<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aan Choto 阿安國德 &#187; Psikologi</title>
	<atom:link href="http://aanchoto.com/category/pendidikan/psikologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aanchoto.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 16:18:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Teori – Teori Belajar (2)</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-2/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 16:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[B. Teori-teori belajar psikologi Kognitif Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>B. Teori-teori belajar psikologi Kognitif</strong><br />
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”</p>
<p>Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.<span id="more-570"></span><br />
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :</p>
<ol>
<li>Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.</li>
<li> Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.</li>
<li> Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.</li>
<li>Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.</li>
<li>Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.</li>
</ol>
<p><strong><br />
C. Teori-teori belajar psikologi Humanistik</strong><br />
Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Akan berhasil jika sipelajar telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pendang pengamatannya.</p>
<p>Tujuan utama para pendidik ialah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah:</p>
<p>1. Proses pemerolehan informasi baru,<br />
2. Personalisasi informasi ini pada individu</p>
<p>Tokoh-tokohnya antara lain :<br />
<strong>1. Arthur Combs (1912 &#8211; 1399)</strong><br />
Bersama dengan Donald Snygg (1904 &#8211; 1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu, guru tidak bisa mamaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting merek harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.</p>
<p>Untuk itu, guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha mengubah kenyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pembelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu, dengan kata lain individunya yang memberikan arti kepada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.</p>
<p>Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Main jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.</p>
<p><strong>2. Abraham Maslow</strong><br />
Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:<br />
1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang.<br />
2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.</p>
<p>Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam uapay untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis, seperti terdapat pada gambar berikut.<br />
Pada diri masing-masing, orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).</p>
<p>Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hierarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.</p>
<p><strong>3. Carl Rogers</strong><br />
Rogers membedakan dua tipe belajar yaitu:<br />
1. Kognitif (kebermaknaan)<br />
2. Experiential (pengalaman atau signifikansi)</p>
<p>Guru menghubungkan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai seperti mempelajari mesin dengan tujuan untuk memperbaki mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar. Experiential Learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.</p>
<p>Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:<br />
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.<br />
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.<br />
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.<br />
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.<br />
<strong><br />
Manfaat Teori Belajar Bagi Guru</strong></p>
<ol>
<li>Sebagai Landasan dalam penerapan materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian.</li>
<li>Memberi dorongan kepada siswa agar menjadi manusia yang bebas tidak terikat oleh pendapat orang lain dn mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma dan etika yang ada.</li>
<li>Dapat mengindentifikasikan keberhasilan aplikasi teori</li>
<li>Mengetahui berbagai macam prilaku atau ciri-ciri siswa dan menemukan cara-cara untuk menyikapinya.</li>
<li>Mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan dinamis.</li>
<li>Membantu menyalurkan dan mengoptimalkan potensi masing-masing siswa .</li>
</ol>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-2/&via=aanchoto&text=Teori – Teori Belajar (2)&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-2/&via=aanchoto&text=Teori – Teori Belajar (2)&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori &#8211; Teori Belajar (1)</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-1/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 16:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan tentang belajar, maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Beberapa aliran psikologi pendidikan : a. Psikologi Behavioristik b. Psikologi Kognitif c. Psikologi Humanistik Ketiga aliran psikologi pendidikan diatas tumbuh dan berkembang secara beruntun. Dalam setiap perkembangan aliran psikologi tersebut, maka&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan tentang belajar, maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat.<br />
Beberapa aliran psikologi pendidikan :<br />
a. Psikologi Behavioristik<br />
b. Psikologi Kognitif<br />
c. Psikologi Humanistik</p>
<p>Ketiga aliran psikologi pendidikan diatas tumbuh dan berkembang secara beruntun. Dalam setiap perkembangan aliran psikologi tersebut, maka munculah teori-teori belajar. Teori-teori yang ada dapat dikelompokkan menjadi :<br />
a. Teori-teori belajar dari Psikologi Behavioristik<br />
b. Teori-teori belajar dari Psikologi Kognitif<br />
c. Teori-teori belajar dari Psikologi Humanistik</p>
<p><strong>A. Teori-teori belajar dari Psikologi Behavioristik</strong><br />
Dikemukakan oleh para ahli psikolog behavioristik. mereka sering disebut &#8220;contemporary behaviorist&#8221;. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reiforcement) dari lingkungan.<span id="more-566"></span><br />
Ciri-ciri belajar dengan &#8220;trial and error learning&#8221; yaitu :</p>
<ol>
<li>Ada motivasi pendorong aktivitas</li>
<li>Ada berbagai respon terhadap situasi.</li>
<li>Ada eliminasi respon-respon yang gagal.</li>
<li>Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan</li>
