya. Rupanya tidak cukup hanya seorang putri diamanahkan Saleh Kurdi  untuk dikawini Ahmad Khatib, bahkan putrinya yang kedua juga dikawinkan dengan Ahmad Khatib setelah putrinya yang</p>
<p>pertama itu meninggal dunia. Dalam istilah Minagkabau hal semacam itu disebut</p>
<p>“mangganti lapiak” (mengganti tikar)</p>
<p>Dari isteri yang pertama itu mendapatkan seorang putra yang bernama Abdul Karim dan dari isteri yang kedua Ahmad Khatib dikurnai tiga orang anak yaitu Abdul Malik, Abdul Hamid dan  Siti Khadijah. Dengan demikian Syeikh Ahmad Khatib mempunyai tiga orang putra dan seorang putri dari kedua putri yang bersaudara itu. Ahmad Khatib tidak pernah berpoligami, dan tidak pernah kawin lagi setelah istri yang kedua itu. Amatlah disayangkan, tidak ada putri Minang yang sempat teman hidup Syeikh Ahmad Khatib, sehingga juga tidak ada anak Minangyang berayah kepada beliau. Menurut keterangan seorang cucu beliau yang bernama Zakiyah Tamin di Koto Tuo Balai Gurah, salah seorang putra beliau yang bernama Abdul Hamid (anggota parlemen dan kemudian menjadi Duta Arab Saudi di Karachi) pernah datang ke Indonesia pada tahun 1938 dan berkunjung ke rumah bakonya di Koto Tuo. Terkandung maksud bagi Abdul Hamid untuk menggaet salah seorang putri dikalangan bakonya itu, yang akan dipersuntingnya sebagai istri, dengan tujuan agar pertalian kekeluargaan antara keturunan Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah dengan keluarga Syeikh  di Minangkabau selalu terjalin erat dan terus bersambung. Tetapi…….. apa hendak dikata, semua wanita dikalangan bakonya sudah berpunya. Dan untuk menunggu yang baru atau yang akan lahir, rasanya usianya sudah terlalu tua. Maka niatnya itu tidak terkabul sama sekali. Namun surat menyurat masih berjalan terus antara keturunan Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah dengan keluarga yang masih ada di Koto Tuo Balai Gurah . Apa lagi Syeikh Ahmad Khatib dulu telah memanggil beberapa kemenakannya untuk datang dan menetap di Mekkah, mereka pun telah mempunyai keturunan pula disana.</p>
<p>Perkampungan keluarga Syeikh tersebut di Mekkah bernama “Garara Kampung Syamsiyah”. Banyak dianara mereka yang menjadi Syeikh Pelayan Haji dan memeberikan banyak pertolonganya kepada jamaah haji asal Minangkabau apalagi yang punya hubungan dengan Syeikh Ahmad Khatib.</p>
<p>Dari keterangan atau informasi tersebut dapat diketahui bahwa sebahagian besar keluarga Syeikh Ahmad Khatib bermukim di Mekkah menjadi warga negara Arab Saudi. Dengan perkataan lain Syeikh Ahmad Khatib mempunyai saham yang paling besar dalam menambah kwantitas penduduk Mekkah khususnya dan warga Arab Saudi umumnya. Semoga Allah SWT memberikan keampunan kepada beliau dan menempatkan pada tempat yang Mulia, Amin.</p>
<p>2           Mengenai tahun kelahiran dan tahun keberangkatannya ke Mekkah terdapat perbedaan antara keterangan Hamka dengan keterangan Tamar Djaya. Hamka mencatat bahwa Ahmad Khatib dilahirkan tanggal 6 Zulhijjah 1276 Hijriyah (1860 M) dan berangkat ke Mekkah dalam usia 11 tahun, bersama ayahnya sendiri Khatib Nagari, untuk menunaikan Ibadah Haji dan mendalami ilmu agama dari alim ulama yang berada di Mekkah. Pada mulanya Ahmad Khatib akan memasuki Sekolah Raja di Bukittinggi, tetapi tidak jadi. Menurut Tamar Djaya, setelah Ahmad Khatib menamatkan Sekolah Rendah dikampungnya sendiri (tahun 1877 M). Ahmad Khatib berangkat ke Mekkah, karena beliau tertarik dengan ilmu agama dan ingin mendalaminya langsung ke</p>
<p>sumber aslinya (ke negeri dimana Islam mula-mula diturunkan).</p>
<p>Perbedaan tanggal dan tahun ini tidak begitu penting dan akan dapat dijelaskan dengan Hijrat (catatan autentik tentang kelahiran beliau), tetapi amatlah disayangkan hal itu belum diketemukan dari keluarga Syeikh. Yang jelas adalah beliau ke Mekkah dalam usia muda (belum kawin), belajar agama Islam di sana, kemudian menjadi guru dan akhirnya menjadi syeikh terkenal. Beliau menikah, berketurunan dan meninggal di tanah suci tersebut, tanpa pernah kembali ke Indonesia barang sekalipun. Beliau meninggal hari Senin bulan Jumadil Akhir 1334 (1915 M), dalam usia 63 tahun</p>
