<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aan Choto 阿安國德 &#187; Minangkabau</title>
	<atom:link href="http://aanchoto.com/category/minangkabau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aanchoto.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 16:18:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Syekh Muhammad Jamil Jaho, Ulama Pembaru dari Minang</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/09/syekh-muhammad-jamil-jaho-ulama-pembaru-dari-minang/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/09/syekh-muhammad-jamil-jaho-ulama-pembaru-dari-minang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 19:37:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Jaho adalah sebuah daerah kecil yang terletak di bukit Tambangan, antara wilayah perbatasan Aceh, Padang Panjang, dan Tanah Datar, Sumatra Barat. Daerahnya dikenal sejuk dan asri. Di tengah daerah yang indah itu, lahirlah seorang ulama yang sangat kharismatik. Beliau adalah Syekh Muhammad Jamil Jaho, yang kerap dipanggil dengan sebutan Buya Jaho, atau Inyiak Jaho, atau&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-661 alignleft" title="syekh_muhammad_jamil_jaho_duduk_kedua_dari_kiri" src="http://aanchoto.com/wp-content/uploads/2010/09/syekh_muhammad_jamil_jaho_duduk_kedua_dari_kiri.jpg" alt="" width="288" height="208" />Jaho adalah sebuah daerah kecil yang terletak di bukit Tambangan,  antara wilayah perbatasan Aceh, Padang Panjang, dan Tanah Datar, Sumatra  Barat. Daerahnya dikenal sejuk dan asri. Di tengah daerah yang indah  itu, lahirlah seorang ulama yang sangat kharismatik. Beliau adalah Syekh  Muhammad Jamil Jaho, yang kerap dipanggil dengan sebutan Buya Jaho,  atau Inyiak Jaho, atau Angku Jaho.</p>
<p>Syekh Muhammad Jamil Jaho  lahir pada tahun 1875. Ayahnya bergelar Datuk Garang yang berasal dari  Negeri Tambangan, Padang Panjang. Sang ayah pernah menjabat sebagai  Qadhi Tambangan. Sementara ibunya, Umbuik, adalah seorang perempuan yang  disegani di tengah-tengah masyarakat.<span id="more-660"></span><br />
Syekh Muhammad Jamil Jaho  dibesarkan di tengah keluarga yang kuat menjalankan tradisi dan agama.  Masa kecilnya dihiasi dengan nuansa religi yang sangat kental. Latar  belakang keluarga yang alim inilah yang membuatnya senantiasa haus akan  ilmu agama. Ia menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama besar Minang di  zaman itu.</p>
<p>Beliau belajar Alquran dan kitab perukunan  (kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab) dari  ayahnya sendiri. Berkat kecerdasan dan kesungguhannya, pada usia 13  tahun, ia telah hafal Alqur&#8217;an dan isi kitab perukunan.</p>
<p>Melihat  kecerdasan dan kesungguhan Muhammad Jamil, sang ayah lalu berinisiatif  untuk mengajarinya kitab-kitab kuning. Dalam waktu yang relatif singkat,  Muhammad Jamil mampu mencerna maksud yang terkandung dalam kitab kuning  tersebut, dan cakap menguasai bahasa Arab, baik secara lisan atau  tulisan.</p>
<p>Selepas menimba ilmu dari sang ayah, Muhammad Jamil pun  memutuskan pergi menuju halaqah atau majelis ilmu pesantren milik Syeikh  al-Jufri di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Panjang. Selama belajar di  pangkuan Syeikh al-Jufri, Muhammad Jamil menunjukkan ketekunan dan  kecerdasannya sehingga ia pun menjadi murid kesayangan sang guru.</p>
<p>Setelah  menyelesaikan belajar di pesantren Syeikh al-Jufri pada tahun 1893,  Muhammad Jamil melanjutkan pendidikannya ke seorang ulama fikih  terkenal, Syeikh al-Ayyubi di Tanjung Bungo, Padang Ganting. Di  pesantren barunya inilah Muhammad Jamil berteman akrab dengan Sulaiman  ar-Rusuli, yang kelak menjadi seorang ulama terkenal dari tanah Minang.  Keduanya adalah santri yang pandai, dan belajar dengan Syeikh al-Ayyubi  selama enam tahun. Keduanya kemudian melanjutkan mengaji ke Biaro Kota  Tuo, yang pada masa itu merupakan tempat berkumpulnya para ulama besar  Minang.</p>
<p>Pada tahun 1899, Muhammad Jamil dan Sulaiman ar-Rasuli  pindah mengaji ke Syeikh Abdullah Halaban, seorang ulama Minang yang  terkenal mahir dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Di perguruan Syeikh  Halaban inilah Muhammad Jamil dipercaya untuk menjadi seorang pengajar  (ustadz) dan asisten pribadi Syeikh Halaban. Karenanya ia kerap dibawa  serta ke pengajian-pengajian keliling negeri Minang oleh gurunya ini.</p>
<p>Di  tahun 1908, ia berkesempatan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah  haji sekaligus menuntut ilmu agama. Sebelum berangkat ke tanah suci,  Muhammad Jamil dipersuntingkan dengan gadis Tambangan yang bernama  Saidah, yang kelak mengaruniai dua orang puteri bernama Samsiyyah dan  Syafiah.</p>