</ol>
<p>Aliran psikologi yang mendasari teori belajar antara lain :</p>
<p><strong>1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.</strong><br />
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons  menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus &#8211; Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula  hubungan  yang terjadi antara Stimulus- Respons.</li>
<li>Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.</li>
<li>Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan  semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.</li>
</ul>
<p><strong><br />
2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov</strong><br />
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :</p>
<ul>
<li>Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.</li>
<li>Law of Respondent Extinction  yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.</li>
</ul>
<p><strong><br />
3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner</strong><br />
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :</p>
<ul>
<li>Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.</li>
<li>Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning  itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.</li>
</ul>
<p>Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.</p>
<p><strong>4. Social Learning menurut Albert Bandura</strong><br />
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.</p>
<p>Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-1/&via=aanchoto&text=Teori - Teori Belajar (1)&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-1/&via=aanchoto&text=Teori - Teori Belajar (1)&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/07/ruang-lingkup-psikologi-pendidikan/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/07/ruang-lingkup-psikologi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 16:57:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Ruang lingkup psikologi pendidikan menurut Good &#38; Broopy ( 1997 ) ·    Hubungan antara psikologi dengan guru ·    Manajemen kelas : Perkembangan dan sosialisasi anak kepemimpinan dan dinamika kelompok, modelling, reward, punishment, extinction. Hasil – hasil penelitian manajemen kelas, persiapan dan pelaksanaan pengajaran yang baik. ·    Mengurai masalah belajar : pengertian, prinsip, perbedaan individu dalam&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ruang lingkup psikologi pendidikan menurut Good &amp; Broopy ( 1997 )<br />
·    Hubungan antara psikologi dengan guru<br />
·    Manajemen kelas : Perkembangan dan sosialisasi anak kepemimpinan dan dinamika kelompok, modelling, reward, punishment, extinction. Hasil – hasil penelitian manajemen kelas, persiapan dan pelaksanaan pengajaran yang baik.<br />
·    Mengurai masalah belajar : pengertian, prinsip, perbedaan individu dalam belajar, model dan desain belajar dan prinsip pengajaran<span id="more-522"></span><br />
·    Pertumbuhan dan perkembangan dalam pendidikan : Prinsop dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial dan kepribadian, kreativitas dan aplikasinya dalam pendidikan<br />
·    Motivasi : Pengertian, teori dan aplikasinya dalam pendidikan<br />
·    Evaluasi dalam belajar : pengertian, macam, cara menyusun, prosedur penilaian, monitoring kemajuan siswa, validiras dan realibilitas penggunaan statistik dalam pengolahan hasil tes<br />
Namun menurut Sumadi Suryobroto ( 1984 ) Ruang Lingkup psikologi pendidikan meliputi :<br />
·    Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan<br />
·    Pembawaaan<br />
·    Lingkungan fisik dan psikologis<br />
·    Perkembangan siswa<br />
·    Proses – proses tingkah laku<br />
·    Hakekat dan ruang lingkup belajar<br />
·    Faktor yang mempengaruhi belajar<br />
·    Hukum dan teori belajar<br />
·    Pengukuran pendidikan<br />
·    Aspek praktis pengukuran pendidikan<br />
·    Transfer belajar<br />
·    Ilmu statistik dasar<br />
·    Kesehatan mental<br />
·    Pendidikan membentuk watak / kepribadian<br />
·    Kurikulum pendidikan sekolah dasar<br />
·    Kurikulum pendidikan sekolah menengah<br />
Menurut Elliot, dkk ( 1999 )<br />
Introduction to edicational psychology :<br />
·    Educational psychology : teaching and learning<br />
·    Research and educational psychology<br />
·    Deversity in the classroom : Culture, Class, and Gender<br />
The Development of student<br />
·    Cognitive and language development<br />
·    Psychosicial and moral development<br />
·    Excepcional students<br />
Learning teori and practice<br />
·    Behavioral psychology and learning<br />
·    Cognitive psychology and learning<br />
·    Thingking skill and problem solving strategies<br />
·    Motivation in the classroom<br />
Desaign and management of classroom instruction<br />
·    Planning for essential learning outcomes<br />
·    Effective teaching strategies and the desaign of instruction<br />
·    Classroom management : Organitation and control<br />
·    Teaching and technology<br />
Assesment learning and evaluating education<br />
·    Teacher construction test and perfomance assesment method<br />
·    Standardized test and rating scale in the classroom<br />
Manfaat Psikologi Pendidikan<br />
Menurut Moh Surya ( 1972 )<br />
·    Untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai pendidikan dan profesinya<br />
Menurut Chaplin ( 1972 )<br />
·    Untuk membantu memcahkan masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan yang meliputi guru, siswa, materi, metode, dalam masalah belajar – mengajar<br />
Terdapat beberapa macam – macam kegiatan yang memerlukan prinsip psikologis :<br />
·    Seleksi penerimaan siswa baru<br />
·    Perencanaan pendidikan<br />
·    Penyusun kurikulum<br />
·    Penelitian kependidikan<br />
·    Administrasi kependidikan<br />
·    Pemilihan materi pelajaran<br />
·    Interaksi belajar – mengajar<br />
·    Pelayanan bimbingan dan konseling<br />
