<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aan Choto 阿安國德 &#187; Administrasi Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://aanchoto.com/category/pendidikan/administrasi-pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aanchoto.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 16:18:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Administrasi Humas</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/12/administrasi-humas/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/12/administrasi-humas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 10:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Administrasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian Humas Hubungan Masyarakat, atau sering disingkat humas (bahasa Inggris : public relation) adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik, sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu / organisasi. Sebagai sebuah profesi. mendidik, meyakinkan, akan sesuatu atau membuat masyarakt mengerti dan menerima sebuah institusi. Seorang humas selanjutnya diharapkan untuk membuat program &#8211;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Pengertian Humas</strong></p>
<p>Hubungan Masyarakat, atau sering disingkat humas (bahasa Inggris : public relation) adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik, sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu / organisasi. Sebagai sebuah profesi. mendidik, meyakinkan, akan sesuatu atau membuat masyarakt mengerti dan menerima sebuah institusi. Seorang humas selanjutnya diharapkan untuk membuat program &#8211; program sebuah institusi dalam mengambil tindakan secara sengaja dan terencana dalam upaya &#8211; upayanya mempertahankan, dan memelihara pengertian bersama antara organisasi dan masyarakatnya.<span id="more-897"></span></p>
<p><strong>B. Komponen – Komponen</strong></p>
<p>1.      kegiatan konseling</p>
<p>2.      penelitian</p>
<p>3.      hubungan dengan media</p>
<p>4.      pulbisitas</p>
<p>5.      hubungan dengan komunitas</p>
<p>6.      kegiatan masyarakat</p>
<p>7.      kegiatan pemerintah</p>
<p>8.      kejadian yang berkenaan dengan manajemen</p>
<p>9.      hubungan industry</p>
<p>10.  hubungan keuangan</p>
<p>11.  hubungan multikultur</p>
<p>12.  peristiwa khusus</p>
<p>13.  komuniksi pemasaran</p>
<p><strong>C. Tujuan Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat</strong></p>
<p>Sebagai bahan perbandingan, anda dapat mempelajari tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikemukakan oleh L. Hagman sebagai berikut:</p>
<p>1. Untuk memperoleh bantuan dari orang tua murid/masyarakat.  Untuk melaporkan perkembangan dan kemajuan, masalah dan prestasi-prestasi yang dapat dicapai sekolah.</p>
<p>2.  Untuk memajukan program pendidikan.</p>
<p>3. Untuk mengembangkan kebersamaan dan kerjasama yang erat, sehingga segala  permasalahan dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama dan dalam waktu yang tepat.</p>
<p>Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan:</p>
<ol>
<li>Kualitas pembelajaran.      Kualitas lulusan sekolah dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor      hanya akan dapat tercipta melalui proses pembelajar di kelas maupun di      luar kelas. Proses pembelajaran yang berkualitas akan dapat dicapai      apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk orang tua murid/masyarakat.</li>
</ol>
<ol>
<li> Kualitas hasil belajar siswa. Kualitas      belajar siswa akan tercapai apabila terjadi kebersamaan persepsi dan      tindakan antara sekolah, masyarakat dan orang tua siswa. Kebersamaan ini      terutama dalam memberikan arahan, bimbingan dan pengawasan pada anak/murid      dalam belajar. Karena itu peningkatan kemitraan sekolah dengan orang tua      murid dan masyarakat merupakan prasyarat yang tidak dapat ditinggalkan      dalam konteks peningkatan mutu hasil belajar.</li>
</ol>
<ol>
<li>Kualitas pertumbuhan dan      perkembangan peserta didik serta kualitas masyarakat (orang tua murid) itu      sendiri. Kualitas masyarakat akan dapat dibangun melalui proses pendidikan      dan hasil pendidikan yang handal. Lulusan yang berkualitas merupakan modal      utama dalam membangun kualitas masyarakat di masa depan.</li>
</ol>
<ol>
<li>Ini berarti segala program      yang dilakukan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus      mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran, kualitas hasil belajar dan      kualitas pertumbuhan/ perkembangan peserta didik. Apabila hal tersebut      dapat kita lakukan, maka persepsi masyarakat tentang sekolah akan dapat      dibangun secara optimal.</li>
</ol>
<p><strong>D. Prinsip Hubungan Sekolah dan Masyarakat</strong></p>
<p>Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran, baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan, maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian.</p>
<p>Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Integrity</p>
<p>Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu, dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik.<br />
2. Continuity.</p>
<p>Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus. Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat jangan hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu, misalnya hanya 1 kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester/caturwulan, atau hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua/masyarakat.</p>
<p>3. Coverage</p>
<p>Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap, akurat dan up to date. Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan, padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar</p>
<p>4. Simplicity (Kesederhanaan)</p>
<p>Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat).</p>
<p>5. Constructiveness (Konstuktif)</p>
<p>Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu, termasuk dalam hal ini memberitahukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Prinsip ini juga berarti bahwa informasi yang disajikan kepada khalayak sasaran harus dapat membangun kemauan dan merangsang untuk berpikir bagi penerima informasi.</p>
<p>6. Adaptability (Penyesuaian)</p>
<p>Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah, tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari.</p>
<p><strong>E. </strong><strong>Tugas Pokok </strong></p>
<p>Tugas pokok hubungan sekolah dengan masyarakat antara lain:</p>
<p>1.      Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.</p>
<p>2.      Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.</p>
<p>3.      Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu.</p>
<p>4.      Membantu pemimpin dalam mengembangkan rencana dan kegiatan lanjutan yang berhubungan dengan pelaksanaaan kepada masyarakat sebagai akibat dari komunikasi timbal balik dengan pihak luar, yang ternyata menumbuhkan harapan untuk penyempurnaaan kegiatan yang telah dilakukan oleh organisasi.</p>