<p>A Ginandjar Sya&#8217;ban sebagaimana mengutip dari  mukaddimah kitab Tadzkirah al-Qulub karangan Syeikh Jamil Jaho  mengungkapkan bahwa saat di Makkah, Muhammad Jamil berguru kepada Syeikh  Ahmad Khatib Minangkabau, seorang putera Minang yang menjadi imam,  khatib sekaligus mufti mazhab Syafi&#8217;i di Masjidil Haram. Di tanah suci  ini beliau bertemu dan belajar bersama Syeikh Abdul Karim Amrullah  (ayahanda Buya Hamka). Keduanya menjadi murid kesayangan Syeikh Ahmad  Khatib, dan diberi kehormatan untuk membimbing dan mengajar murid-murid  yang lain.</p>
<p>Muhammad Jamil belajar di Makkah selama 10 tahun  lamanya. Selama itu juga ia telah memperoleh tiga ijazah dari tiga orang  ulama besar di Makkah pada zaman itu, yaitu Syeikh Ahmad Khatib  Minangkabau (guru besar madzhab Syafi’i), Syeikh Alwi al-Maliki (guru  besar madzhab Maliki), dan Syeikh Mukhtar al-Affani (guru besar madzhab  Hanbali).</p>
<p>Setelah bermukim 10 tahun lamanya di Makkah, ia  memutuskan untuk kembali ke Padang Panjang. Sekembalinya dari tanah  suci, Syeikh Jamil Jaho menjadi ulama terkenal dan disegani karena  kedalaman ilmunya dan kesolehan pribadinya. Beliau mengajar di Jaho dan  di beberapa daerah di Minangkabau.</p>
<p><strong>Menolak ijtihad</strong></p>
<p>Di  kalangan ulama Minang pada masa itu, Syeikh Jamil Jaho termasuk ulama  yang berpaham pembaharu, namun menolak pola ijtihad yang selama ini  didengung-dengungkan, sekaligus bersikap menerima taqlid kepada  ulama-ulama terdahulu. Sebuah cara berpikir yang bertolak belakang  dengan trend berpikir yang digandrungi oleh ulama muda di masa itu.</p>
<p>Pada  tahun 1922, bersama-sama Syeikh Sulaiman ar-Rusuli dan Syeikh Abdul  Karim Amrullah, beliau mendirikan Persatuan Ulama Minangkabau dan  perguruan Islam Thawalib. Di kampung halamannya Jaho, pada tahun 1924 ia  mendirikan surau dan membuka halaqah pengajian. Muridnya beragam yang  datang. Ada dari Aceh, Jambi, Sumatra Utara, dan Lampung.</p>
<p>Halaqah  yang didirikannya ini kelak berkembang menjadi Madrasah Tarbiyah  Islamiyah Jaho, setelah bergabung dengan Syeikh Sulaiman ar-Rusuli.  Menurut Akhria Nazwar dalam bukunya Syeikh Ahmad Khatib (1983), kedua  tokoh ini sepaham dalam menolak ijtihad dan menolak meninggalkan taqlid  pada ulama. Namun dalam soal tarekat keduanya berbeda paham.</p>
<p>Bersama-sama  dengan Syeikh ar-Rusuli, beliau mengembangkan Madrasah Tarbiyah  Islamiyah ini menjadi sebuah gerakan organisasi Islam dengan nama  Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Duet Syeikh Muhammad Jamil Jaho dan Syeikh  Sulaiman ar-Rusuli menjadi simbol utama ulama tradisional pada masa  itu.</p>
<p>Di kalangan masyarakat Minang saat itu, Syeikh Jamil Jaho  dikenal memiliki sikap netral dalam menghadapi perbedaan pendapat antara  kaum tua dengan kaum muda soal pembaharuan Islam di Minangkabau. Pola  penyebaran dakwah yang beliau terapkan merupakan cara yang dipakai oleh  Syeikh Jamil Jambek, yakni dengan mendatangi kampung-kampung untuk  menyampaikan risalah Islam.</p>
<p>Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengikuti  cara berpikir Syeikh Yusuf Nabhani, yang dikenal anti kepada pemikiran  Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan Rasyid Ridha yang kala itu  banyak diikuti oleh para ulama muda di seluruh penjuru dunia Islam.</p>
<p>Selain  aktif mengajar dan berdakwah, semasa hidupnya Syeikh Muhammad Jamil  Jaho juga gemar menulis. Ulama Minang yang wafat pada tahun 1360 H/1941 M  ini banyak meninggalkan karya berharga yang menjadi suluh ummat di  kemudian hari. Karya-karyanya tersebut antara lain Tadzkiratul Qulub fil  Muraqabah &#8216;Allamul Ghuyub, Nujumul Hidayah, as-Syamsul Lami&#8217;ah, fil  &#8216;Aqidah wa Diyanah, Hujjatul Balighah, al-Maqalah ar-Radhiyah, Kasyful  Awsiyah.</p>
<p>Sosok ulama Minang yang satu ini juga dikenal sebagai  orang yang memiliki peran besar dalam kiprah Muhammadiyah di tanah  Minangkabau. Hadirnya Muhammadiyah di Minangkabau, dan berkembang sampai  di Batipuh tidak lepas dari kepedulian Ayeikh Muhammad Jamil Jaho  bersama Syeikh Muhammad Zain Simabur.</p>
<p>Kedua tokoh ulama Minang  ini di kemudian hari mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi  Islam ini. Keduanya menyatakan mundur setelah mengikuti kongres  Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan pada tahun 1927. Alasannya adalah masih  pada persoalan peluang membuka ijtihad dan menolak taqlid kepada ulama.