<p>Ilmu pengetahuan utama yang didalaminya adalah Ilmu Fiqhi, disamping juga mempelajari ilmu agama lainnya dan ilmu umum seperti ilmu Falak, ilmu Hisab, ilmu Al Jabar dsb. Aliran Fiqhi yang dipelajari dan dianutnya adalah Mazhab Syafi’i. Guru-gurunya adalah : Zaid Ahmad Zain Dahlan, Said Bakri Syatta dan Syeikh Yahya Kabli.</p>
<p>Ahmad Khatib termasuk murid  yang rajin, tekun dan cerdas dalam menuntut pelajaran, baik diwaktu belajar dikampung halamanny, maupun setelah berada di Mekkah. Kerajinan dan kecerdesannya  itulah yang menyebabkan beliau dapat menimba ilmu yang banyak dalam waktu yang relatif singkat, khususnya dalam bidang Hukum Islam. Dengan usaha dan jasa mertuanya Saleh Kurdi, Ahmad Khatib dapat membuat suatu Halakah  tempat ia mengajar di dalam Masjidil Haram. Dalam waktu yang singkat ia telah dikelilingi oleh beratus-ratus orang yang ingi menjadi muridnya. Sebagian besar murid itu berasal dari Indonesia dan Semenanjung Malaysia, yang dulu disebut dengan julukan “Orang Jawi”. Kemasyhurannya sebagai Mudarris (guru), meningkat menjadi Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Kerajaan Istambul menggelari Ahmad Khatib dengan “Bey Tunis”, sebagai guru suatu tanda jasa yang diberikan kepada orang yang berjasa besar dalam bidang ilmu pengetahuan, Banyak Raja-raja dan Sultan-sultan di tanah Air dan di daerah Simenanjung yang meminta fatwaagama kepada beliau melalui surat-menyurat, yang selanjutnya diiringi dengan menukar tanda mata. Diantaranya yang beliau kirimkan adalah “Bacaan Khutbah Kedua” yang disebut juga dengan Khutbah “Na’at”, dan inilah yang dibaca oleh Khatib di negeriyang berada dibawah naungan sultan yang meminta fatwa kepada Ahmad Khatib, seperti tersebut diatas.</p>
<p>Beliau juga banyak menulis buku-buku agama mengenai Fiqhi, Ushul Fiqhi, Tashauf dan lain-lain dalam bahasa Melayu dan Bahasa Arab.</p>
<p>Sumber : Riwayat Hidup dan Perjuangan 20Ulama Besar Sumatera Barat</p>
<p>Penerbit : Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2009/10/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/&via=aanchoto&text=Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2009/10/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/&via=aanchoto&text=Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2009/10/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HR Rasuna Said: Orator Perempuan Minangkabau</title>
		<link>http://aanchoto.com/2008/10/hr-rasuna-said-orator-perempuan-minangkabau/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2008/10/hr-rasuna-said-orator-perempuan-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 02:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Minangkabau banyak melahirkan tokoh dan pahlawan nasional, mereka tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa dalam menghadapi berbagai proses kemajuan bangsa. Para tokoh ini menjadi teladan para generasi muda sekarang yang ingin terus belajar dan berjuang dalam mengisi kemerdekaan di era sekarang. Salah satu tokoh perempuan Minangkabau yang terkenal adalah HR Rasuna Said atau Hajjah Rangkayo Rasuna&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a href="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/hr-rasuna-said.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-216" title="hr-rasuna-said" src="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/hr-rasuna-said.png?w=69" alt="" width="69" height="96" /></a>Minangkabau banyak melahirkan tokoh dan pahlawan nasional, mereka tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa dalam menghadapi berbagai proses kemajuan bangsa. Para tokoh ini menjadi teladan para generasi muda sekarang yang ingin terus belajar dan berjuang dalam mengisi kemerdekaan di era sekarang.</p>
<p>Salah satu tokoh perempuan Minangkabau yang terkenal adalah HR Rasuna Said atau Hajjah Rangkayo Rasuna Said, beliau lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 15 September 1910. Setelah Rasuna Said menamatkan Sekolah Dasar (SD) kemudian ia melanjutkan belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah sebagai satu-satunya santri perempuan . HR Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri di Padang Panjang dan bertemu dengan Rahmah El-Yunusiah.<span id="more-215"></span></p>
<p>Beliau sempat mengajar di Diniyah School Putri sebagai guru namun pada tahun 1930 Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah tapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri tapi ditolak.</p>