·    Evaluasi belajar</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/ruang-lingkup-psikologi-pendidikan/&via=aanchoto&text=Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/07/ruang-lingkup-psikologi-pendidikan/&via=aanchoto&text=Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/07/ruang-lingkup-psikologi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Model dan Metode pokok Mengajar</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/06/model-dan-metode-pokok-mengajar/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/06/model-dan-metode-pokok-mengajar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 10:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[1. Model dan Metode pokok Mengajar a. Model information processing (tahapan pengolahan informasi) Model mengajar  jenis ini berorientasi pada kecakapan siswa dalam memproses         informasi  dan cara-cara mereka dapat memperbaiki kecakapan untuk menguasi informasi. Model mengajar jenis ini bertujuan agar ranah cipta siswa dapat berfungsi dan berkembang seoptimal mungkin. b. Model personal (pengembangan pribadi) Rumpun model&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Model dan Metode pokok Mengajar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>a. Model information processing (tahapan pengolahan informasi)</p>
<p>Model mengajar  jenis ini berorientasi pada kecakapan siswa dalam memproses         informasi  dan cara-cara mereka dapat memperbaiki kecakapan untuk menguasi informasi. Model mengajar jenis ini bertujuan agar ranah cipta siswa dapat berfungsi dan berkembang seoptimal mungkin.</p>
<p>b. Model personal (pengembangan pribadi)</p>
<p>Rumpun model personal pada umumnya berorientasi pada pengembangan pribadi siswa dengan lebih banyak memperhatikan kehidupan ranah rasa, terutama fungsi emosionalnya. Diharapkan dengan menggunakan model ini dapat menolong siswa dalam mengembangkan sendiri hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Siswa sebagai peaerta didik juga dapat menyadari dirinya sebagai seorang pribadi yang berkecakapan <em>(capable)</em> cukup untuk berinteraksi dengan pihak luar sehingga tercipta pola hubungan inter-personal yang kondusif.<span id="more-463"></span></p>
<p>c. Model sosial (hubungan bermasyarakat)</p>
<p>Model social adalah rumpun model mengajar yang menitikberatkan peda proses interaksi antar individu yang terjadi dalam kelompok individu tersebut. Rumpun model ini lazim juga disebut sebagai <em>interactife model </em>(model yang bersifat hubungan antar individu). Aplikasi model social diprioritaskan untik mengembangkan kecakapan individu siswa dalam berhubungan dengan orang lain atau masyarakat.</p>
<p>d. Model behaviorial (pengembangan perilaku)</p>
<p>Rumpun model mengajar pengembangan perilaku direkayasa atas dasar kerangka teori perilaku yang dihubungkan dengan proses belajar mengajar. Aktifitas mengajar, menurut teori ini, harus ditujukan pada perilaku baru atau berubahnya perilaku siswa kearah yang sejalan dengan harapan. Rumpun model mengajar behavorial banyak dilandasi oleh asumsi empiris bahwa segenap perilaku siswa adalah fenomena yang dapat diobservasi, diukur, dan dijabarkan dalam bentuk perilaku-perilaku khusus. Perilaku khusus inilah yang menjadi tujuan belajar siswa.</p>
<p>Metode mengajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa (Tardif, 1989).</p>
<p>Terdapat empat macam metode mengajar yang banyak digunakan pada setiap jenjang pendidikan formal:</p>
<p>1.  <em> Metode ceramah</em></p>
<p>Yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah adalah sebuah cara melaksanakan pengajaran yang dilakukan guru secara monolog dan hubungan satu arah.</p>
<p>Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi. Metode ini juga dipandang paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan daya paham siswa.</p>
<p><em>2. Metode diskusi</em></p>
<p>Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah <em>(problem solving)</em>.Tujuan penggunaan metode diskusi adalah untuk memotivasi dan memberi stimulasi kepada siswa agar berpikir dengan renungan yang dalam <em>(reflektife thinking)</em>.</p>
<p><em>3. Metode demonstarasi</em></p>
<p>Demonstrasi dalam penyajian informasi dapat diartikan sebagai peragaan atau pertunjukan tentang cara melakukan atau mengerjakan sesuatu. Tujuan pokok penggunaan metode demonstrasi dalam proses belajar-mengajar ialah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan proses melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu.</p>
<p><em>4. Metode ceramah plus</em></p>
<p>Metode ceramah plus dapat terdiri atas banyak metode campuran, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Metode ceramah plus tanaya jawab dan tugas (CPTT).</li>
<li>Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT).</li>
<li>Metode ceramah plus demonstrasi dan laihan (CPDL).</li>
</ul>
<p><strong>2. </strong><strong>Strategi dan Tahapan Mengajar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Strategi mengajar dapat didefenisikan sebagai sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.</p>
<p>Diantarar strategi-strategi mengajar itu terdapat sebuah strategi mengajar berdasarkan strategi kognitif yang masih relative actual. Strategi ini bernama <em>Strategy Program for Effective Learning/Teaching </em>disingkat SPELT. Strategi SPELT sengaja direkayasa untuk memperbaiki dan meningkatkan keefekifan belajar dan berpikir siswa. Secara eksplisit tujuan strategi ini ialah membuat siswa menjadi:</p>
<ol>
<li>Penuntut ilmu yang aktif sebagai pemikir dan pemecah masalah;</li>
<li>Penuntut ilmu yang mandiri, memiliki rencana dan strategi sendiri yang efisien dalam mendekati belajar;</li>
<li>Penuntut ilmu yang lebih sadar dan lebih mampu dalam mengendalikan proses berpkirnya sendiri <em>(metacognitife awareness)</em>.</li>
</ol>
<p>Tahapan-tahapan dalam proses mengajar memiliki hubungan erat dengan penggunaan strategi mengajar. Maksudnya ialah bahwa dalam setiap penggunan strategi mengajar harus selalu merupakan rangkulan yang utuh dalam tahapan-tahapan mengajar. Setiap proses mengajar harus melalui tiga tahapan sebagai berikut.</p>
<p>1)       <em>Tahap prainstruksional</em></p>
<p>Merupakan langkah persiapan yang ditempuh guru pada saat mulai memasuki kelas hendak mengajar. Pada tahap ini guru dianjurkan memeriksa kehadiran siswa, kondisi kelas, dan kondisi peralatan yang tersedia dalam alokasi waktu yang sinkat.</p>
<p>2)       <em>Tahap instruksional</em></p>
<p>Tahap ini adalah tahap inti dalam proses pengajaran. Pada tahap ini guru menyajikan materi pelajaran (pokok bahasan) yang disusun lengkap dengan persiapan model, metode dan strategi mengajar yang dianggap cocok.</p>
<p>3)       <em>Tahap instruksi dan tindak lanjut</em></p>
<p>Tahap terakhir proses belajar mengajar terdiri atas kegiatan evaluasi dan tindak lanjut (<em>follow up)</em>. Pada tahap ini guru melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa yang berlangsung pada tahap instruksional. Caranya adalah dengan mengadakan post test.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Proses pembelajaran yang Efektif</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Proses pembelajaran yang efektif dapat terwujud melalui kegiatan yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut.</p>