<p>5.      Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.</p>
<p>6.      Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.</p>
<p>7.      Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan.</p>
<p>8.      Menunjukkan pergantian keadaan pendapat umum.</p>
<p>9.      penyelenggaraan rapat komite sekolah</p>
<p>10. kerja sama dengan komite sekolah</p>
<p>11. kerjasama dengan pengurus yayasan</p>
<p>12. kerjasama dengan mass media</p>
<p>13. kerjasama antar sekolah</p>
<p>14. pengelolaan kesejahteraan warga sekolah</p>
<p>15. pengembangan usaha koperasi sekolah</p>
<p>16. kerjasama mencari donatur/mengembangkanusaha dana</p>
<p>17. mengelola laporan bidang kurikulum,bidang kesiswaan,bidang kepegawaian dan bidang sarana prasarana.</p>
<p><strong>F. </strong><strong>Jenis Kegiatan dengan Masyarakat</strong></p>
<p>Kegiatan Eksternal</p>
<p>Kegiatan ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada instansi atasan dan masyarakat di luar sekolah. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan dalam hal ini yakni:</p>
<p>a. <em>Indirect act</em> adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyar\akat melalui perantara media tertentu seperti misalnya: informasi lewat televisi, penyebaran informasi lewat radio, penyebaran informasi melalui media cetak, pameran sekolah dan berusaha independen dalam penerbitan majalah atau buletin sekolah.</p>
<p>b. <em>Direct act</em> adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat melalui tatap muka, misalnya: rapat bersama dengan komitte sekolah, konsultasi dengan tokoh masyarakat, melayani kunjungan tamu dan sebagainya.</p>
<p>Kegiatan Internal</p>
<p>Kegiatan ini merupakan publisitas ke dalam, sasarannya adalah warga sekolah yang bersangkutan yaitu para pendidik, karyawan, dan peserta didik. Kegiatan ini juga dapat dilakukan dengan dua kemungkinan yakni:</p>
<p>a. <em>Indirect act</em> adalah kegiatan internal melalui penyampaian informasi melalui surat edaran; penggunaan papn pengumuman di sekolah; penyelenggaraan majalah dinding; menerbitkan buletin sekolah untuk dibagikan pada warga sekolah; pemasangan iklan/pemberitahuan khusus melalui mass media; dan kegiatan pentas seni.</p>
<p>b. <em>Direct act</em> adalah kegiatan internal yang dapat berupa: rapat dewan guru; upacara sekolah; karyawisata/rekreasi bersama; dan penjelasan pada berbagai kesempatan.</p>
<p><strong>F. Tujuan </strong><strong></strong></p>
<p>Hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun dengan tujuan popularitas sekolah di mata masyarakat. Popularitas sekolah akan tinggi jika mampu menciptakan program-program sekolah yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan dan cita-cita bersama dan dari program tersebut mampu melahirkan sosok–sosok individu yang mapan secara intelektual dan spiritual. Dengan popularitas ini sekolah eksis dan semakin maju. Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat diantaranya sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Memberi penjelasan tentang kebijaksanaan penyelenggaraan sekolah situasi dan perkembangannya.</li>
<li>Menampung sarana-sarana dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan sekolah.</li>
<li>Dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antar warga sekolah sendiri.</li>
</ul>
<p>Sedangkan menurut Mulyasa (2007: 50), tujuan dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: (1) memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik; (2) memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat; dan (3) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/12/administrasi-humas/&via=aanchoto&text=Administrasi Humas&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/12/administrasi-humas/&via=aanchoto&text=Administrasi Humas&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/12/administrasi-humas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Kepala Sekolah</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/10/peranan-kepala-sekolah/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/10/peranan-kepala-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Oct 2010 12:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Administrasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[1.        KEPALA SEKOLAH SEBAGAI ORGANISATOR Organisasi adalah suatu kebersasamaan dan interaksi serta saling ketergantungan individu-individu yang bekerja ke arah tujuan yang bersifat umum dan hubungan kerja samanya telah diatur sesuai dengan struktur yang telah di tentukan Atau organisasi juga diartikan sebagai kumpulan orang-orang yang saling bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, dalam hal ini kepala&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.        KEPALA SEKOLAH SEBAGAI ORGANISATOR</p>
<p>Organisasi adalah suatu kebersasamaan dan interaksi serta saling ketergantungan individu-individu yang bekerja ke arah tujuan yang bersifat umum dan hubungan kerja samanya telah diatur sesuai dengan struktur yang telah di tentukan</p>
<p>Atau organisasi juga diartikan sebagai kumpulan orang-orang yang saling bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, dalam hal ini kepala sekolah sebagai organisator berarti kepala sekolah harus mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia serta sumber material sekolah yang dimiliki agar setiap sumber daya baik manusia maupun material dapat digunakan secara efektif dan efisien. Sehingga tujuan dari kegiatan pendidikan sekolah dapat berjalan lancar.<span id="more-827"></span></p>
<p>Kepala sekolah sebagai organisator juga berarti bahwa kepala sekolah itu merupakan seorang manajer (pemimpin)</p>
<p>Menurut stoner ada delapan macam fungsi seorang menajer yang perlu dilaksanakan dalam suatu organisasi, yaitu bahwa para manajer:</p>
<p>a.      Kepala sekolah bekerja dengan, dan melalui orang lain, pengertian orang lain tidak lain hanya para guru,staf,siswa,dan orang tua siswa, melainkan termaksuk atasan kepala sekolah, para kepala sekolah lain serta pihak-pihak yang perlu berhubungan dan bekerja sama.</p>
<p>b.      Kepala sekolah bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan, keberhasilan dan kegagalan bawahan adalah suatu cerminan langsung keberhasilan atau kegagalan kepala sekolah.</p>
<p>c.       Dengan waktu dan sumber yang terbatas mampu menghadapi berbagai persoalan, dengan segala keterbatasan kepala sekolah harus dapat mengatur pemberian TUGAS secara tepat.</p>
<p>d.      Kepala sekolah harus berfikir secara analistik dan konsepsional, fungsi ini berarti kepala sekolah harus dapat memecahkan persoalan melalui suatu analisis, kemudian menyelasaikan persoalan dengan suatu solusi yang feasible.</p>
<p>e.      Kepala sekolah sebagai juru penengah, dalam lingkungan sekolah sebagi suatu organisasi, didalamnya terdiri manusia yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda; perangai keinginan, pendidikan dan latar belakang sosial. Sehinnga memungkinkan terjadi perselisihan, di sini kepal sekolah harus turun tangan sebagai pelerai atau penengah.</p>