</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/09/syekh-muhammad-jamil-jaho-ulama-pembaru-dari-minang/&via=aanchoto&text=Syekh Muhammad Jamil Jaho, Ulama Pembaru dari Minang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/09/syekh-muhammad-jamil-jaho-ulama-pembaru-dari-minang/&via=aanchoto&text=Syekh Muhammad Jamil Jaho, Ulama Pembaru dari Minang&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/09/syekh-muhammad-jamil-jaho-ulama-pembaru-dari-minang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jam Gadang, Kini Tanpa Patung Hermes dan Harimau</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/03/jam-gadang-kini-tanpa-patung-hermes-dan-harimau/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/03/jam-gadang-kini-tanpa-patung-hermes-dan-harimau/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 01:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[London boleh bangga punya Big Ben, tapi Bukitinggi boleh lebih berbangga, tak hanya punya Jam Gadang (Jam Besar), tapi juga pemandangan alam yang tak terbandingkan. Tengok saja Ngarai Sianok, dengan Goa/Lubang Jepang-nya. Belum lagi sederet gunung yang melingkari kota ini. Sebagai tengara kota, Jam Gadang setinggi 26 meter ini dibikin oleh putera Bukittinggi, Yazid Sutan&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>London boleh bangga punya Big Ben, tapi Bukitinggi boleh lebih  berbangga, tak hanya punya Jam Gadang (Jam Besar), tapi juga pemandangan  alam yang tak terbandingkan. Tengok saja Ngarai Sianok, dengan  Goa/Lubang Jepang-nya. Belum lagi sederet gunung yang melingkari kota  ini.</p>
<p>Sebagai tengara kota, Jam Gadang setinggi 26 meter ini  dibikin oleh putera Bukittinggi, Yazid Sutan Gigiameh. Dari paparan tim  Rehabilitasi Jam Gadang, disebutkan, Jam Gadang dibangun oleh opzichter  (arsitek) bernama Yazid Abidin (Angku Acik) yang berasal dari Koto  Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.  <span id="more-348"></span></p>
<p>Jam yang  merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Controleur Oud Agam (sekretaris  kota), HR Rookmaker, ini dibangun di “bukit tertinggi” (Bukik Nan  Tatinggi) dan menghadap ke arah Gunung Merapi. Jam Besar ini didatangkan  dari Rotterdam, Belanda, melalui Teluk Bayur (1926). Mesin Jam Gadang  hanya ada dua di dunia, satu lagi tak lain adalah Big Ben.</p>
<p>Pada  paparan tim, disebutkan pula, bangunan tersebut dibuat tanpa menggunakan  besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur,  dan pasir putih.  Ruangan bawah Jam Gadang pernah dimanfaatkan sebagai  loket karcis terminal, pos polisi, dan gudang pada 1970.</p>
<p>Bentuk  klokkentoren, menara jam, demikian Jam Gadang disebut dalam literatur  Belanda, berbentuk empat persegi dengan jam di  masing-masing sisi  puncak. Sebetulnya, di zaman Belanda, toren alias menara itu dibangun  untuk mengintai gerak-gerik pengikut Imam Bonjol semasa Perang Paderi.</p>
<p>Puncak  Jam Gadang mengalami tiga kali perubahan. Semula puncak Jam Gadang  dibuat setengah lingkaran seperti kubah masjid. Di atasnya dipasang  patung ayam jago, menghadap arah timur, yang sedang berkokok. Sengaja  dibikin demikian untuk menyindir masyarakat Agam Tuo yang kesiangan,  demikian ditulis Zulqayyim dalam buku “Kota Lama Kota Baru: Sejarah  Kota-kota di Indonesia”.</p>
<p>Di zaman Jepang, puncak Jam Gadang  berubah lagi. Sesuai selera Jepang. Maka Jam Gadang di zaman Jepang  berbentuk atap bertingkat menyerupai Pagoda. Di masa kemerdekaan, atap  itu diganti dengan gonjong rumah adat seperti rumah adat Minangkabau.</p>
<p>Di  masa awal, di sisi kanan dari taman Jam Gadang ini (berhadapan dengan  Jam Gadang sisi depan) terdapat Patung Hermes di atas semacam  tiang/tonggak dan juga patung harimau. Namun sudah tak terlacak lagi ke  mana kedua patung itu dan kapan mereka hilang.</p>
<p>Dalam pertemuan  antara Wakil Rektor Universitas Bung Hatta, Padang, Eko Alvarez, dengan  rombongan dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) yaitu dewan  pimpinannya, Pia Alisjahbana dan Han Awal, serta Direktur Eksekutif  BPPI, Catrini Kubontubuh; serta arkeolog Hardini Sukmono, persoalan  Hermes juga mengemuka.</p>
<p>Bahkan kemudian dalam acara Sosialisasi  Rehabilitasi Jam Gadang di Bukittinggi beberapa waktu lalu, masalah  keberadaan kedua patung itu juga diangkat. Namun tentu saja jawabannya  tak bisa langsung didapat. Salah satu tetua adat menyatakan, harimau  adalah perlambang Agam.</p>
<p>Angka empat pada Jam Gadang yang  menggunakan sistem Romawi, juga sering disinggung dengan urusan mistik.  Angka empat pada sistem penomoran Romawi harusnya ditulis IV namun pada  Jam Gadang, angka empat ditulis IIII. Beberapa sumber menyebutkan,  penomoran itu dimungkinkan karena si pembuat tak terlalu paham dengan  sistem angka Romawi atau memang sengaja dibikin demikian agar tak  membingungkan jika angka-angka itu menghadap ke luar, bukan menghadap ke  arah jam (arah dalam). Di luar urusan angka jam, kesahalan tulis  seperti itu sering terjadi di belahan dunia manapun, seperti angka 9  yang ditulis VIIII (harusnya IX) atau angka 28 yang ditulis XXIIX  (seharusnya XXVIII).</p>
<p>Jam ini masih tetap beroperasi. Dentingnya  masih bisa didengar setiap jam. Bahkan kini, dari puncaknya juga akan  selalu terdengar suara pengawas mengingatkan warga agar tak membuang  sampah sembarangan. Di masa puasa, denting jam ini juga berfungsi  sebagai penanda imsak dan berbuka puasa.</p>