<p>HR Rasuna Said dikenal sebagai seorang orator, pejuang kemerdekaan Indonesia. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum <em>Speek Delict</em> yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda. Rasuna Said sempat di tangkap bersama teman seperjuangannya Rasimah Ismail, dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang.</p>
<p>HR Rasuna Said adalah pejuang yang berpandangan luas dan berkemauan keras. Sejak muda berjuang melalui Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris Cabang. Kemudian aktif sebagai anggota Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Dia seorang orator yang sering kali mengecam tajam kekejaman dan ketidakadilan pemerintah Belanda. Beliau tak gentar kendati akibatnya harus ditangkap ditangkap dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang.</p>
<p>Ketika pendudukan Jepang, Hajjah Rangkayo Rasuna Said ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Organisasi ini pun kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang karena dianggap membahayakan.</p>
<p>Setelah Proklamasi Kemerdekaan dia aktif sebagai anggota Dewan Perwakilan Sumatera (DPS) mewakili daerah Sumatera Barat. Kemudian terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). Tahun 1959, kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sampai akhir hayatnya tahun 1965.</p>
<p>HR Rasuna Said meninggal di Jakarta, 2 November 1965. Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber : <a href="http://padang-today.com/">http://padang-today.com/</a></p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/hr-rasuna-said-orator-perempuan-minangkabau/&via=aanchoto&text=HR Rasuna Said: Orator Perempuan Minangkabau&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/hr-rasuna-said-orator-perempuan-minangkabau/&via=aanchoto&text=HR Rasuna Said: Orator Perempuan Minangkabau&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2008/10/hr-rasuna-said-orator-perempuan-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mohamad Natsir : Negarawan dari Alahan Panjang</title>
		<link>http://aanchoto.com/2008/10/mohamad-natsir-negarawan-dari-alahan-panjang/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2008/10/mohamad-natsir-negarawan-dari-alahan-panjang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 01:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Mohamad Natsir, pada 17 Juli 1908 tepatnya Kampung Jambatan Baukia Alahan Panjang, negeri dingin di balik Gunung Talang Solok. Putra Sutan Sari Pado dan Khadijah yang kemudian menjadi tokoh nasional bahkan aset internasional dari berbagai segi: agama, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan, keteladanan, pemikiran, bahkan menjadi mata air kajian ilmiah dalam berbagai seminar, simposium, untuk&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/moh-natsir.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-226" title="moh-natsir" src="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/moh-natsir.jpg?w=72" alt="" width="72" height="96" /></a>Mohamad Natsir, pada 17 Juli 1908 tepatnya Kampung Jambatan Baukia Alahan Panjang, negeri dingin di balik Gunung Talang Solok. Putra Sutan Sari Pado dan Khadijah yang kemudian menjadi tokoh nasional bahkan aset internasional dari berbagai segi: agama, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan, keteladanan, pemikiran, bahkan menjadi mata air kajian ilmiah dalam berbagai seminar, simposium, untuk skripsi, thesis serta disertasi para doktor berbagai disiplin ilmu.</p>
<p>Masa kanak-kanak beliau lalui di tengah pergolakan pemikiran para tokoh besar pembaharu dari Ranah Minang. Belajar di pendidikan dasar Sekolah Belanda, Bapak Mohamad Natsir kecil dengan tekun mengikuti gebrakan para tokoh besar di negerinya. Dari usia delapan tahun (1916) sampai 15 tahun (1923) Mohamad Natsir remaja menggali kekayaan para ulama itu di HIS Adabiyah Padang dan Madrasah Diniyah Solok. <span id="more-228"></span></p>