<p>f.        Kepala sekolah sebagai seorang politisi, sebagai seorang politisi, berarti bahwa kepala sekolah harus selalu berusaha meningkatkan tujuan organisasi serta mengembangkan program jauh ke depan</p>
<p>g.      Kepala sekolah adalah seorang diplomat, dalam peranan sebagai diplomat dalam berbagai macam pertemuan kepala sekolah adalah wakil resmi dari sekolah yang dipimpinya.</p>
<p>h.      Pengambil keputusan yang sulit, apabila terjadi kesulitan-kesulitan seperi:dana, persolan pegawai, perbedaan pendapat maka kepala sekolah diharapkan berperan sebagai orang yang dapat menyelesaikan persolan yang sulit tersebut.</p>
<p>Dalam menjalankan tugasnya sebagai organisator/ manajer seorang kepala sekolah harus memiliki 3 keterampilan:</p>
<p>1.    Technical skills</p>
<p>-          Menguasai pengetahuan tentang metode, proses, prosedur dan teknik melakukan kegiatan khusus</p>
<p>-          Kemampuan untuk memangfaatkan serta medayagunakan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan khusus tersebut</p>
<p>2.    Human skills</p>
<p>-          Kemampuan dalam memahami perilaku manusia dalam proses kerjasama</p>
<p>-          Kemampuan dalam memahami isi hati, sikap dan motif orang lain</p>
<p>-          Kemampuan berkomunikasi secara jelas dan efektif</p>
<p>-          Kemampuan menciptakan kerja sama yang efektif, kooperatif, praktis dan diplomatis</p>
<p>-          Mampu berperilaku yang dapat diterima</p>
<p>3.    Conseptual skills</p>
<p>-      Kemampuan analisis</p>
<p>-      Kemampuan berfikir rasional</p>
<p>-      Ahli dan cakap dalam berbagai macam konsepsi</p>
<p>-      Mampu menganalisis berbagai macam kejadia</p>
<p>-      Mampu mengantisipasikan berbagai perintah</p>
<p>-      Mampu mengenali berbagai macam kesempatan dan problem-problem sosial</p>
<p>Selain kemampuan diatas seorang kepala sekolah harus mampu menimbulkan semangat bagi semua staf, guru dan siswa dalam pencapaian tujuan yag telah ditetapkan serta kepala sekolah juga harus mampu memberi saran dan masukan.</p>
<p>2.    KEPALA SEKOLAH SEBAGAI EDUKATOR (PENDIDIK)</p>
<p>Beberapa defenisi mengenai edukator</p>
<p>Edukator adalah orang yang memajukan dan meningkatkan mental, moral, psikis dan pengetahuan seseorang melalui proses mengajar dan belajar, oleh karena itu education ditegeskan sebagai proses menanamkan</p>
<p>Memahami arti pendidikan harus dipelajari keterkaitannya dengan makna pendidikan, pendidikan adalah orang yang mendidik, sedangkan mendidik diartikan memberi latihan (ajaran,pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran sehingga pendidikan dapat diartikan  sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan</p>
<p>Sebagai seorang pendidik (edukator) kepala sekolah harus mampu menanamkan, memajukan dan meningkatkan paling tidak 4 macam nilai yaitu:</p>
<p>a.      Mental, hal-hal yang berkaitan dengan sikap batin dan watak manusia</p>
<p>b.      Moral, hal-hal yang berkaitan dengan ajaran baik buruk mengenai perbuatan,sikap dan kewajiban atau moral yang diartiakan sebagai akhlak, budi pekerti dan kesusilaan</p>
<p>c.       Fisik, hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan,kesehatan dan pemampilan manusia secara lahiriah</p>
<p>d.      Artistik, hal-hal yang berkaitan kepekaan manusia terhadap seni dan keindahan</p>
<p>Terahir yang perlu diperhatikan oleh setiap kepala sekolah terhadap perananya sebagai pendidik, mencakup dua hal pokok yaitu: sasaran atau kepada siapa perilaku sebagai pendidik itu diarahkan. Sedangyang kedua, yaitu bagaimana peranan pendidik itu dilaksanakan</p>
<p>Ada 3 kelompok sasaran utama, yaitu para guru ayau tenaga fungsional yang lain, tenaga administratif (staf) dan kelompok para siswa atau peserta didik. Ketiga sasaran tersebut merupakan manusia yang memiliki unsur kejiwaan dan fisik yang berbeda-beda antara manusia yang satu dan yang lain,seperti yang kita ketahui kehidupan manusia selalu dikendalikan dan ditentukan oleh faktor-faktor spikisyang ada di dalm dirinya serta kondisi fisik yang dimilikinya.</p>
<p>Disanping ketiga sasaran utama utama pelaksanaan peranaan kepala sekolah sebagai pendidik, terdapat pula kelompok sasaran lain, yang tidak kalah pentingnya kosrtibus mereka terhadap pembinaan kehidupan sekolah, yaitu; organisasi orang tua siswa, organisasi siswa,dan organisasi para guru</p>
<p>Keberhasilan ketiga organisasi tersebut dalam mewujudkan fungsinya tentu tidak dapat di lepaskan dari peranan kepala sekolah, khususnya peranan kepala sekolah sebagai pendidik. Sikap mental, moral, serta apresiasi dan persuasi positif terhadap berbagai kreasi seni. Kepala sekolah sangat berperan dan menjadi sumber motivasi yang kuat terhadap keberhasilan ketiga organisasi tersebut.</p>
<p>3.    KEPALA SEKOLAH SEBAGAI SUPERVISOR</p>
<p>Supervisi ialah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar –mengajar  yang lebih baik.</p>
<p>Supervisi sebagai salah satu fungsi pokok dalam administrasi pendidikan,bukan hanya merupakan tugas perkejaan pada pengawas, tetapi juga tugas kepala sekolah terhadap guru-guru dan pegawai-pegawai sekolahnya</p>
<p>Tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan:</p>
<p>Supervisi adalah aktifitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang esensial yang akan menjamin tercapai nya tujuan-tujuan pendidikan, melihat defenisi ini, maka tugas kepala sekolah  sebagai supervisor berarti bahwa dia hendaknya pandai meneliti,mencari, dan menentukan syarat-syarat manasajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan-tujuan pendidikan disekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai.</p>
<p>Beberapa contoh”pertanyaan”  yang memberikan gambaran kepada kita betapa banyak kondisi atau syarat yang perlu diteliti dan diusahakan perbaikannya oleh kepala sekolah sebagai supervisor.</p>
<p>a.      Bagaimana keadaan gedung sekolah? Sudah memenuhi syarat atau belum? Bagaimana usaha memperbaikinya</p>
<p>b.      Apakah perlengkapan dan alat pelajaran cukup? jika belum bagaimana usaha untuk mencukupinya?Sudahkah memenuhi syarat psikologis dan didaktis?</p>
<p>c.       Bagaimana keadaan guru?</p>
<p>d.      Bagaimana semangat kerja guru dan pegawai sekolah? Bagaimana absensi mereka? Apa yang menjadi sebab?</p>
<p>e.      Bagaimana cara guru mengajar? Apakah sesuai dengan kurikulum yang berlaku? Adakah usaha mereka untuk memperbaiki metode mengajar?</p>
<p>f.        Bagaimana hasil pendidikan anak-anak? Apakah ada kemajuan?</p>
<p>g.      Bagaimana usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki dan mempetinggi mutu guru? Dengan menambah kesejahteraan mereka? Dengan rapat kunjungan kelas, atau ugrading.</p>
<p>h.      Bagaimana sikap dan perasaan tanggung jawab guru dalam partisipasinya terhadap pembinaan dan kemajuan sekolah? Adakah sifat dan sifat kepemimpinan kepala sekolah yang kurang sesuai sehingga mempengaruhi situasi kehidupan sekolah pada umumya?</p>