<p>Memang, tempat sampah  mudah sekali ditemukan di taman sekitar Jam Gadang. Alhasil, taman ini  terlihat bersih. Dan tak ada bau pesing di sana. Pasalnya, taman mungil  ini juga dilengkapi dengan WC umum. Kini WC umum itu sedang direnovasi.</p>
<p>Saat  pertama Jam Gadang dibangun, 1926,  lingkungan sekitar tak ketinggalan  ikut dihidupkan. Ada terminal bus, bangunan kantor Asisten Residen  Afdeeling Padangsche Bovenlanden – kini jadi kompleks Istana Negara Bung  Hatta. Di sisi barat, pom bensin, kantor polisi, dan kantor Controleur  Oud Agam. Tempat perhentian bendi atau dokar pun disiapkan. Kemudian tak  jauh dari perhentian bendi terdapat Loih Galuang serta beberapa loods  (los), orang Minangkabau menyebut loih, lain.</p>
<p>Loih Galuang (Los  Melengkung) dibangun pada 1890. Los lain juga dibangun untuk pedagang  kelontong, kain, juga daging dan ikan. Penataan pasar dilakukan di awal  abad 20 oleh Sekretaris Kota Agam Tuo (Controleur Oud Agam) LC  Westenenk.</p>
<p>Bukittinggi, kota kelahiran Proklamator RI, Bung  Hatta, di masa Jepang, menjadi pusat pengendalian militer untuk kawasan  Sumatera. Nama Stadsgemeente Fort de Kock diubah menjadi Bukittinggi Si  Yaku Sho. Di masa perjuangan kemerdekaan, kota ini ditunjuk sebagai Ibu  Kota Pemerintahan Darurat RI setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda  pada 1948-1949. Kota ini juga pernah ditetapkan sebagai ibu kota  provinsi Sumatera dan Sumatera Tengah. Di Sadur dari Kompas.com</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/03/jam-gadang-kini-tanpa-patung-hermes-dan-harimau/&via=aanchoto&text=Jam Gadang, Kini Tanpa Patung Hermes dan Harimau&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/03/jam-gadang-kini-tanpa-patung-hermes-dan-harimau/&via=aanchoto&text=Jam Gadang, Kini Tanpa Patung Hermes dan Harimau&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/03/jam-gadang-kini-tanpa-patung-hermes-dan-harimau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukittinggi, Fort de Kock, Berawal dari Pasar</title>
		<link>http://aanchoto.com/2010/03/bukittinggi-fort-de-kock-berawal-dari-pasar/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2010/03/bukittinggi-fort-de-kock-berawal-dari-pasar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 01:32:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aanchoto.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Parijs van Sumatra adalah sebutan dua kota di Sumatera pada masa kolonial. Di pulau Jawa, Bandung-lah yang mendapat julukan Parijs van Java. Tak lain karena pemandangan nan indah, pegunungan, berkelok-kelok, dan cuaca yang sejuk. Di Pulau Sumatera, Medan (Sumatera Utara) dan Bukittinggi (Sumatera Barat) mendapat julukan seperti tersebut di atas. Kali ini, giliran Parijs van&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Parijs van Sumatra adalah sebutan dua kota di Sumatera pada masa  kolonial. Di pulau Jawa, Bandung-lah yang mendapat julukan Parijs van  Java. Tak lain karena pemandangan nan indah, pegunungan, berkelok-kelok,  dan cuaca yang sejuk. Di Pulau Sumatera, Medan (Sumatera Utara) dan  Bukittinggi (Sumatera Barat) mendapat julukan seperti tersebut di atas.  Kali ini, giliran Parijs van Sumatra yang di Bukittinggi. Kota dengan  liukan pegunungan nan elok, pemandangan hijau royo-royo, ngarai, serta  Tri Arga (tiga gunung) yaitu Gunung Merapi – gunung tertinggi di  Sumatera Barat – Gunung Singgalang, dan Sago.</p>
<p>Sebenarnya tak  hanya tiga gunung itu yang mengelilingi Bukittinggi. Tapi ada 27 bukit  lain yang membuat Bukittinggi begitu sejuk dan cantik. Istana Negara di  kota ini juga dinamakan Tri Arga dan kemudian menjadi Istana Negara Bung  Hatta.<span id="more-346"></span></p>
<p>Bukittinggi ada di 91 km sebelah utara kota pesisir  Padang di mana terdapat Pelabuhan Teluk Bayur dan Bandar Udara Tabing.  Untuk menuju ke Bukittinggi yang berada di dataran tinggi, baik jalan  raya maupun jalur kereta api harus melalui banyak tanjakan dan tikungan.  Belanda sudah membangun jalan raya Padang-Bukittinggi pada 1833  sedangkan jalur kereta api pada 1890. Seperti di Ambarawa, jalur kereta  api Padang-Bukittinggi juga mempunya tiga rel karena jalur tersebut  menanjak.</p>
<p>Kini, jalur kereta api sudah berganti dengan bus tapi  jalur kereta api masih bisa terlihat mengular. Sayangnya semua itu  tinggal kenangan.</p>
<p>Tiba di Bukittinggi, siapapun yang terbiasa  hidup dengan cuaca Jakarta pasti akan sedikit bergidik. Suhu udara  berkisar antara 19-23 derajat Celcius. Sejuk sangat, dengan udara yang  masih bersih, langit siang hari yang begitu cerah. Suasana dan cuaca di  pagi hari, sekitar pukul 07.30, masih terasa sepi, tenang, nyaman,  sejuk. Berbeda dengan Jakarta yang tak pernah berhenti dari kesibukan  dengan polusi yang bikin langit Jakarta seakan mendung.</p>