<p>Mohamad Natsir aktif dalam Jong Islamiten Bond Padang sewaktu melanjutkan pendidikan ke MULO Padang tahun 1923. Masih dalam jalur pendidikan Belanda, beliau melanjutkan pendidikan ke AMS (A2) di Bandung. Kesempatan tersebut membawa beliau berkenalan dengan ustaz A. Hassan, tokoh PERSIS (Persatuan Islam) garis keras, yang membimbing beliau melakukan studi tentang Islam. Dengan ustaz ini beliau mengelola majalah &#8220;Pembela Islam&#8221; sampai tahun 1932.</p>
<p>Mohamad Natsir secara formal mengikuti pendidikan barat di sekolah-sekolah Belanda. Beliau selesaikan pendidikan Al Gemene Middel School di Bandung dalam kajian Kesusastraan Barat Klasik. Sebenarnya beliau punya kesempatan memperoleh besiswa untuk melanjutkan sekolahnya ke Leiden pada pendidikan yang lebih tinggi. Namun beliau memilih mendalami kajian keagamaan melalui ustaz A. Hassan yang dikenal dengan ulama yang berpaham radikal dan jadi sesepuh organisasi sosial keagamaan.</p>
<p>Beliaupun menolak tawaran bekerja sebagai pegawai negeri pemerintah Hindia Belanda dan lebih tertarik menekuni dunia pendidikan. Obsesi itu membuat ia mendirikan Yayasan Pendidikan Islam di Bandung sekaligus menjabat Direktur dari tahun 1932-1942. Keluasan wawasannya mencuat kepermukaan setelah dapat menguasai beberapa bahasa asing sebagai alat untuk menggali buku-buku tokoh kelas dunia. Bapak Mohamad Natsir mulai berkecimpung dalam dunia politik setelah beliau menjadi anggota PII (Partai Islam Indonesia) pada awal tahun 40 an, memimpin organisasi yang terkenal radikal untuk bumi pancasila.</p>
<p>Majelis Al Islam A&#8217;la Indunisiya (MIAI) semakin berkiprah setelah kepemimpinannya. Bahkan dalam masa penjajahan Jepang ( 1942-1945) sesepuh dari berbagai kalangan ini masih sempat jadi kepala bagian di Pemerintahan Daerah Bandung sekaligus merangkap sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta.</p>
<p>Di samping itu, saat Pemerintah Jepang berkuasa di negeri Ini, terbentuklah Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) di bawah kepemimpinannya. Kiprah politiknya semakin menanjak semenjak beliau tampil jadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1945-1946 dan menjabat anggota DPR Sementara di tahun 1948 menjabat sebagai Menteri Penerangan.</p>
<p>Karier politiknya sampai ke puncak ketika ia dilantik menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia. Peranan beliau amat menentukan dalam penyelamatan untuk tetap mempertahankan bentuk Republik sesuai dengan amana Proklamasi 1945, pada tahun 1950-an. Mosi Integrasinya adalah manuver politik yang mengantarkan dia menjadi Perdana Menteri pada usia 42 tahun. Kariernya sebagai politikus mengalami pasang surut setelah bergesekan dengan dinding kekuasaan Demokrasi Terpimpin, yang menjadikan angin segar bagi Komunis pada saat itu.</p>
<p>Di tengah gelombang politik yang semakin menggelora, Moh. Natsir berada di &#8220;tengah-tengah arus&#8221; oposan yang digalang oleh para Panglima militer di berbagai daerah dengan wujud PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Dengan hadirnya beliau di barisan oposisi ini, konflik semakin merebak hingga agresi fisik dan bentrokan senjata tidak bisa dihindari. Dengan &#8220;dalih&#8221; tuduhan subversif, Bapak Mohamad Natsir terpaksa meringkuk di belakang terali besi selama 7 tahun, tanpa proses peradilan di Batu Malang Jawa Timur. Status sebagai tahanan politik berakhir tahun 1966 di Rumah Tahanan Militer (RTM), Jakarta.</p>
<p>Mohamad Natsir menghirup udara kebebasan setelah Presiden Soekarno jatuh dari kursi kepresidenannya. Sebagai seorang panutan umat, ia selalu tampil untuk menyuarakan nurani umat, kendatipun kadang-kadang dengan mempergunakan nama samaran. Dengan menggunakan nama samaran Moechlis di majalah &#8220;Pembela Islam&#8221; awal tahun 1930?an. Ia tampil meneriakkan berbagai masalah umat yang berkaitan dengan hubungan inter dan antara umat beragam, politik, kebudayaan, ekonomi dan berbagai dilema yang tersentuh oleh realitas yang kadang-kadang sempat menyentuh hal-hal sensitif sehingga ia harus berhadapan dengan pemegang kekuasaan.</p>
<p>Sejak tahun 1967, di samping sebagai Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) sampai akhir hayatnya, kepiawaiannya sebagai seorang pemikir dan aktivis dakwah tidak hanya bergema di negeri tercinta ini akan tetapi menjulang tinggi dalam harokah (pergerakan) Islam International. Aktif sebagai anggota Muslim League Makkah (1969-1993), berkiprah di Majlis A&#8217;la Al Alamy li Masjid di Makkah kemudian menjabat wakil presiden World Moeslim Congress (Muktamar Alam Islami) Karachi di Pakistan (1967-1993). Juga ikut membidani The International Islam Charitable Foundation, Kuwait dan Oxford Center For Islamic Studies di Inggris.</p>