<p>Dari delapan contoh pertanyaan tersebut sudah cukup memberi gambaran bahwa pekerjaan dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai supervisor  pendidikan ternyata cukup berat dan sangat kompleks. Kepala sekokah bukan kepala kantor yang hanya duduk di belakang meja dengan pekerjaan menandatangani surat-surat urusan administrasi saja.</p>
<p>Dalam melaksanakan tugas sebagai supervisor. Kepala sekolah perlu memperhatiakan prinsip-prinsip sebagai berikut</p>
<p>a.      Supervisi harus bersifat konstuktif dan kreatif sehingga menimbulkan dorongan untuk bekerja</p>
<p>b.      Realistis dan mudah dilaksanakan</p>
<p>c.       Menimbulkan rasa aman kepada guru/ karyawan</p>
<p>d.      Berdasarkan hubungan profesional</p>
<p>e.      Haus memperhitungkan kesanggupan dan sikap guru/ pegawai</p>
<p>f.        Tidak bersifat mendesak (otoriter) karena dapat menimbulkan kegelisahan bahkan sifat antipati dari guru</p>
<p>g.      Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuatan pangkat, kedudukan dari kekuasan pribadi</p>
<p>h.      Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kekurangan (supervisi berbeda dengan inspeksi)</p>
<p>i.        Supervisi tidak dapat terlalu cepat mengharap hasil</p>
<p>j.        Supervisi hendaknya juga bersifat prefektif, korektif, dan kooperatif</p>
<p>Cepat lambatnya hasil supervisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor:</p>
<p>a.      Lingkungan masyarakat sekitar sekolah</p>
<p>b.      Besar kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawabnya.</p>
<p>c.       Tingkatan  dan sekolah</p>
<p>d.      Keadaan (kondisi) guru dan pegawai yang ada</p>
<p>e.      Kecakapan dan kemampuan kepala sekolah sendiri dalam tugasnya sebagai supervisor</p>
<p>Khususnya dalam bidang pembinaan kurikulum, tugas kepala sekolah sebagai supervisor sangat penting karena justru bidang ini adalah faktor yang ‘srtategis” untuk menentukan keberhasilan sekolah itu.</p>
<p>Beberapa langkah yang perlu dikerjakan antara lain:</p>
<p>a.      Mebimbing guru agar dapat memilih metode mengajar yang tepat</p>
<p>b.      Membimbing dan mengarahkan guru dalam pemilihan bahan pelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak dan tuntutan kehidupan masyarakat</p>
<p>c.       Mengadakan kunjungan kelas yang teratur, untuk observasi pada saat guru mengajar an selanjudnya didiskusikan dengan guru</p>
<p>d.      Pada awal tahun pelajaran baru, mengarahkan penyusunan silabus sesuai dengan kurikulum yang berlaku</p>
<p>e.      Menyelenggarakan rapat rutin untuk membawa kurikulum pelaksanannya disekolah</p>
<p>f.        Setiap akhir pelajaran menyelenggarakan penilaian bersama terhadap program sekolah</p>
<p>Selanjutnya sebagai implikasi tugas supervisor tersebut beberapa hal yang perlu dilakukan kepala sekolah sebagai pemimpin adalah;</p>
<p>a.      Mengetahui keadaan / kondisi guru dalam latar belakang kehidupan lingkungan dan sosial ekonominya, hal ini penting untuk tindakan kepemimpinannya</p>
<p>b.      Merangsang semangat kerja guru dengan berbagai cara</p>
<p>c.       Mengusahakan tersedianya fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan guru</p>
<p>d.      Meningkatkan pastisipasi  guru dalam kehidupan sekolah</p>
<p>e.      Membina rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah antar kepala ,guru, pegawai</p>
<p>f.        Mempercepat hubungan sekolah dengan masyarakat, khususnya BP3 dan orang tua murid</p>
<p>Pelaksanaan supervisi di sekolah selalu berkaitan dengan tipe menajemen pendidikan di sekolah. Dalam hubungan ini penjelasan Dr. Oteng Sutisna M.Sc. (1979:156) perlu kita perhatikan ialah bahwa dalam menajemen pendidikan disekolah yang demokratislah sekolah baru akan mampu menciptakan lingkungan hidup yang demokratis, dimana para guru sebagai pribadi-pribadi ikut serta dalam mengatur sekolah dan program pengajaran yang demokratis.</p>
<p>Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai supervisor dan sekaligus sebagai pemimpin sekolah perlu memilih penggunaan menajemen pendidikan disokolah yang demokratis ini karena dengan demikian kepala sekolah akan banyak dibantu dengan datangnya banyak saran-saran yang berharga – dari anak buahnya (para guru) dan kepala sekolah yang bijaksana pasti mampu memilih pikiran-pikiran yang terbaik yang berasal dari guru.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/peranan-kepala-sekolah/&via=aanchoto&text=Peranan Kepala Sekolah&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/peranan-kepala-sekolah/&via=aanchoto&text=Peranan Kepala Sekolah&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/10/peranan-kepala-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurikulum</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/10/kurikulum/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/10/kurikulum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 15:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Administrasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=761</guid>
		<description><![CDATA[DEFENISI KURIKULUM Banyak orang yang menganggap kurikulum berkaitan dengan bahan ajar atau buku-buku pelajaran yang harus dimiliki anak didik, sehingga perubahan kurikulum identik dengan perubahan buku pelajaran. Persoalan kurikulum bukan hanya persoalan buku pelajaran akan tetapi banyak persoalan lainnya termasuk persoalan arah dan tujuan pendidikan, persoalan materi pelajaran serta persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan hal&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEFENISI      KURIKULUM</strong></p>
<p>Banyak orang yang menganggap kurikulum berkaitan dengan bahan ajar atau buku-buku pelajaran yang harus dimiliki anak didik, sehingga perubahan kurikulum identik dengan perubahan buku pelajaran. Persoalan kurikulum bukan hanya persoalan buku pelajaran akan tetapi banyak persoalan lainnya termasuk persoalan arah dan tujuan pendidikan, persoalan materi pelajaran serta persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan hal itu.</p>
<p>Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman yunani kuno, yang berasal dari kata <em>curir </em>dan <em>curere</em>. Pada waktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari.</p>
<p>Print memandang sebuah kurikulum meliputi perencanaan pengalaman belajar, program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta hasil dari  implentasi dokumen yang telah disusun. Dari penelusuran konsep, pada dasarnya kurikulum memiliki tiga dimensi pengertian, yakni kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar, dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran.<span id="more-761"></span></p>
<p>Jadi kurikulum adalah rencana tertulis yang berisi tentang ide-ide dan gagasan-gagasan yang dirumuskan oleh pengembang kurikulum.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KURIKULUM      1994</strong><br />
<strong>Defenisi kurikulum 1994</strong></p>