<p><em>Pertama, berpusat kepada siswa. </em> Dalam keseluruhan proses pembelajaran, siswa merupakan subjek utama. Oleh karena itu, dalam proses ini, siswa menjadi perhatian uama dari para guru. Semua bentuk aktifitas hendaknya diarahkan untuk membantu perkembanga siswa. Keberhasilan proses pembelajaran terletak dalam perwujidan diri siswa sebagai priadi mandiri, pelajar efektie, dan pekerja produktif.</p>
<p><em>Kedua, interaksi edukatif antar guru dan siswa.</em> Dalam proses pembelajaran, hendaknya terjalin hubungan yang bersifay edukatif. Guru tidak hanya sekadar penyampai bahan yang harus dipelajari, tetapi sebagai figur yang dapat merangasang perkembangan pribadi siswa. Interaksi antar guru dengan siswa hendaknya berdasarkan sentuhan-sentuhan psikologis, yaitu adanya saling memahami antar guru dengan siswa.</p>
<p><em>Ketiga, suasana demokratis.</em> Suasana demokratis dalam kelas akan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih mewujudkan dan mengembangkan hak dan kewajibannya. Suasana demokratis dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran melalui hubungan guru dengan siswa.</p>
<p><em>Keempat, variasi metode mengajar.</em> Tidak satupun metode mengajar itu efektif untuk seluruh materi dan bahan pelajaran. Satu metode mungkin cocok untuk bahan tertentu, tetapi tidak cocok untuk bahan yang lain. Oleh karena itu, guru harus bisa memilih metode yang tepat dan sesuai dengan bahan yang diajarkan. Dengan metode yang bervariasi, sesuai dengan tujuan, bahan, dan situasi, akan menimbulkan rasa senang pada siswa, tidak cepat bosan atau jenuh, dan siswapun akan semangat untuk belajar.</p>
<p><em>Kelima, guru professional. </em>Proses pembelajaran yang efektif hanya mungkin bisa terwujud apabila dilaksanakan oleh guru professional dan dijiwai semangat professionalisme yang tinggi. Guru yang professional adalah guru yang memiliki keahlian yang memadai, rasa tanggung jawab yang tinggi, serta memiliki rasa kebersamaan dengan rekan sejawatnya.</p>
<p><em>Keenam, bahan yang sesuai dan bermanfaat.</em> Bahan yang diajarkan guru bersumber dari kurikulum yang telah ditetapkan secara relative baku. Tugas guru adalah mengolah dan mengembamgkan bahan pengajaran menjadi sajian yang dapat dicerna oleh siswa secara tepat  dan bermakna. Oleh sebab itu bahan yang diajarkan harus sesuai dengan kemampuan, kondisi siswa, dan lingkungannya, sehingga memberikan makana dan faedah bagi siswa.</p>
<p><em>Ketujuh, lingkungan yang kondusif.</em> Keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh faktor lingkungan. Lingkungan yang kondusif adalah lingkungan yang dapat menunjang bagi proses pembelajaran yang efektif.</p>
<p><em>Kedelapan, sarana pembelajaran yang menunjang.</em> Proses pembelajaran yang efektif akan terwujud apabila ditunjang oleh sarana yang baik. Sarana belajar yang secara langsung terkait denganproses pembelajaran adalah alat bantu mengajar. Mengingat banyaknya alat bantu mengajar, maka tugas guru memilih alat mana yang benar-benar sesuai dan menunjang  kegiatan pengajaran. Untuk menentukan alat mana yang sesuai dan menunjang kegiatan pembelajaran, mestilah melihat tujuan, bahan, metide dan situasi pengajaran.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/06/model-dan-metode-pokok-mengajar/&via=aanchoto&text=Model dan Metode pokok Mengajar&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/06/model-dan-metode-pokok-mengajar/&via=aanchoto&text=Model dan Metode pokok Mengajar&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/06/model-dan-metode-pokok-mengajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hereditas dan lingkungan dalam proses belajar</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/04/hereditas-dan-lingkungan-dalam-proses-belajar/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/04/hereditas-dan-lingkungan-dalam-proses-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 12:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian hereditas dan lingkungan Pengertian hereditas Hereditas adalah pewarisan atau pemindahan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua.[1] Menurut Witherington, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.[2] Setiap sel dalam tubuh memiliki herditas identik sebagai akibat dari&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Pengertian hereditas dan lingkungan</strong></p>
<li>Pengertian hereditas</li>
<p>Hereditas adalah pewarisan atau pemindahan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Menurut Witherington, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Setiap sel dalam tubuh memiliki herditas identik sebagai akibat dari adanya proses individu dan differensiasi. Hereditas juga merupakan factor pertama yang mempengaruhi perkembangan indvidu. Setiap individu memulai kehidupannya sebagai organism yang bersel tunggal yang bentuknya sangat kecil, garis tengahnya lebih kurang 1/200 inci (1/80 cm). sel ini merupakan perpaduan antara sel telur dengan sel sperma. Di dalam rahim, sel benih yang telah dibuahi teris bertambah besar dengan jalan pembelahan sel menjadi organism yang bersel dua, empat, delapan, dst. Hingga setekah kurang lebih 9 bulan menjadi organism yang sempurna.<span id="more-363"></span></p>
<p>Dapat diketahui bahwa perkembangan hasil-hasil kebudayaan yang di peroleh  dalam suatu generasi tidak dapat di turunkan ke generasi berikutnya secara biologis karena antara sel-sel benih dengan sel-sel somatis nampaknya ada semacam statesqo. Sehingga perubahan-perubahan yang terjadi pada sel – sel somatis tidak mempengaruhi keadaan sel-sel benih</p>
<p>Menurut Witherington, proses factor keturunan ini bekerja melalui prinsip-prinsip sabagai berikut :<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<li>Prinsip stabilitas</li>
<p>Pada prinsip stabilitas, hereditas , itu berproses dengan perantara sel-sel benih, dan tidak melalui sel-sel somatic atau sel-sel badan. Artinya bahwa ciri-ciri yang dipelajari natau diperoleh oleh orang tua , tidak akan ditentukan  kapada anak.</p>
<li>Prinsip konformitas</li>
<p>Pada prinsip ini menyatakan bahwa jenis menghasilkan jenis atau setiap golongan menurunkan golongannya. Sendiri. Anak termasuk kedalam golongan yang serupa dari golongan  orang tuanya.</p>
<li>Prinsip variasi</li>