<p>Karya-Karya Muhammad Natsir</p>
<p>Banyak karya tulis yang ditinggalkan oleh Muhammad Natsir, baik yang terkait dengan dakwah atau pemikiran. Sebagian telah diterbitkan dalam bahasa Arab dengan jumlah lebih dari 35 buah buku, diantaranya adalah Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah) dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih salah satu dari dua jalan). Disamping itu masih banyak ceramah, riset, makalah Muhammad Natsir yang tersebar dan tidak dapat dihitung. Muhammad Natsir pulang kerahmatullah pada tanggal 5 Februari 1993, beliau meninggalkan keteladanan untuk generasi muda.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber : <a href="http://padang-today.com/">http://padang-today.com/</a></p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/mohamad-natsir-negarawan-dari-alahan-panjang/&via=aanchoto&text=Mohamad Natsir : Negarawan dari Alahan Panjang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/mohamad-natsir-negarawan-dari-alahan-panjang/&via=aanchoto&text=Mohamad Natsir : Negarawan dari Alahan Panjang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2008/10/mohamad-natsir-negarawan-dari-alahan-panjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buya Hamka : Ulama Multi Talenta</title>
		<link>http://aanchoto.com/2008/10/buya-hamka-ulama-multi-talenta/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2008/10/buya-hamka-ulama-multi-talenta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 01:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[HAMKA adalah akronim nama Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/buya-hamka.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-224" title="buya-hamka" src="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/buya-hamka.png?w=111" alt="" width="111" height="96" /></a>HAMKA adalah akronim nama Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara.</p>
<p>Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.</p>
<p>HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Meninjau hanya sampai kelas 2. Ketika usia HAMKA sampai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. HAMKA juga pernah berguru kepada Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Di situ HAMKA telah mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. <span id="more-223"></span></p>
<p>Awalnya HAMKA sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai pengajar di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau dilantik sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustapo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau dilantik sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatannya karena Soekarno memberi dua pilihan menjadi pegawai negeri atau aktif dalam politik Majlis Syura Muslim Indonesia (Masyumi).</p>
<p>HAMKA lebih banyak belajar secara otodidak dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam ataupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat mempelajari karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal.</p>
<p>Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggeris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fakrudin, AR Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang pemidato/orator yang handal.</p>
<p>HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui Muhammadiyah. Beliau mulai aktif dari tahun 1925 menentang khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makasar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946.</p>
<p>Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada 26 Juli 1957, Menteri Agama Indonesia Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jabatan pada tahun 1981 kerana pendapatnya tidak digubris pemerintah Indonesia.</p>
<p>Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau menantang penjajah Belanda kembali ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi orator utama dalam Pemilu tahun 1955.</p>