<p>Kurikulum 1994 adalah seperangkat atau peraturan yang menekankan pada cara belajar siswa aktif secara fisik, mental, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara pengetahuan, sikap dan keterampilan. <strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Karakteristik kurikulum 1994</strong></p>
<p>Karakteristik kurikulum 1994 yang disebut juga kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA) adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Keterlibatan intelektual, emosional siswa dalam proses belajar mengajar.</li>
<li>Terjadi asimilasi dan akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan serta pengalaman langsung terhadap balikan (<em>feedback</em>) dalam pembentukan keterampilan.</li>
<li>Penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam bentuk sikap.</li>
</ol>
<p><strong>Tujuan kurikulum 1994</strong></p>
<p>Tujuan umum yang ada pada kurikulum tahun 1994 adalah mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif, dan efisien. Salah satu kegiatan yang memungkinkan agar tujuan tersebut bisa tercapai adalah siswa diharapkan mau mengikuti anjang kompetensi dalam bidang matematika, baik di dalam kota maupun di luar kota, bahkan kalalu memungkinkan siswa diikutsertakan dalam anjang kompetensi di luar negeri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KBK</strong><br />
<strong>Defenisi KBK</strong></p>
<p>Kurikulum berbasis kompetensi (KBK)<strong> </strong>adalah suatu konsep kurikulum yang menekanan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalm bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karakteristik KBK</strong></p>
<p>Depdiknas (2002) mengemukakan KBK amemiliki karakteristik sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individidual maupun klasikal.</li>
<li>Berorientasi pada hasil belajar (Learning outcomes) dan keberagaman</li>
<li>Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi</li>
<li>Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur educatif</li>
<li>Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.</li>
</ol>
<p>Secara garis besar, ada enam karakteristik yaitu:</p>
<ol>
<li>Sistem belajar dengan modul</li>
<li>Menggunakan keseluruhan sumber belajar</li>
<li>Pengalaman lapangan</li>
<li>Strategi individual personal</li>
<li>Kemudahan belajar</li>
<li>Belajar tuntas</li>
</ol>
<p><strong>Tujuan KBK</strong></p>
<p>Tujuan dari KBK ini adalah untuk:</p>
<ol>
<li>Meningkatkan efisisensi dan efektifitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal<strong> </strong></li>
<li>Memberikan berbagai macam petunjuk dan gambaran kaitan bidang keilmuan yang sedang dipelajari dan berbagai bidang keilmuan lainnya.<strong> </strong></li>
<li>Menjadikan siswa itu aktif dalam belajar dan mengembangkan potensi yang ada dlam dirinya.<strong> </strong></li>
<li>Mengembangkan indikator untuk setiap kompetensi serta kriteria pencapaiannya<strong> </strong></li>
</ol>
<p><strong>Defenisi KTSP</strong><br />
<strong>KTSP</strong></p>
<p>Dalam Standar Nasional Pendidikan Pasal 1, Ayat 15 KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memerhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)</p>
<p><strong>Karakteristik KTSP</strong></p>
<p>Karakteristik KTSP adalah:</p>
<ol>
<li>KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu.</li>
<li>KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu.</li>
<li>KTSP adalah kurikulum yang mengakses kepentingan daerah.</li>
<li>KTSP merupakan kurikulum teknologis yang mana dapat dilihat dari adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang kemudian dijabarka pada indikator hasil belajar, yakni sejumlah perilaku yang terukur sebagai bahan penilaian.</li>
</ol>
<p><strong></strong><strong>Tujuan KTSP</strong></p>
<p>Secara umum tujuan KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan.</p>
<p>Secara khusus tujuan diterpkannya KTSP adalah untuk:</p>
<ol>
<li>Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia</li>
<li>Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama</li>
<li>Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satua pendidikan tentang kualitas pendidikan yang dicapai</li>
</ol>
<p><strong>PERBEDAAN      KETIGA KURIKULUM</strong></p>
<p>Apabila dilihat dari pelaksanaannya kurikulum tahun 1994, KBK dan KTSP berbeda yaitu. kurikulum 1994 sepenuhnya diterangkan oleh guru, siswa menerima saja apa yang diterangkan oleh guru sehingga siswa bersifat pasif. Namun pada  KBK tidak sepenuhnya diterangkan oleh guru tetapi siswa juga harus aktif. Lain halnya dengan KTSP yang lebih menekankan pada keaktifan siswa dan guru bersifat mengarahkan saja dan menarik kesimpulan.</p>
<p>Dapat dilihat pada tabel berikut:<strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="528">
<tbody>
<tr>
<td width="114" valign="top"><strong>ASPEK</strong></td>
<td width="201" valign="top"><strong>KURIKULUM 2004</strong></td>
<td width="213" valign="top"><strong>KURIKULUM 2006</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">1. Landasan Hukum</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Tap MPR/GBHN Tahun 1999-2004</li>
<li>UU No. 20/1999 – Pemerintah-an Daerah</li>
<li>UU Sisdiknas No 2/1989 kemudian diganti dengan   UU No. 20/2003</li>
<li>PP No. 25 Tahun 2000 tentang pembagian   kewenangan</li>
<li>UU No. 20/2003 – Sisdiknas</li>
<li>PP No. 19/2005 – SPN</li>
<li>Permendiknas No. 22/2006 – Standar Isi</li>
<li>Permendiknas No. 23/2006 – Standar Kompetensi   Lulusan</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">2.   Implementasi /</p>
<p>Pelaksanaan</p>
<p>Kurikulum</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Bukan dengan Keputusan/ Peraturan Mendiknas RI</li>
<li>Keputusan   Dirjen Dikdasmen No.399a/C.C2/Kep/DS/2004 Tahun 2004.</li>
<li>Keputusan   Direktur Dikme-num No. 766a/C4/MN/2003 Tahun 2003, dan No. 1247a/ C4/MN/2003 Tahun 2003.</li>
<li>Peraturan Mendiknas RI No. 24/2006 tentang Pelaksanaan   Peraturan Menteri No. 22 tentang SI dan No. 23 tentang SKL</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">3.   Ideologi Pendidik-</p>
<p>an yang Dianut</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Liberalisme Pendidikan : terciptanya SDM yang   cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif</li>
<li>Liberalisme Pendidikan : terciptanya SDM yang   cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">4. Sifat (1)</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Cenderung Sentralisme Pendidikan : Kurikulum   disusun oleh Tim Pusat secara rinci; Daerah/Sekolah hanya melaksanakan</li>
<li>Cenderung Desentralisme Pendidikan : Kerangka   Dasar Kurikulum disusun oleh Tim Pusat; Daerah dan Sekolah dapat   mengembangkan lebih lanjut.</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">5. Sifat (2)</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Kurikulum disusun rinci oleh Tim Pusat (Ditjen   Dikmenum/ Dikmenjur dan Puskur)</li>
<li>Kurikulum merupakan kerangka dasar oleh Tim   BSNP</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">6. Pendekatan</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Berbasis Kompetensi</li>