<p>Pada prinsip ini  menyatakan  bahwa sel-sel benih mengandung determinan- determinan yang banyak  jumlahnya , pada waktu  penyerbukan ovum saling berkomunikasi  dalam cara yang berbeda –beda untuk menghasilkan  anak yang  saling berbeda . jadi prinsip variasi  ini berlaku dalam batas-batas  yang ditentukan  oleh pola-pola rasial umum.</p>
<li>Prinsip regresi  filial</li>
<p>Pada prinsip ini menyatakan  bahwa pada  setiap sifat  atau ciri  manusia anak memperlihatkan  kecenderungan  menuju keadaan rata-rata. Artinya , bahwa anak  orang tua  yang sangat  cerdas biasanya  condong untuk menjadi anak yang kurang  cerdas  dari pada orang yang  tuanya, dan sebaliknya.</p>
<li>Pengertian lingkungan
<li>Pengertian lingkungan menurut psikologi ialah segala sesuatu yang ada di dalam  atau di luar individu yang bersifat mempengaruhi sikap, tingkah laku  atau perkembangannya. Lingkungan itu wujudnya dapat berupa benda – benda atau objek-objek alam, orang-orang dan karyanya serta berupa fakta-fakta  objektif yang terdapat  dalam diri individu, seperti kondisi  organ, perubahan –perubahan organ dan lain-lain.</li>
<li>Secara Fisiologis, lingkungan  meliputi segala  kondisi  dan material  jasmani di dalam tubuh, seperti  gizi, vitamin, ar, system saraf, dan kesehatan jasmani.</li>
<li>Secara Kultural  lingkungan  mencakup segenap stimulasi, interaksi, dan kondisi dalam hubungan nya dengan perlakuan atau karya orang lain.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Pengaruh Hereditas dan lingkungan terhadap  pertumbuhan individu</strong>
<li>Pengaruh hereditas terhadap pertumbuhan individu</li>
</li>
</ol>
<p>Pertumbuhan adalah suatu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari  bagian- bagian  tubuh atau dari organism e sebagai suatu  keseluruhan . pertumbuhan menunjukan  pada perubahan  kuantitatif , yaitu  yang dapat di hitung  atau  diukur, seperti  panjang  atau berat tubuh .<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Keturunan memiliki peranan penting  dalam pertumbuhan  dan perkembangan anak . warisan (turunan/pembawaan) tersebut antara lain:</p>
<ol>
<li>Bentuk tubuh dan warna  kulit</li>
</ol>
<p>Pengaruh turunan terhadap pertumbuhan jasmani anak. Bagaimanapun tingginya teknologi untuk mengubah bentuk dan warna kulit seseorang, namun factor turunan tidak dapat diabaikan begitu saja. Contohnya, bila anak yang berpembawaan rambut keriting, bagaimanapun berusaha untuk meluruskannya akhirnya akan kembali keriting.</p>
<ol>
<li>Sifat – sifat</li>
</ol>
<p>Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah atau kakek dan nenek, seperti penyabar, pemarah, kikir, dll.</p>
<ol>
<li>Intelegensi</li>
</ol>
<p>Intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Misalnya , mengngat, memahami, berbahasa dan sebagainya.</p>
<ol>
<li>Bakat</li>
</ol>
<p>Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang, seperti seni music, matematika, teknik, agama.</p>
<ol>
<li>Penyakit</li>
</ol>
<p>Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<ol>
<li>Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan individu</li>
</ol>
<p>Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.</p>
<ol>
<li>Keluarga</li>
</ol>
<p>Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga berada, umumnya sehat dan cepat pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak dari keluarga miskin. Jadi keluarga berpengaruh besar  terhadap pertumbuhan, terutama ekonomi rumah tangga serta kemamouan orang tua dalam merawat pertumbuhan jasmani anak.</p>
<ol>
<li> Sekolah</li>
</ol>
<p>sekolah merupakan salah satu factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk kecerdasannya. Tnggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya menentukan pola piker serta kepribadian anak.</p>
<ol>
<li>Keadaan alam sekitar</li>
</ol>
<p>Lingkungan mempengaruhi setiap pertumbuhan fisik anak. Seperti, suhu,makanan ,keadaan gizi, aktivitas ,dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.</p>
<p>Ada 4 macam tingkah laku manusia, yaitu;</p>
<ol>
<li>Insting, yaitu aktivitas yang hanya menuruti kodrat dan tidak melalui belajar.</li>
<li>Habits, yaitu kebiasaan yang dihasilkan dari pelatihan yang berulang- ulang.</li>
<li>Native behavior, yaitu tingkah laku pembawaan.</li>
<li>Acquired behavior, yaitu tingkah laku yang diperoleh sebagai hasil dari belajar.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>C. </strong><strong>Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan individu</strong>
<ol>
<li>Pengaruh hereditas terhadap perkembangan individu</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Perkembangan adalah serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi- fungsi  jasmani dan rohani yang dimiliki indivdu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan dan belajar.</p>
<p>Manusia dilahirkan dengan struktur jasmani seperti system syaraf, kelenjer dan organ. Semua itu menentukan stabilitas amosi serta membedakan kapasitas mental, maka kesehatan mental dan emosi lebih banyak dpengaruhi oleh hereditas.</p>
<ol>
<li>Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan individu</li>
</ol>
<p>Lingkungan perkembangan anak adalah keseluruhan fonomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik atau social yang mempengaruhi perkembangan anak.</p>
<ol>
<li>Keluarga</li>
</ol>
<p>Keluarga memiliki peranan dalam upaya pengembangan pribadi anak perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nlai- nilai kehidupan, baik agama maupun social budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.</p>
<ol>
<li>Sekolah</li>
</ol>
<p>Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan proses bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu anak agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-sriritual, intelektual, emosional, maupun social.</p>
<ol>
<li>Kelompok teman sebaya</li>
</ol>
<p>Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosia bagi anak berpengaruh terhadap terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, yaitu:</p>
<p>-          Perubahan struktur keluarga, dari keluarga besar ke keluarga kecil.</p>
<p>-          Kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda.</p>
<p>-          Ekspansi jaringan kumunikasi antara kaula muda.</p>