<p>Pemerintah Indonesia pada tahun 1960 melarang kegiatan Masyumi. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya.<br />
Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.</p>
<p>Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.</p>
<p>HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura termasuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.</p>
<p>HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormat Doktor Honoris Causa, Universiti al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universiti Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada kerajaan Indonesia. HAMKA telah pulang ke rahmatullah pada 24 Julai 1981.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber : <a href="http://padang-today.com/">http://padang-today.com/</a></p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/buya-hamka-ulama-multi-talenta/&via=aanchoto&text=Buya Hamka : Ulama Multi Talenta&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/buya-hamka-ulama-multi-talenta/&via=aanchoto&text=Buya Hamka : Ulama Multi Talenta&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2008/10/buya-hamka-ulama-multi-talenta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>H. Agus Salim : Suri Teladan dari Koto Gadang</title>
		<link>http://aanchoto.com/2008/10/h-agus-salim-suri-teladan-dari-koto-gadang/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2008/10/h-agus-salim-suri-teladan-dari-koto-gadang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 02:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Ketika lahir, orang tuanya memberi nama Masyhudul Haq. Namun, kemudian masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai Haji Agus Salim. Ia adalah pahlawan nasional pemegang tiga tanda jasa anumerta: Bintang Mahaputera Tingkat I (1960), Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961), dan Pahlawan Kemerdekaan Nasional (1961). Masyhudul Haq alias Agus Salim lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang,&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/h-agus-salim1.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-221" title="h-agus-salim1" src="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/h-agus-salim1.png?w=111" alt="" width="111" height="96" /></a>Ketika lahir, orang tuanya memberi nama Masyhudul Haq. Namun, kemudian masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai Haji Agus Salim. Ia adalah pahlawan nasional pemegang tiga tanda jasa anumerta: Bintang Mahaputera Tingkat I (1960), Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961), dan Pahlawan Kemerdekaan Nasional (1961).</p>
<p>Masyhudul Haq alias Agus Salim lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat. Ia merupakan putra kelima dari 15 bersaudara anak Sutan Muhammad Salim. Ayahnya ini selama 50 tahun menjabat sebagai Jaksa Kepala di Padang.</p>
<p>Dengan begitu, Masyhudul Haq berasal dari keluarga terpelajar, sebuah status sosial yang memudahkannya menempuh pendidikan di sekolah Belanda. Saat itu, yang bisa bisa menempuh pendidikan di sekolah Belanda adalah anak-anak keturunan Eropa, sedangkan dari pribumi hanyalah anak-anak keturunan bangsawan dan pegawai tinggi.<span id="more-219"></span></p>
<p>Jenjang pendidikan pertama yang dilalui Masyhudul Haq adalah ELS (<em>Europesche Lagere School</em>) di desanya. Ia tamat dari sekolah ini pada 1898. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke HBS (<em>Hoegere Burger School</em>) di Jakarta. Di sinilah kemudian muncul panggilan Agus Salim menggantikan nama Masyhudul Haq.</p>
<p>Ceritanya, ketika Masyhudul Haq tiba di Jakarta ia mondok di rumah keluarga Belanda, keluarga orang tua Prof TH Kock. Di rumah ini ia diasuh oleh seorang perempuan pelayan yang berasal dari Jawa.</p>
<p>Menurut kebiasaan di Jawa, seorang pelayan memanggil anak lelaki tuannya denga sebutan ‘Gus’, yang berarti putera yang bagus. Lama kelamaan, ‘Gus’ ini menjadi panggilan Masyhudul Haq dengan tambahan huruf a di depannya. Maka jadilah nama ‘Agus’. Nama ini kemudian digabungkan dengan nama ayahnya menjadi ‘Agus Salim’. Sejak itu nama Masyhudul Haq ia tinggalkan, dan masyarakat kemudian lebih mengenalnya sebagai Agus Salim, sampai kini.</p>