<li>Terdiri atas : SK, KD, MP dan Indikator   Pencapaian</li>
<li>Berbasis Kompetensi</li>
<li>Hanya terdiri atas : SK dan KD. Komponen lain   dikembangkan oleh guru</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">7. Struktur</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Berubahan relatif banyak dibandingkan   kurikulum sebelumnya (1994 suplemen 1999)</li>
<li>Ada   perubahan nama mata pelajaran</li>
<li>Ada   penambahan mata pelajaran (TIK) atau penggabungan mata pelajaran (KN dan PS   di SD)</li>
<li>Penambahan mata pelajaran untuk Mulok dan   Pengem-bangan diri untuk semua jenjang sekolah</li>
<li>Ada   pengurangan mata pelajaran</li>
<li>Ada   perubahan nama mata pelajaran</li>
<li>KN dan IPS di SD dipisah lagi</li>
<li>Ada   perubahan jumlah jam pelajaran setiap mata pelajaran</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">8. Beban Belajar</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Jumlah Jam/minggu :</li>
<li>SMA/SMK = 38-39/minggu</li>
<li>Lama belajar per 1 JP:</li>
<li>SMA/MA = 45 menit</li>
<li>Jumlah Jam/minggu :</li>
<li>SMA/MA= 38-39/minggu</li>
<li>Lama belajar per 1 JP:</li>
<li>SMA/MA = 45 menit</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">9.   Pengembangan</p>
<p>Kurikulum   lebih</p>
<p>lanjut</td>
<td width="201" valign="top">
<ul>
<li>Hanya sekolah yang mampu dan memenuhi syarat   dapat mengembangkan KTSP.</li>
<li>Guru membuat silabus atas dasar Kurikulum   Nasional dan RP/Skenario Pembelajaran</li>
<li>Semua sekolah /satuan pendidikan wajib membuat   KTSP.</li>
<li>Silabus merupakan bagian tidak terpisahkan   dari KTSP</li>
<li>Guru harus membuat Rencana Pelaksanaan   Pembelajaran (RPP)</li>
</ul>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">10.   Prinsip</p>
<p>Pengembangan</p>
<p>Kurikulum</td>
<td width="201" valign="top">
<ol>
<li>Keimanan, Budi Pekerti Luhur, dan Nilai-nilai Budaya</li>
<li>Penguatan Integritas Nasional</li>
<li>Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika</li>
<li>Kesamaan Memperoleh Kesempatan</li>
<li><em>Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi</em></li>
<li>Pengembangan Kecakapan Hidup</li>
<li><em>Belajar Sepanjang Hayat </em></li>
<li>Berpusat pada Anak</li>
<li>Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan</li>
<li>Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan   kepentingan peserta didik dan lingkungannya</li>
<li>Beragam dan terpadu</li>
<li><em>Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,   teknologi, dan seni </em></li>
<li>Relevan dengan kebutuhan kehidupan</li>
<li>Menyeluruh dan berkesinam-bungan</li>
<li><em>Belajar sepanjang hayat</em></li>
<li>Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan   daerah</li>
</ol>
</td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">11.   Prinsip</p>
<p>Pelaksanaan</p>
<p>Kurikulum</td>
<td width="201" valign="top">Tidak terdapat prinsip pelaksanaan kurikulum</td>
<td width="213" valign="top">
<ol>
<li>Didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi   peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.</li>
<li>egakkan lima   pilar belajar:</li>
<li>ajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,</li>
<li>belajar untuk memahami dan menghayati,</li>
<li>belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara   efektif,</li>
<li>belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang   lain,</li>
<li>belajar untuk membangun dan menemukan jati diri,   melalui proses pembela-jaran yang efektif, aktif, kreatif &amp; menyenangkan.</li>
<li>mungkinkan peserta didik mendapat pelayanan   perbaik-an, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap   perkembangan, dan kondisinya dengan memperhatikan keterpaduan pengembangan   pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan,   dan moral.</li>
<li>aksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan   pendidik yang saling meneri-ma dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat,   dengan prinsip <em>tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung   tulada</em></li>
</ol>
<p>10.   Menggunakan pendekatan multistrategi dan   multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan meman-faatkan   lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.</p>
<p>11.   Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan   budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan   seluruh bahan kajian secara optimal.</p>
<p>12.  Diselenggarakan   dalam kese-imbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai   antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">12.   Pedoman</p>
<p>Pelaksanaan</p>
<p>Kurikulum</td>
<td width="201" valign="top">
<ol>
<li>Bahasa Pengantar</li>
<li>Intrakurikuler</li>
<li>Ekstrakurikuler</li>
<li>Remedial, pengayaan, akselerasi</li>
<li>Bimbingan &amp; Konseling</li>
<li>Nilai-nilai Pancasila</li>
<li>Budi Pekerti</li>
<li>Tenaga Kependidikan</li>
<li>Sumber dan Sarana Belajar</li>
</ol>
<p>10.  Tahap   Pelaksanaan</p>
<p>11.  Pengembangan   Silabus</p>
<p>12.  Pengelolaan   Kurikulum</td>
<td width="213" valign="top">Tidak terdapat pedoman   pelaksanaan kurikulum seperti pada Kurikulu</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/kurikulum/&via=aanchoto&text=Kurikulum&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/kurikulum/&via=aanchoto&text=Kurikulum&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/10/kurikulum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Teori Administrasi</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/10/perkembangan-teori-administrasi/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/10/perkembangan-teori-administrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 13:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Administrasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=729</guid>
		<description><![CDATA[A. Periode Tradisional Teori administrasi ilmiah Teori ini dikembangkan oleh Frederick taylor (1856-1915 M) dikenal sebagai bapak managemen ilmiah, yang mendasarkan teorinya pada hasil eksperimen yang ia lakkan yang dituangkan dalam karya tulisnya yang berjudul the principles of scientific management sekitar tahun 1911, yang dipopulerkan oleh Louis brandeis yng berisi beberapa prinsip: Prinsip studi waktu.&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Periode Tradisional</strong></p>
<ol>
<li>Teori administrasi ilmiah</li>
</ol>
<p>Teori ini dikembangkan oleh Frederick taylor (1856-1915 M) dikenal sebagai bapak managemen ilmiah, yang mendasarkan teorinya pada hasil eksperimen yang ia lakkan yang dituangkan dalam karya tulisnya yang berjudul the principles of scientific management sekitar tahun 1911, yang dipopulerkan oleh Louis brandeis yng berisi beberapa prinsip:</p>
<ol>
<li>Prinsip studi waktu.</li>
<li>Prinsip hasil upah</li>
<li>Prinsip pemisahan antara perencanaan dan pelaksanaan</li>