<p>-          Panjangnya masa atau penundaan memasuki masyarakat orang dewasa.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Drs. Wasti sumanto .M.pd. psikologi pendidikan .Jakarta(PT.Rineka cipta :2006) hal 82</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Drs. H.M.Arifin M.ed. psikologi dan beberapa aspek kehidupan rohaniah manusia.jakarta (PT.Bulan Bintang: 1976)hal 124</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid hal 126</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Desmita . Psikologi perkembangan .Bandung (PT. Remaja Rosda Karya: 2005) hal 5</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Drs. Anwar Bey Hasibuan . psikologi pendidikan . Medan (Pustaka widiaSarana :1994) hal 25</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/hereditas-dan-lingkungan-dalam-proses-belajar/&via=aanchoto&text=Hereditas dan lingkungan dalam proses belajar&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/hereditas-dan-lingkungan-dalam-proses-belajar/&via=aanchoto&text=Hereditas dan lingkungan dalam proses belajar&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/04/hereditas-dan-lingkungan-dalam-proses-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Guru Sebagai Pengajar dan Pembimbing</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/04/peranan-guru-sebagai-pengajar-dan-pembimbing/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/04/peranan-guru-sebagai-pengajar-dan-pembimbing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 12:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Guru sebagai pengajar Sebagai pengajar profesional mengajar yang baik bukan sekedar persoalan teknik-teknik dan metedologi belajar siswa. Salah satu tugas guru yang harus dilaksanakan di sekolah adalah memberikan layanan kepada siswa adalah agar mereka menjadi anak didik yang selaras dengan tujuan sekolah. Guru harus memberikan ilmu yang dimilikinya kepada peserta didik dengan rasa tanggung jawab&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Guru sebagai pengajar</li>
</ul>
<p>Sebagai pengajar profesional mengajar yang baik bukan sekedar persoalan teknik-teknik dan metedologi belajar siswa. Salah satu tugas guru yang harus dilaksanakan di sekolah adalah memberikan layanan kepada siswa adalah agar mereka menjadi anak didik yang selaras dengan tujuan sekolah. Guru harus memberikan ilmu yang dimilikinya kepada peserta didik dengan rasa tanggung jawab dan <span id="more-361"></span>dedikasi yang tinggi. Terdapat beberapa hal yang dapat / perlu dilakukan guru dalam pembelajaran yakni:</p>
<ol>
<li>Membuat ilustrasi</li>
<li>Medefinisikan</li>
<li>Menganalisis</li>
<li>Mensintesis</li>
<li>Bertanya</li>
<li>Merespon</li>
<li>Mendengar</li>
<li>Menciptakan kepercayaan</li>
<li>Memberikan pandangan yang bervariasi</li>
<li>Menyesuaikan metode pembelajaran dengan situasi dan keadaan kelas</li>
<li>Mengevaluasi hasil belajar siswa.</li>
</ol>
<ul>
<li>Guru sebagai pembimbing</li>
</ul>
<p>Tugas membimbing memiliki pengertian bahwa guru dapat mengarahkan dan mengendalikan sikap, kemampuan, potensi dan pribadi murid kearah pencapaian tujuan pendidikan yang seutuhnya. Guru harus merumuskan tujuan secara jelas menetapkan, dan tempat proses belajar mengajar, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk pengajaran serta menilai kelancaran proses belajar mengajar.</p>
<p>Dapat disimpulkan bahwa sebagai pembimbing guru memerlukakan kompentensi yang tinggi untuk melaksanakn lima tugas pokoknya sebagai pembimbing yaitu:</p>
<ol>
<li>Merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang  akan dicapai</li>
<li>Melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran</li>
<li>Memaknai kegiatan belajar</li>
<li>Bekerjasama dengan masyarakat, lembaga dan instansi lainnya untuk keberhasilan pembelajaran dan pengembangan pendidikan kearaha yang lebih baik.</li>
</ol>
<p>Sehingga pada akhirnya jika guru dapat mengemban tugas sebagai pengajar dan pembimbing dengan baik maka keberhasilan peningkatan mutu serta kualitas pendidikan akan dicapai.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/peranan-guru-sebagai-pengajar-dan-pembimbing/&via=aanchoto&text=Peranan Guru Sebagai Pengajar dan Pembimbing&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/peranan-guru-sebagai-pengajar-dan-pembimbing/&via=aanchoto&text=Peranan Guru Sebagai Pengajar dan Pembimbing&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/04/peranan-guru-sebagai-pengajar-dan-pembimbing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problem Yang Dihadapi Guru</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/04/problem-yang-dihadapi-guru/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/04/problem-yang-dihadapi-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 12:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Guru memiliki berbagai problem yang dapat mempengaruhi murid dan pekerjaannya dalam mengajar. Diantara problema itu adalah: Pendidikan yang dilaluinya pada masa permulaan hidupnya. Mungkin guru itu telah menyimpan rasa dendam yang terbina sejak masa kecilnya. Maka ia menemukan murid-murid yang masih kecil itu sebagai lapangan yang mudah untuk pembalasan, tampak dalam pukulan, pembatasan gerak, menumpukkan&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Guru memiliki berbagai problem yang dapat mempengaruhi murid dan pekerjaannya dalam mengajar. Diantara problema itu adalah:</p>
<ol>
<li> Pendidikan yang dilaluinya pada masa permulaan hidupnya. Mungkin guru itu telah menyimpan rasa dendam yang terbina sejak masa kecilnya. Maka ia menemukan murid-murid yang masih kecil itu sebagai lapangan yang mudah untuk pembalasan, tampak dalam pukulan, pembatasan gerak, menumpukkan tugas, dan sangat keras dalam ujian dan sebagainya.<span id="more-356"></span></li>
<li>Terdapat dalam kehidupan guru itu kompleks rasa rendah diri, yang untuk kompensasinya dilakukan melalui tugas mengajar dan dalam memang didapat  kesempatan untuk konpensasi itu, yang jarang terdapat dalam jabatan lain.</li>
<li>Suasana yang tidak menyenangkan seperti kurang gaji, tertekan, tekanan ujian para pengawas dan kepala-kepala sekolah dan sebagainya.</li>
<li>Kurangnya tingkat penghargaan pemerintah dan perbandingan dirinya dengan teman-temannya dalam bidang lain dari segi ekonomi dan sosial.</li>
</ol>
<p>Meskipun banyak problem yang dialami guru namun juga terdapat kesalahan yang justru dilakukan oleh guru sendiri, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran</li>
<li>Menunggu peserta didik berprilaku negatif</li>
<li>Menggunakan destructive discipline</li>
<li>Diskriminatif terhadap murid</li>
<li>Memaksa peserta didik</li>
</ol>
<p>Selain hal diatas ada berbagai sumber atau sebab lain guru mempunyai problem atau masalah pribadi yaitu:</p>
<ol>