<p>Sebagai  Parijs van Sumatra &#8211; dengan pemandangan elok, maka wisatawan yang datang  ke tempat ini pasti tak akan melewatkan Ngarai Sianok. Decak kagum  pastilah keluar dari mulut siapapun yang pertama kali melihat Ngarai  Sianok yang berkelok-kelok dengan Sungai Batang Sianok mengalir di  dasarnya.</p>
<p>Dalam Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-kota di  Indonesia, Zulqayyim, staf pengajar jurusan sejarah Fakultas Sastra  Universitas Andalas, Padang, menulis tentang “Pembangunan Infrastruktur  Kota Bukittinggi Masa Kolonial Belanda”. Dalam tulisan itu ia  menyertakan sejarah berdirinya Bukittinggi yang dimulai dari sebuah  pasar yang didirikan dan dikelola oleh para penghulu Nagari Kurai.</p>
<p>Pada  awalnya pasar, atau orang Minangkabau menyebutnya sebagai pakan, itu  hanya dibuka tiap Sabtu, setelah makian ramai, maka ditambah dengan hari  Rabu. Karena pasar itu terletak di salah satu bukik nan tatinggi (bukit  yang tertinggi) maka kemudian jadilah sebutan Bukittinggi untuk pasar  sekaligus Nagari Kurai itu. Nama pasar itu kini menjadi Pasar Atas  (Pasar Ateh) dan berada di jantung kota ini.</p>
<p>Dalam referensi lain  disebutkan, pasar tersebut berdiri di atas tempat bernama Bukik  Kubangan Kabau. Pada tahun 1820 diadakan pertemuan adat suku Kurai untuk  mengganti nama Bukik Kubangan Kabau menjadi Bukik Nan Tatinggi. Nama  bukik (bukit) yang terakhir itulah yang kemudian menjadi Bukittinggi.  Nama Pasar Kurai menjadi Pasar Bukittinggi.</p>
<p>Bagi Belanda,  setelah perjanjian Plakat Panjang 1833, menjadikan pusat kegiatan  ekonomi Fort de Kock. Nagari Kurai adalah salah satu nagari yang ada di  daerah Luhak (kabupaten) Agam dan terdiri atas Lima Jorong. Jauh sebelum  kedatangan Belanda di Dataran Tinggi Agam, 1823, Pasar Bukittinggi  sudah ramai didatangi penduduk.</p>
<p>Pada sekitar 1825-1826, Kepala  Opsir Militer Belanda untuk Dataran Tinggi Agam, Kapten Bauer,  mendirikan benteng Fort de Kock di Bukit Jirek – 300 meter sebelah utara  Pasar Bukitinggi. Nama Fort de Kock diambil dari nama Komandan Militer  dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda Baron Hendrik Markus de Kock.  Benteng itu dibangun untuk membantu Kaum Adat menghadapi Kaum Paderi  (Agama). Sejak itu pemerintah Hindia Belanda menyebut kawasan itu  sebagai Fort de Kock sedangkan warga Minangkabau tetap menyebut  Bukittinggi. Thaks for kompas.com sebagai tambahan referensi bacaan saya</p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/03/bukittinggi-fort-de-kock-berawal-dari-pasar/&via=aanchoto&text= Bukittinggi, Fort de Kock, Berawal dari Pasar&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2010/03/bukittinggi-fort-de-kock-berawal-dari-pasar/&via=aanchoto&text= Bukittinggi, Fort de Kock, Berawal dari Pasar&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2010/03/bukittinggi-fort-de-kock-berawal-dari-pasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Bingkudu di Candung, Kabupaten Agam</title>
		<link>http://aanchoto.com/2008/10/masjid-bingkudu-di-candung-kabupaten-agam/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2008/10/masjid-bingkudu-di-candung-kabupaten-agam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 02:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Mulai ”Tergusur” Perkembangan Zaman Menyigi Masjid-masjid Bersejarah yang Hampir ”Terlupakan” Keberadaan Masjid tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di Minangkabau. Sebab sebagai salah satu tempat ibadah, masjid merupakan bangunan suci yang mesti ada pada suatu daerah ataupun perkampungan yang berpenduduk muslim. Sampai saat ini, jumlah masjid yang tercatat di Departemen Agama Provinsi Sumbar, sekitar 5.682&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/masjid-raya-bingkudu.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-251" title="masjid-raya-bingkudu" src="http://aan4choto.files.wordpress.com/2008/10/masjid-raya-bingkudu.jpg?w=117" alt="" width="117" height="96" /></a>Mulai ”Tergusur” Perkembangan Zaman<br />
<em><strong><span style="font-size:11pt;">Menyigi Masjid-masjid Bersejarah yang Hampir ”Terlupakan”</span></strong></em><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal">Keberadaan Masjid tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di Minangkabau. Sebab sebagai salah satu tempat ibadah, masjid merupakan bangunan suci yang mesti ada pada suatu daerah ataupun perkampungan yang berpenduduk muslim.</p>
<p class="MsoNormal">Sampai saat ini, jumlah masjid yang tercatat di Departemen Agama Provinsi Sumbar, sekitar 5.682 unit. Dari jumlah itu, cukup banyak masjid-masjid bersejarah, bahkan berumur ratusan tahun, yang nyaris terlupakan. Karena di samping gencarnya pembangunan masjid-masjid baru, kurangnya perawatan dan renovasi, membuat “surau-surau” tua itu tenggelam dimakan usia.</p>