<li>Prinsip metode kerja ilmiah</li>
<li>Prinsip control managerial</li>
<li>Prinsip management fungsional</li>
</ol>
<p>Berdasarkan prinsip diatas, administrasi pendidikan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:<span id="more-729"></span></p>
<ol>
<li>Menggunakan disiplin yang keras</li>
<li>Pemusatan pada tugas yang harus dikerjakan oleh bawahan</li>
<li>Kurangnya hubungan interpersonal antara pekerja</li>
<li>Aplikasi yang kaku dari system yang intensif dalam pemahaman administrasi</li>
<li>Teori birokrasi</li>
</ol>
<p>Ada lima cirri dari teori birokrasi ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Adanya pembagian tugas dan spesialisasi dari setiap individu dalam organisasi mepunyai wewenang dan juru diksi yang diatur oleh berbagai peraturan</li>
<li>Bersifat impresioanl</li>
<li>Dalam organisasi ada hirarki kewenangan</li>
<li>Didasarkan atas dokumen tertulis</li>
<li>Pembinaan pegawai berorientasi pada pengembangan karir</li>
</ol>
<p>Birokrasi jadi tidak berfungsi bila:</p>
<ol>
<li>Orang dalam organisasi terkurung dalam bidang espesialisasi tertentu</li>
<li>Setiap orang hanya berorientasi untuk memegang jabatan yang lebih tinggi sehinggga anggota organisasi kehilangna kebebasan pribadinya.</li>
<li>Orientasi pertumbuhan karir menyebabkan orang mengejarnya dan melupakan unsure pelayanan organisasi</li>
<li>Teori klasik</li>
</ol>
<p>Teori ilmiah dan teori birokrasi biasanya digolongkan kepada teori klasik, filley mengemukakan beberapa kelemahan dari teori klasik ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Teori kalsik merupakan teori yang terikat waktu</li>
<li>Bersifat deterministic</li>
<li>Tidak memperhitungkan berbagai dimensi dalam administrasi</li>
<li>Lebih banyak menggunakan asumsi yang lemah</li>
</ol>
<p><strong>B. </strong><strong>Periode Transisional </strong></p>
<ol>
<li>Teori hubungan antar manusia (human relation teori)</li>
</ol>
<p>Teori ini ditandai dengan timbulnya hubungan antara manusia. faktor manusia merupakan faktor yang sangat penting dalam menenutkan tingkat produktifitas kerja, hingga konsep moral dinamika kelompok dan hubungan interpersonal menjadi popular dikalangan administrator serta dalam teori administrasi.</p>
<ol>
<li>Teori tingkah laku</li>
</ol>
<p>Teori tingkah laku dipelopori oleh Chester I banard, konsep Banard tentang administrasi menggunakan pendekatan interdisipliner dengan memakai berbagai pendekatan tingkah laku seperti psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan psikologi social. Disamping itu Herbert Simon mengemukakan teori administrasi dalam bukunya “Administration Behavior” bahwa masalah tingkah laku administrasi dari sudut proses pengambilan keputusan yang terus menerus dalam suatu organisasi. Teorinya meliputi proses administrasi.</p>
<ol>
<li>Periode teori pendekatan system</li>
</ol>
<p>Teori ini dikemukakan oleh “Ludwig Von Bertalenfy” mengemukakan system adalah susunan elemen yang berinteraksi satu dengan yang lain. Suatu system menghasilkan out put yang mempunyai aktifitas, menjaga integrasi serta kesatuan dari element-elementnya.</p>
<p>Dalam teori system dikenal istilah homestatis dan  umpan balik. Homestatia merupakan aplikasi dari prinsip umpan balik atau sebab akibat yang menyediakan mekanisme untuk tingkah laku mencari tujuan dan control terhadar diri sendiri.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/perkembangan-teori-administrasi/&via=aanchoto&text=Perkembangan Teori Administrasi&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/perkembangan-teori-administrasi/&via=aanchoto&text=Perkembangan Teori Administrasi&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/10/perkembangan-teori-administrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Dasar Administrasi Pendidikan</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/10/konsep-dasar-administrasi-pendidikan/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/10/konsep-dasar-administrasi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 11:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Administrasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=699</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian Administrasi Pendidikan Sebelum menguraikan apakah administrasi pendidikan itu, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan “administrasi”. Kata “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata ad dan ministrare. Kata ad mempunyai arti yang sama dengan kata to dalam bahasa inggris, yang berarti “ke” atau “kepada”. Dan ministrare sama artinya&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Pengertian Administrasi Pendidikan</strong></p>
<p>Sebelum menguraikan apakah administrasi pendidikan itu, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan “administrasi”.</p>
<p>Kata “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata <em>ad</em> dan <em>ministrare</em>. Kata <em>ad</em> mempunyai arti yang sama dengan kata <em>to </em>dalam bahasa inggris, yang berarti “ke” atau “kepada”. Dan <em>ministrare</em> sama artinya dengan kata <em>to serve</em> atau <em>to conduct</em> yang berarti “melayani”, “membantu”, atau mengarahkan”. Dalam bahasa inggris <em>to administer </em>berarti pula “mengatur”, “memelihara” (to look after), dan “mengarahkan”.</p>
<p>Jadi, kata “administrasi” dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau usaha untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan di dalam mencapai suatu tujuan.<span id="more-699"></span></p>
<p>Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengerahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personel, spiritual maupun material, yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. Jadi, di dalam proses administrasi pendidikan segenap usaha orang-orang yang terlibat di dalam proses pencapaian tujuan pendidikan itu diintegrasikan, diorganisasi dan dikoordinasi secara efektif, dan semua materi yang diperlukan d</p>
<p>Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi : perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, materiil, maupun spiritual, untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.</p>
<p>Atau secara lebih singkat dapat juga dikatakan : administrasi pendidikan ialah pembinaan, pengawasan, dan pelaksanaan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan-urusan sekolah.</p>
<p>Jadi, administrasi pendidikan itu mencakup kegiatan-kegiatan yang luas, yang meliputi antara lain kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, dan sebagainya, yang menyangkut bidang-bidang materil, personel dan spiritual dalam bidang pendidikan pada umumnya, dan khususnya pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Tujuan dan Manfaat Administrasi Pendidikan</strong></p>
<p>Tujuan administrasi pendidikan tidak lain adalah agar semua kegiatan itu mendukung tercapainya tujuan pendidikan atau dengan kata lain administrasi digunakan di dalam dunia pendidikan adalah agar tujuan pendidikan tercapai.</p>