<li>Karena faktor kesehatan</li>
<li>Karena faktor ekonomi</li>
<li>Karena sosial guru dimasyarakat</li>
</ol>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/problem-yang-dihadapi-guru/&via=aanchoto&text=Problem Yang Dihadapi Guru&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/problem-yang-dihadapi-guru/&via=aanchoto&text=Problem Yang Dihadapi Guru&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/04/problem-yang-dihadapi-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajar dan Peranan Guru</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/04/mengajar-dan-peranan-guru/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/04/mengajar-dan-peranan-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 12:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[1. Mengajar Istilah mengajar secara umum dipahami oleh orang terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi kependidikan, ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa. Dengan demikian tujuannya pun hanya berkisar sekitar pencapaian penguasaan siswa atas sejumlah pengetahuan dan kebudayaan. Dari pengetahuan semacam ini timbul gambaran bahwa peranan dalam proses pengajaran hanya&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Mengajar</p>
<ol></ol>
<p>Istilah mengajar secara umum dipahami oleh orang terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi kependidikan, ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa. Dengan demikian tujuannya pun hanya berkisar sekitar pencapaian penguasaan siswa atas sejumlah pengetahuan dan kebudayaan. Dari pengetahuan semacam ini timbul gambaran bahwa peranan dalam proses pengajaran hanya dipegang oleh guru, sedangkan murid dibiarkan pasif.</p>
<p>Menurut Witheringtone (1986 : 1135) bahwa mengajar adalah “teacher activity is to stimulaty learning activity, teaching is not routine process, it s original, invenitive, kreative” (mengajar adalah pentransferan pengetahuan kepada anak didik yang berlangsung dalam suatu kondisi yang disengaja untuk diciptakan, untuk mengantarkan anak didik kearah kemajuan dan kebaukan).</p>
<p>Tison dan Caroll (1970) setelah secara seksama mempelajari sejumlah teori pengajaran menyimpulkan bahwa mengajar” sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan”.<span id="more-353"></span></p>
<p>Biggs (1991) seorang ahli psikologi kognitif masa kini, membagi konsep belajar menjadi 3 macam pengertian :</p>
<ol>
<li>Pengertian kuantitatif (yang menyangkut jumlah pengetahuan yang diajarkan)</li>
<li>Pengertian instusional (yang menyangkut kelembagaan atau sekolah)</li>
<li>Pengertian kualitatif (yang menyangkut mutu hasil yang ideal)</li>
</ol>
<p>Mengajar secara umum diartikan sebagai suatu aktifitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar mengajar dengan kondisi yang kondusif. Selanjutnya mengingat tuntutan psikologis dan sosiologis yang tercermin dalam perundang-undangan kependidikan di negara kita, sudah selayaknya mengajar itu diartikan secara representatif dan konprehensif dalam arti menyentuh segenap aspek psikologis siswa. Kedudukan guru dalam pengertian ini sudah tidak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau  sekolah, tetapi dianggap sebagai “manager of learning” yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu pera siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh menyeluruh.</p>
<p>2. Peranan Guru</p>
<ol></ol>
<p>Peranan (role) guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Guru mempunyai peranan yang amat luas baik di sekolah keluarga dan didalam masyarakat. Dalam kamus besar bahasa indonesia edisi kedua 1991. Guru diartikan sebagai “ orang yang pekerjaannya mengajar, namun guru yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah pendidik profesional yang wajib memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan” (UU Sisdiknas 2003 Bab XI pasal 40 ayat 26). Guru sebagai pendidik ataupun pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaharuan kurikulum, pengadaan alat belajar sampai kepada kriteria sumber daya manusia yang dihasilkan oleh usaha pendidikan selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan betapa signifikan peran guru dalam dunia pendidikan.</p>
<p>Guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran. Guru pun dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa. Dalam proses belajar mengajar, guru bisa sebagai motivator belajar .</p>
<p>Berdasarkan pembahasan mengenai guru diatas dalam arti luas guru mengemban peranan-peranan sebagai:</p>
<p><strong>a. </strong><strong>Ukuran kognitif</strong></p>
<p>Guru adalah sebagai pewaris dan pemberi pengetahuan, keterampilan, kebudayaan, nilai-nilai dan norma kepada generasi muda (peserta didik)</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Sebagai agen moral dan politik</strong></p>
<p>Guru sebagai agen moral berfungsi mendidik dan peserta didik mampu menyusun huruf menjadi kata, pandai berhituna, dan pandai dalam kemampuan kognitif lainnya. Sebagai agen politik guru berperan memberikan kesadaran politik, pengetahuan politik, serta kultur dan tindakan politik masyarakat kepada peserta didik melalui pengajaran dalam kelas.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Guru sebagai fasilitator</strong></p>
<p>Guru sebagai fasilitator bertugas memberi kemudahan kepada peserta didik seperti memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok atau pengamalan kelas. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan dan kelompok yang bersifat lebih umum. Guru mencoba mengatur dan menjadikan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa membantu mencapai tujuan mereka.</p>
<p><strong>d. </strong><strong>Sebagai inovator</strong></p>
<p>Peran guru / tanggung jawab guru sebagai inovator diantaranya terletak pada penyelenggaraan pendidikan di sekolah, melalui penyebaran gagasan baru dan metode-metode baru dalam belajar.</p>
<p><strong>e. </strong><strong>Sebagai peranan kooperatif</strong></p>
<p>Dalammelaksanakan tugas dan kewajibannya guru tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan individualnya semata, diperlukan integrasi dan kerjasama antara sesama guru ataupun dengan pihak terkait lainnya.</p>
<p>Secara sempit <strong><em>peranan guru</em></strong> sebagai berikut:</p>
<p><strong>a. </strong><strong>Korektor</strong></p>
<p>Guru harus dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan mana yang benar, serta memberikan koreksi dan penilaian terhadap tingkah laku peserta didik dan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik.</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Inspirator</strong></p>