<p class="MsoNormal">Padahal dulu, selain sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan tempat  belajar. Tak jarang, para alim ulama, cerdik pandai, dan tokoh-tokoh besar negeri ini lahir dididik di masjid. Mulai dari belajar tentang agama, adat istiadat, ilmu beladiri silat, tempat musyawarah, serta banyak kegunaan positif lainnya.<span id="more-239"></span></p>
<p class="MsoNormal">Jadi saat itu, masjid tidak saja diramaikan golongan tua-tua saja, tetapi merupakan tempat berkumpul anak-anak muda. Bahkan para lelaki Minangkabau juga memiliki pantangan tidur di rumah setelah mulai baligh. Rumah hanya di tempati pada siang hari, setelah sekolah dan menolong orangtua, biasanya “bujang-bujang” Minangkabau melanjutkan aktivitasnya di masjid.</p>
<p class="MsoNormal">Sesuai dengan falasafah yang dipegang teguh masyarakat “Adat Basandi Sara’ Sara’ Basandi Kitabbullah’, maka tak urung lagi, bahwa sejak dulu penduduk Minangkabau dikenal sebagai orang yang taat beragama dan teguh memegang adat. Namun kalau nostalgia itu dibawa pada kondisi sekarang, sepertinya tinggal sedikit yang tersisa.</p>
<p class="MsoNormal">Akan sangat jarang sekali, ditemukan anak muda yang tidur di surau, mempelajari agama, menghidupkan masjid dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Atau sedikit sekali terlihat orangtua yang menyuruh anak-anaknya menjadi remaja masjid, yang selalu ke masjid untuk beribadah dan belajar. Tetapi tidak akan sulit menemukan mereka di tempat-tempat hiburan, plaza-plaza, supermarket, serta pusat-pusat keramaian lainnya.</p>
<p class="MsoNormal">Apakah masjid di Sumbar ini sudah mulai “lapuk”, tergerus seiring perkembangan zaman? Lapuk, di sini tentu mempunyai pengertian yang cukup luas, tidak saja lapuk pada tatanan fisik, tapi juga “lapuk” dalam aspek nonfisik. Dan yang cukup memilukan adalah masjid-masjid yang lapuk, kedua-duanya, fisik dan non fisik.</p>
<p class="MsoNormal">Dari penelusuran Padang Ekspres, bersama Padang TV pada beberapa daerah di Sumbar, ternyata cukup banyak ditemukan kondisi masjid yang kurang mendapat perhatian. Seperti Masjid Syech Daud, yang terletak di Nagari Malampah Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman Barat. Masjid yang mempunyai nilai sejarah cukup tinggi ini, nyaris terlupakan keberadaannya. Padahal, masjid yang didirikan pada tahun 1890, mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan ajaran Islam di daerah tigo nagari.</p>
<p class="MsoNormal">Nama Syech Daud sendiri, diambil dari nama pendiri masjid, yaitu seorang ulama besar Sumbar, yang berasal dari Nagari Malampah. Ada hal cukup unik terlihat, saat masuk ke dalam masjid yang terdiri dari 10 buah tiang, 6 jendela. Dimana akan ditemukan bendera merah putih terpasang di sekeliling dinding masjid. Menurut cerita masyarakat sekitar, bendera tersebut dijahid murid-murid Syech Daud. Namun sayangnya sampai kini tidak ada masyarakat yang mengerti makna pemasangan kain merah putih itu.</p>
<p class="MsoNormal">Menurut Abdullah Hukum, ulama pada daerah Durian Gunjo, bendera itu sudah terpasang sejah tahun 1926. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia di proklamirkan, bahkan dua tahun sebelum pelaksanaan kongres pemuda pertama tahun 1928. “Kain merah putih itu di pasang dua lapis. Bahagian luarnya memang sudah agak kusam, tetapi yang di dalam masih bewarna terang. Namun sayang kami tidak mengetahui makna dari pemasagan kain yang menyerupai bendera merah putih,” katanya.</p>
<p class="MsoNormal">Masjid yang telah berumur lebih dari satu abad ini kendatipun masih terlihat kokoh, namun dinding dan tiang-tiangnya sudah mulai lapuk dimakan usia. Sedangkan masyarakat dengan swadaya sendiri hanya mampu memelihara seadanya. Sampai sekarang aktivitas keagamaan pada masjid satu-satunya di Jorong Siparayo, Durian Gunjo tetap berlanjut. Seperti untuk shalat Jumat, wirid, pengajian, tadarus, ataupun untuk shalat tarwih.</p>
<p class="MsoNormal">“Agar masjid ini senantiasa terawat dan terjaga, kami sangat mengharapkan uluran dari semua pihak. Sehingga keaslian dan nilai sejarah yang dimiliki masjid ini tidak tenggelam seiring dengan waktu,” ucap Wali Nagari Malampah, Asri Nur yang waktu itu ikut menemani.</p>
<p class="MsoNormal">Selain di Pasaman, pada Nagari Candung, Kecamatan Agam juga terdapat sebuah masjid kuno, yang masih bisa dinikmati sampai saat ini, yakni Masjid Bingkudu. Menurut cerita masyarakat sekitar, masjid ini dibangun pada tahun 1813 yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh tujuh nagari. Ketujuh nagari itu adalah Canduang, Koto Lawas, Lasi Mudo, Pasanehan, bukit batabuah, Lasi Tuo.</p>