<p>Seperti yang diutarakan Sergiovanni dan Carver (1975), ada empat tujuan administrasi, yaitu : efektivitas produksi, efisiensi, kemampuan menyesuaikan diri (adaptiveness), dan kepuasan kerja. Keempat tujuan tersebut dapat digunakan sebagai criteria untuk menentukan keberhasilan suatu penyelenggaraan sekolah.</p>
<p>Tujuan administrasi pendidikan di sekolah adalah mempersiapkan situasi di sekolah, agar pendidikan dan pengajaran berlangsung baik, sehingga tercapai tujuan khusus sekolah tersebut, yaitu :</p>
<ol>
<li>Supaya anak-anak tamatan suatu sekolah memiliki pengetahuan dan pengertian dasar, mengenai hak dan kewajiban sebagai manusia pancasila sesuai dengan ketetapan MPRS No. IV / 1973 dan berbuat selaras dengan pengertian itu.</li>
<li>Supaya anak-anak tamatan suatu sekolah memiliki salah satu keterampilan atau kecakapan khusus, yang merupakan bekal untuk hidupnya dalam masyarakat.</li>
<li>Supaya anak-anak tamatan suatu sekolah memiliki dasar-dasar ilmu pengetahuan yang kokoh serta keterampilan untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah yang lebih tinggi.</li>
</ol>
<p>Secara singkat, administrasi pendidikan di sekolah brtujuan menciptakan situasi yang memungkinkan anak mempunyai pengetahuan dasar yang kuat untuk melanjutkan pelajaran, mempunyai suatu kecakapan dan keterampilan khusus untuk dapat hidup sendiri dan dalam masyarakat, serta mempunyai sikap hidup sebagai manusia pancasila dengan pengabdian untuk pembangunan masyarakat pancasila Indonesia.</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Fungsi Administrasi Pendidikan</strong></p>
<p>Fungsi umum administrasi yang oleh Henri Fayol dikatakan berlaku bagi setiap organisasi. Lima fungsi administrasi yang dikemukakannya (1916) adalah: planning, organization, comamd, coordination dan control. Kelima fungsi ini kemudian diulang, direvisi dan disempurnakan oleh ahli-ahli lain dengan mengidentifikasikan elemen-elemen dalam proses administrasi. Akhirnya pada 1950, Sears menyangkal klasifikasi Fayol tersebut, dan Fowlkee pada 1951 mengenal bahwa administrasi pendidikan merupakan sesuatu yang sifatnya kompleks dan tentu mengandung unsure: perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Sebagai penyimpul adalah Gregg, ahli ini menyarankan dilakukannya analisis terhadap proses administrasi.</p>
<p>Adapun proses administrasi pendidikan itu meliputi fungsi-fungsi sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Perencanaan (Planning)</li>
</ul>
<p>Perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan serangkaian pengambilan keputusan untuk dilakukannya tindakan dalam mencapai tujuan organisasi.</p>
<ul>
<li><strong>Pengorganisasian (Organizing)</strong></li>
</ul>
<p>Kerja sama sekelompok manusia yang terlibat dalam kegiatan ini disebut sebagai pengorganisasian.</p>
<p>Dengan demikian maka pada tahap perencanaan telah terwujud adanya bagian-bagian atau unit-unit, yang secara keseluruhan membentuk satu berjenjang, yang dikenal dengan nama struktur organisasi. Gambarnya disebut organigram.</p>
<ul>
<li><strong>Penunjukkan Personal (Staffing)</strong></li>
</ul>
<p>Staffing adalah pengisian sesuatu bidang atau unit dengan personal yang akan melaksanakan tugas kegiatannya.</p>
<ul>
<li><strong>Pengarahan (Directing)</strong></li>
</ul>
<p>Pengarahan adalah suatu usaha untuk memberikan penjelasan, petunjuk serta pertimbangan dan bimbingan terhadap para petugas yang terlibat, baik secara structural maupun fungsional agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan lancar.</p>
<ul>
<li><strong>Pengkoordinasian (Coordinating)</strong></li>
</ul>
<p>Pengkoordinasian adalah suatu usaha untuk memadu, menyatukan, menserasikan, mengintegrasikan semua kegiatan yang ada dalam suatu organisasi agar pencapaian tujuan bersama dapat berjalan dengan serasi dan seimbang.</p>
<ul>
<li><strong>Pelaporan (Reporting)</strong></li>
</ul>
<p>Pelaporan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh bawahan untuk menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan hasil pekerjaan yang telah dilakukan selama satu periode tertentu.</p>
<ul>
<li><strong>Pembiayaan (Budgeting)</strong></li>
</ul>
<p>Pembiayaan adalah semua urusan yang berkaitan dengan masalah dana</p>
<p><strong>Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan</strong></p>
<p>Bidang-bidang yang tercakup dalam administrasi pendidikan adalah sangat banyak dan luas. Yetapi yang sangat penting dan perlu diketahui oleh para kepala sekolah dan guru-guru pada umumnya ialah sebagai berikut:</p>
<p><strong>Bidang tata usaha sekolah, ini meliputi:</strong></p>
<p>1)      Organisasi dan struktur pegawai tata usaha</p>
<p>2)      Anggaran belanja keuangan sekolah.</p>
<p>3)      Masalah kepegawaian dan personalia sekolah.</p>
<p>4)      Keuangan dan pembukuannya</p>
<p>5)      Korespondensi / surat menyurat</p>
<p>6)      Masalah pengangkatan, pemindahan, penempatan, laporan, pengisian buku induk, raport dan sebagainya</p>
<p><strong>Bidang personalia murid, yang meliputi antara lain:</strong></p>
<p>1)      Organisasi murid</p>
<p>2)      Masalah kesehatan murid</p>
<p>3)      Masalah kesejahteraan murid</p>
<p>4)      Evaluasi kemajuan murid</p>
<p>5)      Bimbingan dan penyuluhan bagi murid</p>
<p><strong>Bidang personalia guru, meliputi antara lain:</strong></p>
<p>1)      Pengangkatan dan penempatan tenaga guru</p>
<p>2)      Organisasi personel guru</p>
<p>3)      Masalah kepaegawaian</p>
<p>4)      Masalah kondite dan evaluasi kemajuan guru</p>
<p>5)      Refreshing dan up-grading guru-guru</p>
<p><strong>Bidang pengawasan (supervisi), yang meliputi anatara lain:</strong></p>
<p>1)      Usaha membangkitkan semangat guru-guru dan pegawai tata usaha dalam menjalankan tugasnya masing-masing sebaik-baiknya.</p>
<p>2)      Mengusahakan dan mengembangkan kerjasama yang baik antara guru, murid dan pegawai tata usaha sekolah.</p>
<p>3)      Mengusahakan dan membuat pedoman cara-cara menilai hasil-hasil pendidikan dan pengajaran.</p>
<p>4)      Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru pada umumnya.</p>
<p><strong>Bidang pelaksanaan dan pembinaan kurikulum:</strong></p>
<p>1)      Berpedoman dan mengetrapkan apa yang tercantum dalam kuriulum sekolah yang bersangkutan, dalam usaha mencapai dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran.</p>
<p>2)      Melaksanakan organisasi kurikulum beserta metode-metodenya, disesuaikan dengan pembaruan pandidikan dan lingkungan masyarakat.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/konsep-dasar-administrasi-pendidikan/&via=aanchoto&text=Konsep Dasar Administrasi Pendidikan&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/10/konsep-dasar-administrasi-pendidikan/&via=aanchoto&text=Konsep Dasar Administrasi Pendidikan&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/10/konsep-dasar-administrasi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