<p>Lantaran kecerdasannya, Agus Salim dapat menyelesaikan pelajarannya di HBS (setingkat SMP-SMU) hanya lima tahun —dari yang seharusnya enam tahun. Setelah tamat HBS pada 1903, ia bermaksud meneruskan sekolahnya ke Eropa, namun gagal karena pemerintah kolonial Belanda sangat mempersulit jalan bagi anak-anak bumiputera yang ingin belajar ke sana. Kegagalan serupa juga dialaminya ketika guru-gurunya berusaha agar ia dapat meneruskan pelajarannya pada <em>School tot Opleiding van Inlansche</em> (STOVIA) dengan memperoleh beasiswa.</p>
<p>Kegagalan itulah yang tampaknya menyuburkan benih-benih kebencian Agus Salim terhadap pemerintah kolonial Belanda dan sekaligus menjadikannya otodidak. Ia hanya tamat sekolah setingkat SMA. Belum jelas apakah pengalaman hidupnya ini yang menyebabkan Agus Salim tidak menyekolahkan kedelapan anaknya di sekolah-sekolah formal tapi mendidiknya sendiri.<br />
Setelah mencoba bekerja di berbagai tempat, pada 1906 Agus Salim mendapat tawaran bekerja sebagai <em>dragoman</em> (ahli penerjemah) di konsulat Belanda di Jeddah. Pada mulanya ia enggan menerima tawaran itu. Namun, atas saran ibunya, tawaran itu akhirnya ia terima, apalagi ia melihat peluang yang sangat terbuka untuk menimba pengetahuan Islam di negara itu sambil bekerja.</p>
<p>Selama berada di Jeddah, Agus Salim sempat belajar agama dan bahasa Arab kepada para ulama yang mukim di Mekkah, termasuk kepada saudara sepupunya, Sheikh Ahmad Khatib yang telah bermukim di Tanah Haram itu. Lima tahun ia berada di Arab Saudi. Pada 1911 ia pulang ke Indonesia, dengan membawa pengetahuan diplomasi yang tinggi serta menguasai tidak kurang tujuh bahasa asing —Arab, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Turki, dan Jepang.</p>
<p>Setelah pulang dari Jeddah itulah, boleh dikata, perjuangan Agus Salim menentang penjajahan Belanda dimulai. Berbagai pekerjaan dan jabatan juga ia jalani —baik di organisasi politik maupun di pemerintahan. Antara lain, ia pernah memimpin surat kabar Neraca dan Ketua PSII (Partai Serikat Islam Indonesia).</p>
<p>Pada masa penjajahan Jepang ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah kemerdekaan, Agus Salim bergabung dalam Partai Masyumi (1945). Selanjutnya ia menjadi Menteri Muda Luar Negeri (Kabinet Syahrir II dan III/1946-1947) dan Menteri Luar Negeri (Kabinet Amir Syarifuddin dan Kabinet Hatta/1947-1949).</p>
<p>Yang menarik dari Haji Agus Salim adalah perhatian yang besar pada keluarganya &#8211;isteri dan anak-anaknya&#8211;, sesibuk apapun dia. Ini terlihat misalnya bagaimana ia mendidik sendiri seluruh anak-anaknya. Bahkan isterinya pun ia wajibkan mengikuti pelajaran yang ia berikan di rumah.Agus Salim menikah pada 1912, dengan gadis sedesanya, Zaitun Nahar. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai delapan anak. Mereka adalah Theodora Atia, Yusuf Taufik, Violet Hanisah, Maria Zenibiyang, Ahmad Syauket (meninggal dunia pada masa revolusi), Islam Basari, Siti Asiah, dan Mansur Abdurrahman Sidik.</p>
<p>Saat penganten baru, Agus Salim berpesan kepada isterinya agar banyak membaca dan berzikir. Sebab, katanya, setelah mereka mempunyai anak kemudian hari kemungkinan tidak akan disekolahkan formal. Anak-anak kelak akan dididik sendiri.</p>
<p>Apa yang telah diucapkannya kepada isterinya itu ternyata kemudian benar-benar ia laksanakan. Seluruh anaknya tidak ia sekolahkan. Mereka dididiknya sendiri. Tujuannya, menurut Agus Salim, adalah agar anak-anaknya tidak terpengaruh oleh pikiran dan kebudayaan kaum penjajah. Selain itu, ia ingin membentuk sikap dan kepribadian anak-anaknya sesuai dengan keinginannya.</p>
<p>Pelajaran yang ia berikan kepada anak-anaknya antara lain tulis-baca, bahasa, budi pekerti, dan pelajaran agama. Ia juga mendidik mereka agar bersifat kritis dan korektif. Sebab itu Agus Salim tak permah marah bila anak-anaknya membantah pendapatnya. Ia pun mengajak mereka berdiskusi, berargumentasi, agar pikiran mereka tidak membeku dan tidak bersikap <em>nrimo</em> saja.</p>