<p class="MsoNormal">Masyarakat secara bersama-sama membangun masjid seluas 21 x 21 M dengan tinggi 37,5 meter ini. Menariknya hampir semua material yang pergunakan untuk membuat tempat beribadah ini berasal dari kayu, baik lantai, dinding, maupun tiang-tiangnya. Sedangkan atapnya yang berundak tiga, terbuat dari susunan ijuk.</p>
<p class="MsoNormal">Bangunan ini saat didirrikan memakai sistem pasak. Artinya tidak satupun dari komponen penyusun masjid ini yang dilekatkan satu sama lain dengan menggunakan paku. Lampu-lampu minyak yang yang terpajang pada setiap sudut masjid rata-rata juga sudah menjadi barang antik, karena telah berumur ratusan tahun.</p>
<p class="MsoNormal">Pekarangan di sekitar masjid cukup indah. Tiga kolam ikan, serta satu kolam besar untuk berwudhuk membuat kesan masjid yang cukup jauh dari pemukiman penduduk itu semakin alami. Dulunya air untuk berwudhuk dialirkan dengan bambu sepanjang 175 meter dari kelurahan. Namun sekarang untuk memperlancar aliran air, salurannya diganti dengan pipa besi.</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, pada pekarangan masjid juga terdapat sebuah menara denga ketinggian 30 meter. Seperti kebanyakan masjid yang ada, menara ini digunakan untuk mengumandangkan azan, terutama saat belum ada pengeras suara. Sementara di halaman masjid terdapat makam Syech Ahmad Thaher, pendiri sekolah pendidikan Islam yang lebih dikenal dengan MUS (Madrasah Ulumi Syriah). Ia meninggal sekitar 13 Juli 1960.</p>
<p class="MsoNormal">Pada tahun 1957, atap masjid yang terbuat dari ijuk, diganti masyarakat dengan seng. Itu dilakukan karena ijuk yang yang mengatapai ruangan masjid dari hujan dan panas telah lapuk. Dua tahun kemudian dilakukan renovasi dan pemugaran terhadap bangunan masjid yang lainnya.</p>
<p class="MsoNormal">Menurut Kepala KUA Candung, Ramza Husmen yang ikut langsung meninjau Masjid Bingkudu mengatakan pada tahun 1999, masjid ini diserahkan kepada Pemkab Agam, dan ditetapkan sebagai salah satu bangun cagar budaya di Agam. Dua tahun setelah itu, masjid mengalami pemugaran secara keseluruhan. “Atapnya yang dulu seng dikembalikan ke ijuk. Kemudian bagian-bagian yang lapuk diganti dan serta dicat lagi sebagaimana aslinya,” kata Ramza.</p>
<p class="MsoNormal">Aktivitas keagamaan tetap berlangsung di tempat ini. Baik untuk shalat berjamaah setiap hari, shalat Jumat, serta ibadah lainnya. Apalagi saat bulan Ramadhan kali ini, intensitas kunjungan masyarakat terhadap masjid sangat tinggi. Hanya saja seperti yang diingikan warga, perhatian pemerintah berlangsung secara kontiniu.</p>
<p class="MsoNormal">Seperti sekarang beberapa bagian dari bangunan pasca direnovasi tahun 1992, juga haru mendapat pembenahan lagi. “Warga juga telah melakukan perbaikan, tetapi memang semampunya. Kami ingin masjid ini bisa dinikmati sampai kapanpun sebagai tempat beribadah,” pungkas Ramza.</p>
<p class="MsoNormal">Di Kota Padang, selain Masjid Raya Gantiang juga terdapat masjid kuno lainnya yang didirikan sekitar tahun 1750 M. Masjid yang berada di sekitar kawasan Batang Arau itu bernama Masjid Nurul Huda. Batang Harau sejak ratusan tahun lalu memang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu. Sampai saat ini pun kita masih bisa melihat deretan bangunan-bangunan kuno yang berjejer sepanjang sisinya.</p>
<p class="MsoNormal">Masjid ini sepertinya hampir luput dari perhatian warga Kota Padang. Setelah ratusan tahun berada di hiliran Batang Arau, memberikan pengajian pada warga sekitar, namun sampai sekarang belum masuk dalam salah satu cagar budaya, di Kota Padang.</p>
<p class="MsoNormal">Ini mungkin terjadi, karena bangunannya sudah tidak asli lagi. Memang, sejak tahun 1960-an bangunan asli Masjid Nurul Huda yang berbahan kayu diganti dengan semen. Sama seperti fungsi masjid pada zaman dulu, selain tempat beribadah, juga sebagain tempat menimba ilmu.</p>
<p class="MsoNormal">Cukup banyak imam-imam langsung mengajarkan agama kepada di masjid ini, terakhir adalah Imam Abdul Wahab. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1940, imam yang lahir tahun 1880 ini mengabdikan dirinya untuk mengajarkan Islam kepada  masyarakat, terutama tentang masalah ketauhidan.</p>
<p class="MsoNormal">Usman rajo Lelo (80), salah seorang anak didik Imam Abdul wahab yang masih hidup saat ini, mengaku masih mengingat jelas cara mengajar yang diterapkan Imam Abdul Wahab. “Kami belajar mengaji setiap selesai Shalat Magrib hingga selesai waktu shalat Isya. Cara imam mengajar kami sangat khas. Setiap ayat-ayat Alquran dilantunkan dengan irama yang menawan. Sehingga anak-anak yang belajar saat itu sangat menyenangi pelajaran mengaji. Setelah mengaji para anak laki-laki belajar silat hingga tengah malam,” terang Usman.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan jumlah masjid di Sumbar yang mencapai 4.682 unit, masjid-masjid kuno yang mempunyai nilai penting baik dari segi sejarah dan pengembangan Islam, tentu tidaklah seberapa. Namun kesadaran semua pihak untuk melestarikan dan memberdayakan masjid yang ada adalah keharusan.</p>