<p>Guru harus dapat memberikan nilai dan ilmu yang baik, bagi kemajuan peserta didik. Guru juga harus dapatmenjadi inspirasi dan memberikan ide serta gagasan baru pada peserta didik.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Informator</strong></p>
<p>Selain sebagai pendidik / pengajar, guru juga harus bisa memberikan informasi-informasi yang bermanfaat dan informasi tersebut absolute untuk menunjang penambahan informasi bagi peserta didik.</p>
<p><strong>d. </strong><strong>Motivator </strong></p>
<p>Guru berperan sebagai motivator dimana guru memberikan motivasi-motivasi bagi para peserta didik.</p>
<p><strong>e. </strong><strong>Demonstrator</strong></p>
<p>Guru berusaha memberikan pengarahan dan memberikan penjelasan serta pemahaman terhadap hal-hal yang tidak dipahami ataupun sulit dimengerti oleh peserta didik.</p>
<p>Disisi lain beberapa pakar pendidikan dan pemerhati pendidikan menyatakan bahwa peranan utama guru dalam PBM adalah senagai “<strong><em>director of learning</em></strong>” (direktur belajar ) artinya setiap guru diharapkan untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan belajar sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan PBM. Dengan demikian, seakin jelaslah bahwa peranan guru dalam dunia pendidikan modern seperti sekarang ini semakin meningkat dari sekedar pengajar menjadi direktur belajar. Konsekuensinya tugas dan tanggung jawab guru pun menjadi lebih kompleks dan berat pula.</p>
<p>Dalam proses belajar mengajar guru bisa juga sebagai pembimbing belajar. Sebagai <strong>pembimbing </strong>dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk:</p>
<ol>
<li>Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok</li>
<li>Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar</li>
<li>Memberikakan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya</li>
<li>Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah ribadi yang dihadapinya</li>
<li>Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.</li>
</ol>
<p>Pengajar (guru) akan mampu mengajar dengan baik apabila:</p>
<ol>
<li>Memiliki sikap dasar yang benar yaitu bertindak sebagai pembimbing dan menghindari corak hubungan yang berjarak antara pengajar dan pelajar serta memahami tujuan dan kesulitan pelajaran.</li>
<li>Memiliki sasaran yang benar yaitu mewujudkan untuk mengembangkan pribadi belajar dan bukan memberikan informasi dan menyadari bahwa tujuan jangka panjang adalah perkebangan optimal dan pribadi pelajar sehingga tercapai kepuasan pribadi dan produktivitas kerja yang optimal.</li>
<li>Memiliki informasi yang faktual yang diperlukan.</li>
<li>Memahami berbagai macam metode dan teknik dan bagaimana memilihnya.</li>
<li>Membantu pelajar dalm merencanakan tindak lanjut, oleh karena itu para pengajar seyogyannya mendiskusikan masalah-masalah secara baik sebelum kegiatan belajar berakhir.</li>
</ol>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/mengajar-dan-peranan-guru/&via=aanchoto&text=Mengajar dan Peranan Guru&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/mengajar-dan-peranan-guru/&via=aanchoto&text=Mengajar dan Peranan Guru&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/04/mengajar-dan-peranan-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psikologi Pendidikan</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/04/psikologi-pendidikan/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/04/psikologi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 02:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[1. Apa itu  Psikologi ? Secara etimologis, psikologi diambil dari bahasa inggris psychology yang berasal dari bahasa Yunani. Psyche yang berarti jiwa (soul, mind) dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian kata “ jiwa” bukanlah kata yang mudah dipahami begitu saja, sebab jiwa memiliki arti yang beragam dan masih sangat kabur. Burno (1987) membagi&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Apa itu  Psikologi ?<br />
Secara etimologis, psikologi diambil dari bahasa inggris psychology yang berasal dari bahasa Yunani. Psyche yang berarti jiwa (soul, mind) dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian kata “ jiwa” bukanlah kata yang mudah dipahami begitu saja, sebab jiwa memiliki arti yang beragam dan masih sangat kabur.</p>
<p>Burno (1987) membagi pengertian dalam tiga bagian yang pada prinsipnya saling berhubungan.<br />
1. Psikologi adalah studi mengenai ruh<br />
2. Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental<span id="more-350"></span><br />
3. Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku organisme</p>
<p>Dalam ensiklopedi Pendidikan, Poebakawadja dan Harahap (1981) membatasi arti psikologi sebagai “ cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”.</p>
<p>2.  Apa itu Pandidikan ?<br />
Pengertian pendidikan<br />
Secara garis besar pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu<br />
1. pendidikan<br />
2. teori umun pendidikan<br />
3. ilmu pendidikan</p>
<p>Pengertian yang pertama mengacu kepada pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada dimuka bumi.<br />
Fungsi pendidikan adalah menyiapkan peserta didik “menyiapkan” diartikan bahwa peserta didik hakikatnya belum siap, tetap perlu disiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri.</p>
<p>3. Dan apa itu Psikologi Pendidikan ?<br />
Istilah psikologi pendidikan pada dasarnya terdiri dari dua kata yaitu ”psikologi” dan “pendidikan”. Psikologi yang dalam istilah lama disebut “ilmu jiwa” berasal dari bahasa inggris psychology. Sebelum menjadi disiplin ilmu yang mendiri, psikologi memiliki akar-akarnya yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga sekarang masih tampak pengaruhnya.<br />
Adapun ruang lingkup psikologi pendidikan yaitu:<br />
a.    Context of teaching and learning (situasi atau tempat yang berhubungan dengan mengajar dan belajar)<br />
b.    Process of teaching and learning (tahapan-tahapan dalam mengajar dan belajar)<br />
c.    outcomes of learning and teaching (hasil-hasil yang dicapai oleh proses mengajar dan belajar)</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/psikologi-pendidikan/&via=aanchoto&text=Psikologi Pendidikan&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/04/psikologi-pendidikan/&via=aanchoto&text=Psikologi Pendidikan&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/04/psikologi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