<p>Agus Salim telah lama meninggalkan kita, namun perbuatan yang sesuai dengan perkataannya akan selalu menjadi teladan generasi-generasi setelahnya. Ia wafat 20 hari setelah ulang tahunnya yang ke-70 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan pada 1954.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber : <a href="http://padang-today.com/">http://padang-today.com/</a></p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/h-agus-salim-suri-teladan-dari-koto-gadang/&via=aanchoto&text=H. Agus Salim : Suri Teladan dari Koto Gadang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/h-agus-salim-suri-teladan-dari-koto-gadang/&via=aanchoto&text=H. Agus Salim : Suri Teladan dari Koto Gadang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2008/10/h-agus-salim-suri-teladan-dari-koto-gadang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mohammad Hatta Proklamator dari Minangkabau</title>
		<link>http://aanchoto.com/2008/10/mohammad-hatta-proklamator-dari-minangkabau/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2008/10/mohammad-hatta-proklamator-dari-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 03:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/moh-hatta.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-236" title="moh-hatta" src="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/moh-hatta.png?w=102" alt="" width="102" height="96" /></a>Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.</p>
<p class="MsoNormal">Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.</p>
<p>Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.</p>
<p><strong>Masa Studi di Negeri Belanda</strong><br />
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. <span id="more-213"></span></p>
<p>Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen”–Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.</p>
<p>Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.</p>
<p>Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.</p>
<p>Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.</p>
<p>Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.</p>
<p><strong>Kembali ke Tanah Air</strong><br />
Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.</p>
<p>Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul “Soekarno Ditahan” (10 Agustus 1933), “Tragedi Soekarno” (30 Nopember 1933), dan “Sikap Pemimpin” (10 Desember 1933). Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.</p>
<p><strong>Masa Pembuangan</strong><br />
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari. Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid).</p>
<p>Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.</p>
<p><strong>Kembali Ke Jawa: Masa Pendudukan Jepang</strong><br />
Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.</p>
<p>Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”</p>
<p><strong>Proklamasi</strong><br />
Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.</p>
<p>Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh. Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.</p>
<p>Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.</p>
<p><strong>Periode Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia</strong><br />
Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.</p>
<p>Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata. Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.</p>
<p>Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.</p>
<p><strong>Periode Tahun 1950-1956</strong><br />
Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).</p>
<p>Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya. Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”.</p>
<p>Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.</p>
<p>Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.</p>
<p>Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.</p>
<p>Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara. Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber : <a href="http://padang-today.com/">http://padang-today.com/</a></p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/mohammad-hatta-proklamator-dari-minangkabau/&via=aanchoto&text=Mohammad Hatta Proklamator dari Minangkabau&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/mohammad-hatta-proklamator-dari-minangkabau/&via=aanchoto&text=Mohammad Hatta Proklamator dari Minangkabau&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2008/10/mohammad-hatta-proklamator-dari-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