<p class="MsoNormal">Di sisi lain, kembali ke masjid harus diarifi semua tidak saja dengan ucapan tetapi juga perbuatan. Yakni menjadikan masjid sebagai tempat belajar dan sumber ilmu. Pengembangan perpustakaan masjid, pendirian pusat-pusat kajian Islam, mengharuskan setiap masjid memiliki TPA dan TPSA, merupakan hal yang harus dilakukan. Kalau tidak, masjid tentunya akan “lapuk” tidak saja ditelan waktu, tetapi juga ditelan perkembangan zaman.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a href="http://candaung.wordpress.com/">Sumber : http://candaung.wordpress.com/</a></p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/masjid-bingkudu-di-candung-kabupaten-agam/&via=aanchoto&text=Masjid Bingkudu di Candung, Kabupaten Agam&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/masjid-bingkudu-di-candung-kabupaten-agam/&via=aanchoto&text=Masjid Bingkudu di Candung, Kabupaten Agam&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2008/10/masjid-bingkudu-di-candung-kabupaten-agam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Songket Canduang Tersimpan Di Museum California</title>
		<link>http://aanchoto.com/2008/10/songket-canduang-tersimpan-di-museum-california/</link>
		<comments>http://aanchoto.com/2008/10/songket-canduang-tersimpan-di-museum-california/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 01:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Choto 阿安國德</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aan4choto.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Padang (ANTARA News) &#8211; Kain tenun tradisional Songket Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), disebut sebagai salah satu tenun terbaik di dunia, namun sudah sangat langka dan ada tersimpang di Museum Tekstil di California, Amerika Serikat, Belanda dan para kolektor. Pernyataan itu, disampaikan peneliti sekaligus kolektor kain tenun tradisional dunia asal Swiss Ben Hard, kata&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Padang (ANTARA News) &#8211; Kain tenun tradisional Songket Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), disebut sebagai salah satu tenun terbaik di dunia, namun sudah sangat langka dan ada tersimpang di Museum Tekstil di California, Amerika Serikat, Belanda dan para kolektor.</p>
<p>Pernyataan itu, disampaikan peneliti sekaligus kolektor kain tenun tradisional dunia asal Swiss Ben Hard, kata Direktur Biro Perjalanan Wisata &#8220;Sumatera and Beyond&#8221;, Ridwan Tulus kepada ANTARA di Padang, Minggu.</p>
<p>Hal itu disampaikannya, saat mendampingi 15 wisatawan juga kolektor kain tenun tradisional dunia dari Amerika Serikat (AS) ke Canduang, Agam, untuk mengunjungi daerah asal songket Canduang.<span id="more-244"></span></p>
<p>Ke-15 kolektor AS itu datang ke Sumbar untuk mengunjungi lokasi pembuatan tenun tradisional Minangkabau dalam paket wisata &#8220;10 days from west to north textile tour Sumatra&#8221; digelar &#8220;Sumatra and Beyond&#8221;, 27 Agustus hingga 5 September 2008 di Sumatera Barat dan Sumatera Utara.</p>
<p>Ia mengatakan, informasi dari salah seorang kolektor AS itu, yakni Mary Conners asal California menyebutkan di museum tekstil dunia di California tersimpan songket Canduang, sehingga dirinya dan 14 kolektor lainnya tertarik mengunjungi Canduang.</p>
<p>Menurut para kolektor itu, tambahnya, songket Canduang sudah sangat langka dan termasuk yang terbaik di dunia, karena memeliki motif bercerita dan sangat sulit dalam pembuatannya.</p>
<p>Atas informasi ini, kata Ridwan, Sumatra and Beyond optimis paket wisata &#8220;10 days from west to north textile tour Sumatra&#8221; akan sangat menarik bagi kolektor dunia untuk mengunjungi Sumbar.</p>
<p>&#8220;Ini potensi wisata luar biasa yang selama ini belum tergarap dan calon wisatawannya cukup banyak, terutama dari AS dan Eropa berupa para kolektor yang merupakan kalangan ekonomi papan atas,&#8221; tambahnya.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber : <a href="http://antara.co.id/">http://antara.co.id/</a></p>
<div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/songket-canduang-tersimpan-di-museum-california/&via=aanchoto&text=Songket Canduang Tersimpan Di Museum California&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div><div style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://twitter.com/share?url=http://aanchoto.com/2008/10/songket-canduang-tersimpan-di-museum-california/&via=aanchoto&text=Songket Canduang Tersimpan Di Museum California&related=:&lang=en&count=horizontal" class="twitter-share-button">Tweet</a><script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aanchoto.com/2008/10/songket-canduang-tersimpan-di-museum-california/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

